Tata Cara Salat Bagian Kelima

Tata Cara Salat Bagian Kelima Berdasarkan Buku Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah Jilid 3 halaman 528 – 555.

Seri Tulisan Tata Cara Salat

Tulisan ini akan terbagi menjagi beberapa bagian. Selamat mengikuti Bagian Kelima dari Tata Cara Salat menurut HPT.

Berdasarkan Buku Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah Jilid 3 halaman 556 – 566

16. Duduk Tasyahud Akhir untuk Mengakhiri Salat.

Apabila salat yang dilakukan adalah salat dua rakaat, seperti salat subuh, salat Jumat, dan salat-salat sunat dua rakaat, maka setelah bangkit dari sujud kedua pada rakaat kedua, lakukanlah duduk tasyahud akhir untuk mengakhiri salat dengan tata cara sebagai berikut:

a. Tata Duduk Tasyahud Akhir: Duduk Tawaruk untuk Menutup
Salat.

Yang dimaksud dengan duduk tawaruk ialah duduk dengan memasukkan (memajukan) kaki kiri di bawah kaki kanan, sementara telapak kaki kanan ditegakkan dengan jari-jari ditekuk dan ujungnya mengarah ke kiblat dan duduk dengan bertumpukan pantat di atas lantai (di tempat salat).

Bahwa duduk tasyahud akhir pada salat dua rakaat, baik salat wajib maupun salat-salat sunat dua rakaat, dilakukan dengan cara duduk tawaruk pada rakaat kedua didasarkan kepada hadis :

1) Hadis Abū Ḥumaid as-Sā‘idī riwayat al-Bukhārī
Dari Abū Ḥumaid as Sā‘idī [diriwayatkan] bahwa [dia berkata], “Aku paling banyak mengingat salat Rasulullah saw di anatara kalian. Aku melihatnya ketika bertakbir beliau mengangkat kedua tangannya setentang dengan bahunya, dan apabila rukuk beliau meletakkan kedua tangannya dengan kuat pada lututnya serta membungkukkan punggungnya. Apabila mengangkat kepala, beliau meluruskan (badannya) sehingga semua tulang-tulang kembali pada tempatnya. Kemudian apabila bersujud beliau meletakkan kedua tangannya dengan tidak membentangkannya dan tidak pula menggenggam keduanya serta menghadapkan semua ujung jari-jari kedua kakinya ke arah kiblat. Kemudian apabila duduk pada rakaat kedua beliau duduk di atas kaki kirinya dan mendirikan tapak kaki kanannya, dan apabila duduk pada rakaat terakhir, beliau memajukan kaki kirinya ke depan dan mendirikan tapak kaki yang lain (kanan) dan duduk di tempat duduknya [HR al- Bukhārī].

2 Hadis Abū Ḥumaid as-Sā‘idī riwayat Abū Dāwūd.
Dari Muhammad Ibn ‘Umar Ibn ‘Aṭā’ [diriwayatkan bahwa] dia berkata: Saya mendengar Abū Ḥumaid as-Sā‘idī berkata di tengah-tengah sepuluh Sahabat Rasulullah saw, di antaranya adalah Abū Qatādah, Abū Ḥumaid berkata: Aku lebih mengetahui tentang salat Rasulullah saw. Mereka berkata; Kenapa demikian, demi Allah, padahal kamu bukanlah orang yang sering menyertai beliau dan bukan pula orang yang paling dahulu menjadi Sahabat beliau daripada kami. Dia berkata: Ya, benar. Mereka berkata: Jika demikian, jelaskanlah. Abū Ḥumaid berkata: Apabila Rasulullah saw hendak memulai salatnya, beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua bahunya, kemudian beliau bertakbir sehingga semua tulang beliau kembali pada tempat semula dengan lurus, lalu beliau membaca (bacaan salat) kemudian beliau bertakbir sambil mengangkat kedua tangan sampai sejajar dengan kedua bahu, lalu rukuk dengan meletakkan kedua telapak tangan di atas kedua lutut, kemudian meluruskan (punggung dan kepala) tidak menundukkan kepala dan juga tidak menengadah. Setelah itu beliau mengangkat kepala sambil mengucapkan: “Sami’allāhu liman ḥamidah.” Kemudian beliau mengangkat kedua tangan sehingga sejajar dengan kedua bahu sampai lurus, lalu mengucapkan: “Allāhu akbar.” Setelah itu beliau turun ke lantai, lalu merenggangkan kedua tangannya dari kedua lambungnya, kemudian beliau mengangkat kepala dan melipat kaki kirinya dan mendudukinya, dengan membuka kedua jari-jari kakinya apabila bersujud, kemudian mengucapkan: “Allahu akbar.” Setelah itu, beliau mengangkat kepala dan melipat kaki kirinya serta mendudukinya, sehingga tulang beliau kembali ke posisinya, kemudian beliau mengerjakan seperti itu di rakaat yang lain. Apabila beliau berdiri setelah dua rakaat, beliau bertakbir dan mengangkat kedua tangan sampai sejajar dengan kedua bahu, sebagaimana beliau bertakbir ketika memulai salat. Beliau melakukan cara seperti itu pada salat-salat beliau yang lain, dan ketika beliau duduk (tahiyyat) yang ada salamnya, beliau menarik kaki kiri dan duduk secara tawaruk bertumpu pada bagian pantat kirinya (duduk dengan posisi kaki kiri masuk ke kaki kanan). Setelah itu sepuluh sahabat tersebut berkata: Benar kamu, demikianlah Rasulullah saw melaksanakan salat … [HR Abū Dāwūd].

