Tata Cara Salat Bagian Keempat Berdasarkan Buku Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah Jilid 3 halaman 528 – 555.
Seri Tulisan Tata Cara Salat
- Tata Cara Salat Bagian Pertama
- Tata Cara Salat Bagian Kedua
- Tata Cara Salat Bagian Ketiga
- Tata Cara Salat Bagian Keempat
- Tata Cara Salat Bagian Kelima
- Tata Cara Salat Bagian Keenam
Tulisan ini akan terbagi menjagi beberapa bagian. Selamat mengikuti Bagian Keempat dari Tata Cara Salat menurut HPT.
Berdasarkan Buku Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah Jilid 3 halaman 556 – 566
g) Ketika bersujud membaca doa,
Bacaan pertama
سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي
SUBHAANAKALLOHUMMA ROBBANAA WA BIHAMDIKA, ALLOHUMMAGH-FIRLII’
Mahasuci Engkau Ya Allah, Rabb kami dengan memuji-Mu, Ya Allah, ampunilah aku. (Muttafaqun ‘alaih). [HR. Bukhari, no. 817 dan Muslim, no. 484]
Bacaan kedua
سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى
سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى
SUBHAANA ROBBIYAL A’LAA
SUBHAANA ROBBIYAL A’LAA
SUBHAANA ROBBIYAL A’LAA
Maha suci Rabbku Yang Maha tinggi. 3x. (HR. Muslim, no. 772 dan Abu Daud, no.871)
Bacaan ketiga
سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوحِ
SUBBUHUN QUDDUUS, ROBBUL MALAA-IKATI WAR RUUH
Mahasuci, Maha Quddus, Rabbnya para malaikat dan ruh–yaitu Jibril). (HR. Muslim, no. 487).
Bacaan tasbih dalam rukuk dan sujud itu tidak hanya dibaca satu kali akan tetapi bisa lebih dari satu kali, akan tetapi tidak berlebih-lebihan. [HR. Aḥmad, Abū Dāwūd dan an-Nasā’ī dengan sanad yang baik].
Orang yang salat sendirian (munfarid) boleh menambah bacaan tasbih menurut keinginannya, dan bagi seorang imam boleh memanjangkan bacaan tasbih di dalam rukuk dan sujud asal tidak memberatkan makmum.
Catatan tambahan:
Sewaktu rukuk dan sujud Nabi Muhammad Saw, tidak membaca Al Quran.
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَإِنِّى نُهِيتُ أَنْ أَقْرَأَ الْقُرْآنَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ عَزَّ وَجَلَّ وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِى الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ
“Ketahuilah, aku dilarang untuk membaca al-Qur’an dalam keadaan ruku’ atau sujud. Adapun ruku’ maka agungkanlah Rabb azza wa jalla, sedangkan sujud, maka berusahalah bersungguh-sungguh dalam doa, sehingga layak dikabulkan untukmu.” (HR. Muslim no. 479)
13. Bangun dari Sujud untuk Duduk Iftirasy Sambil Membaca Takbir (Tanpa Mengangkat Tangan) dan Ketika Duduk Membaca Dْoa.
Adapun duduk iftirasy (duduk di antara dua sujud) adalah
– menjulurkan telapak kaki kiri ke kanan dan pantat duduk di atasnya
– sementara telapak kaki kanan ditegakkan dengan jari-jari kaki ditekuk dan ujungnya mengarah ke kiblat. [HR. Ibnu Khuzaimah 1/343. Al A’zhomi mengatakan bahwa sanad riwayat ini shahih]
– meletakkan telapak tangan kanan di atas ujung paha kanan dekat dengan lutut dan telapak tangan kiri di atas ujung paha kiri dekat dengan lutut,
– dengan jari-jari tangan sedikit direnggangkan dan diarahkan ke kiblat serta
– ujung-ujung jari sampai ke lutut. [HR. Tirmidzi no. 292. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa riwayat ini shahih]
Setelah membaca do’a ketika sujud kemudian bangun dari sujud untuk duduk iftirasy sambil membaca takbir (tanpa mengangkat tangan), dan ketika duduk membaca doa:
Doa duduk di antara dua sujud
اَللّهُمَّ اغْفِرْلِى وَارْحَمْنِى وَاجْبُرْنِى وَاهْدِنِى وَارْزُقْنِى
ALLAAHUMMAGH FIRLII WARHAMNII, WAJBURNII, WAHDINII, WARZUQNII.
Ya Allah ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupilah aku, tunjukilah aku, dan berilah rizki untukku. (HR. Tirmidzi no.284).
Setelah duduk di antara dua sujud dan membaca do’a di ataa, maka kemudian membaca takbir lalu sujud (tanpa mengangkat tangan) untuk kedua kalinya dan membaca doa seperti pada sujud pertama.
Bacaan pertama
سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي
SUBHAANAKALLOHUMMA ROBBANAA WA BIHAMDIKA, ALLOHUMMAGH-FIRLII’
Mahasuci Engkau Ya Allah, Rabb kami dengan memuji-Mu, Ya Allah, ampunilah aku.” (Muttafaqun ‘alaih). [HR. Bukhari, no. 817 dan Muslim, no. 484]
Bacaan kedua
سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى
سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى
SUBHAANA ROBBIYAL A’LAA
SUBHAANA ROBBIYAL A’LAA
SUBHAANA ROBBIYAL A’LAA
Maha suci Rabbku Yang Maha tinggi. 3x. (HR. Muslim, no. 772 dan Abu Daud, no.871)
Bacaan ketiga
سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوحِ
“SUBBUHUN QUDDUUS, ROBBUL MALAA-IKATI WAR RUUH
Mahasuci, Maha Quddus, Rabbnya para malaikat dan ruh–yaitu Jibril–).” (HR. Muslim, no. 487)
14. Bangun dari Sujud Seraya membaca Takbir (tanpa mengangkat tangan) dan duduk –seperti duduk iftirasy ̶ sebentar, lalu berdiri untuk rakaat yang kedua dengan menekankan telapak tangan pada tempat sujud.