Sementara itu dalam riwayat at-Tirmiżī, lafal hadis ini berbunyi,
… hingga sampai pada rakaat terakhirnya di mana salatnya akan berakhir, beliau memajukan kaki kirinya ke depan dan mendirikan tapak kaki yang lain (kanan) dan duduk pada bagian kiri pantatnya secara tawaruk, lalu mengucapkan salam [HR Tirmiżī].

Hadis-hadis ini secara tegas menunjukkan bahwa pada setiap duduk tasyahud akhir yang di dalamnya ada salam untuk mengakhiri salat bentuk duduk tasyahudnya adalah duduk tawaruk. Pernyataan duduk tasyahud yang ada salamnya untuk mengakhiri salat itu adalah pernyataan umum yang mencakup salat dua rakaat, tiga rakaat dan empat rakaat.

Bahwa dalam hadis Abū Ḥumaid as-Sā‘idī riwayat al-Bukhārī [angka 16.a.1)] di atas disebutkan bahwa “apabila duduk pada rakaat kedua beliau duduk di atas kaki kirinya” maksudnya adalah duduk tasyahud awal yang tidak ada salam di situ dan itu jelas dari hadis itu sendiri.

Jadi pendapat bahwa hadis riwayat al-Bukhārī itu menunjukkan kepada duduk iftirasy pada rakaat kedua dalam salat dua rakaat adalah pendapat yang marjuh, sedangkan yang rajih adalah pendapat bahwa pada setiap duduk tasyahud akhir yang padanya ada salam, baik salat dua rakaat, tiga rakaat maupun empat rakaat, maka duduknya adalah duduk tawaruk.

b. Meletakkan Kedua Telapak Tangan di atas Kedua Lutut dan Mengacungkan Jari Telunjuk.

Kemudian pada saat duduk tawaruk itu letakkanlah kedua telapak tangan di atas kedua lutut, dengan menghamparkan jari-jari tangan kiri di atas lutut kiri. Sedang jari kelingking, jari manis dan jari tengah tangan kanan digenggam, dan ibu jari tangan kanan menyentuh jari tengah tangan kanan dan jari telunjuk tangan kanan diacungkan pada saat memulai membaca doa tasyahud (at-taḥiyyātu lillāh).

Tatacara duduk tawaruk ini didasarkan dengan hadis-hadis berikut,

1)- Hadis Abū Ḥumaid as-Sā‘idī riwayat al-Bukhārī di atas [16.a.1)].

2)- Hadis ‘Āmir Ibn ‘Abdullāh Ibn az-Zubair,
Dari ‘Āmir Ibn ‘Abdullāh Ibn az-Zubair, dari ayahnya [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Rasulullah saw jika duduk bertasyahud, beliau letakkan tangan kanannya di atas paha kanannya, dan tangan kirinya di atas paha kirinya, dan beliau memberi menunjuk dengan jari telunjuknya dan beliau letakkan jempolnya pada jari tengahnya, sementara telapak tangan kirinya menggenggam lututnya [HR. Muslim]

3)- Hadis lain dari ‘Āmir Ibn ‘Abdullāh Ibn az-Zubair,
Dari ‘Āmir Ibn ‘Abdullāh Ibn az-Zubair, dari ayahnya [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Adalah Rasulullah saw, jika duduk bertasyahud, beliau meletakkan tangan kanannya di atas paha kanannya dan tangan kirinya di atas paha kiri, serta menunjuk dengan jari telunjuknya, dan telapak tangan kirinya menggenggam lututnya [HR. Muslim].

4)- Hadis Ibn ‘Umar,
Dari Ibn ‘Umar [diriwaayatkan] bahwa apabila Rasulullah saw duduk membaca tasyahud, beliau meletakkan tangan kirinya di atas lutut kirinya dan meletakkan tangan kanannya di atas lutut kanannya, dan beliau lingkarkan jarinya sehingga membentuk angka lima puluh tiga, dan beliau menunjuk dengan jari telunjuknya [HR Muslim[.

5)- Hadis ‘Abdullāh Ibn az-Zubair,
Dari ‘Abdullāh Ibn az-Zubair [diriwayatkan] bahwa Nabi saw menunjuk dengan jari telunjuknya apabila bertasyahud dan tidak menggerakkannya [HR Aḥmad, an-Nasā’ī, Abū Dāwūd dan Ibn Ḥibbān].

Adapun tentang menggerak-gerakkan jari telunjuk saat mengacungkannya disebutkan dalam hadis Wā’il Ibn Ḥujr riwayat Aḥmad, an-Nasā’ī, Abū Dāwūd, Ibn Mājah dan al-Baihaqī sebagai bُerikut, ْ َ

‘… kemudian beliau [Rasulullah saw] mengangkat jari telunjuknya dan saya melihatnya menggerak- gerakannya sambil berdo‘a dengannya (membaca doa tasyahud) [HR Aḥmad, an-Nasā’ī, Abū Dāwūd, Ibn Mājah dan al-Baihaqī].

Hadis bahwa “Rasulullah saw menggerak-gerakkan jari telunjuknya ketika tasyahud” dalam riwayat di atas mengandung anomali (syuzuz/penyimpangan) yang dilakukan oleh Zā’idah, salah seorang rawi dalam sanad hadis tersebut. Semua sejawatnya seperti Syu‘bah, Sufyān aṡ-Ṡaurī, Sufyān Ibn ‘Uyainah, Zuhair, Abū ‘Awānah dan lain-lain yang semuanya merupakan rawi-rawi terpercaya yang meriwayatkan hadis itu dari guru mereka ‘Āṣim Ibn Kulaib, meriwayatkan hadis itu dengan menyebutkan “Rasulullah saw menunjuk dengan jari telunjuknya.” Mereka sama sekali tidak menyebutkan “beliau menggerak-gerakkan jari telunjuknya.” Hanya Zā’idah di antara murid ‘Āṣim yang menyebutkan menggerak-gerakkan jari telunjuk sehingga karenanya riwayat Zā’idah ini dianggap syaz (mengandung anomali). Oleh karena itu al-Baihaqī sebagai salah seorang mukharij dari hadis ini menyatakan, “Kemungkinan maksud “menggerak-gerakkan telunjuk” itu adalah mengacungkannya, bukan menggerakkan dengan memutar-mutarnya [Al- Baihaqī, as-Sunan al-Kubrā, II: 189, hadis no. 2787].

Imam Aḥmad meriwayatkan bahwa Wā’il menceritakan bahwa sebagian orang terkadang tampak menggerak- gerakkan jari telunjuknya yang terlihat dari gerakan di bawah jubah mereka adalah karena kedinginan di musim dingin [Aḥmad, al-Musnad, XXXI: 160, hadis no. 18870].

Selain itu setelah menelaah berbagai kitab fikih, belum ditemukan pemahaman yang menunjukkan menggerak-gerakkan jari telunjuk kecuali mazhab Maliki yang menyatakan bahwa di dalam duduk tasyahud jari telunjuk digerak-gerakkan ke kanan dan ke kiri secara pelan. Sehingga dengan demikian disimpulkan bahwa yang rajih adalah pendapat tidak mengerakkan jari telunjuk saat tasyahud. Hal ini dikuatkan oleh riwayat Ibn az-Zubair pada hadis no. 5) yang menegaskan bahwa Rasulullah saw menunjuk (mengacungkan) jari telunjuknya, bukan menggerak-gerakkannya.

c. Bacaan Tasyahud

Bersambung Tata Cara Salat Bagian Keenam

PENGAJIAN BAKDA MAGHRIB
🗓 Hari, tgl : Ahad, 25 