Setelah melakukan sujud yang kedua pada rakaat pertama sebagaimana dijelaskan di atas, maka kemudian bangkitlah dari sujud seraya membaca takbir (tanpa mengangkat tangan) dan duduklah sejenak – seperti duduk iftirasy ̶ lalu berdirilah untuk rakaat yang kedua dengan menekankan telapak tangan pada tempat sujud. [HR al-Bukhārī, at-Turmużī, an- Nasā’ī dan Abū Dāwūd].
Bacaan takbir dan gerakan bangkit dari sujud dilakukan seperti takbir lainnya dengan tidak memanjangkan lām jalalah-nya (tidak memanjangkan ucapan “Allāhu akbar” secara berlebihan). Ketika mengucapkan takbir tidak disertai mengangkat tangan. Artinya berdiri menuju rakaat genap takbir tidak disertai mengangkat kedua tangan.
Mengangkat tangan dalam salat dilakukan pada empat tempat, yaitu: (1) saat takbiratul ihram, (2) saat hendak rukuk, (3) saat bangkit dari rukuk, dan (4) saat berdiri dari tasyahud awal ke rakaat ketiga. [HR al-Bukhārī, at-Turmużī, an- Nasā’ī dan Abū Dāwūd].
15. Melaksanakan Rakaat Kedua.
Pada rakaat kedua, setelah bangkit dan berdiri dari sujud kedua pada rakaat pertama, lakukanlah praktik salat seperti yang dilakukan pada rakaat pertama, hanya saja tanpa membaca doa iftitah. Artinya lakukan seperti yang dilakukan pada angka 4, dan angka 6 sampai angka 15. Adapun angka 5, yaitu membaca doa iftitah, tidak dilakukan pada rakaat kedua.
Dengan kata lain, pada rakaat kedua, setelah berdiri dari sujud dengan lurus, letakkanlah kedua tangan di atas dada, kemudian bacalah taawuz, basmalah, surat al-Fatihah dan lanjutkan dengan membaca surat atau ayat al-Quran seperti dilakukan pada rakaat pertama.
Kemudian lakukanlah gerakan-gerakan (rukuk, iktidal, sujud pertama, duduk iftirasy, sujud kedua) dan bacaan-bacaannya seperti yang dilakukan pada rakaat pertama.
Dari Abū Hurairah r.a. [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Adalah Rasulullah saw apabila berdiri dari rakaat kedua, beliau memulai bacaan dengan: “Alḥamdulillāhi rabbil- ‘ālamīn” (al-Fatihah) dan beliau tidak diam [HR. Muslim[.
Hadis ini menerangkan bahwa Rasulullah saw mengerjakan salat rakaat kedua tidak “diam” (artinya tidak membaca doa iftitah), tetapi langsung membaca al-Fatihah. Bacaan al-Fatihah dibaca setelah didahului dengan membaca taawuz dan basmalah seperti telah dijelaskan pada rakaat pertama.
Dari Abū Hurairah r.a. [diriwayatkan] bahwasanya Nabi saw bersabda: Jika kamu berdiri untuk salat maka mulailah dengan takbir, lalu bacalah apa yang mudah buatmu dari Al-Quran kemudian rukuklah sampai benar-benar rukuk [tumakninah], lalu bangkitlah (dari rukuk) hingga kamu berdiri tegak, lalu sujudlah sampai hingga benar-benar sujud [tumakninah], lalu angkat [kepalamu] untuk duduk hingga benar-benar duduk [tumakninah]. Kemudian lakukanlah hal tersebut dalam seluruh [rangkaian] salatmu [HR. al-Bukhārī dan Muslim].
Dalam hadis ini Rasulullah saw memerintahkan supaya melakukan praktik salat pada rakaat kedua sama seperti pada rakaat pertama (hanya saja tanpa doa iftitah), yaitu rakaat kedua dimulai dengan meletakkan kedua tangan di atas dada, lalu membaca taawuz, basmalah, al-Fatihah dan surat atau ayat al-Quran serta melakukan berbagai gerakan dan ucapan hingga selesai sujud kedua pada rakaat kedua.
Apabila selesai sujud kedua pada rakaat kedua, maka bangkitlah dari sujud kedua itu dengan bertakbir (mengucapkan Allāhu akbar) tanpa mengangkat kedua tangan sebagaimana dijelaskan dalam hadis ‘Abdullāh Ibn ‘Umar yang dikutip pada angka 11.a. di muka.
Kemudian lakukan duduk tasyahud akhir apabila salat yang dilakukan adalah salat dua rakaat baik salat wajib maupun salat sunat dengan kaifiat (cara) seperti disebutkan pada angka 16.
Apabila salat yang dilakukan adalah salat tiga rakaat atau salat empat rakaat, maka ketika bangkit dari sujud kedua pada rakaat kedua lakukan duduk tasyahud awal seperti dijelaskan pada angka 18.
Bersambung Tata Cara Salat Bagian Kelima
PENGAJIAN BAKDA MAGHRIB
🗓 Hari, tgl : Ahad, 11 Dzulqaidah 1445 H./ 19 Mei 2024 M
🕌 Tempat : Serambi Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta
🎤 Penceramah : Asrul Jamaluddin
✍️ Pencatat : Sugani.
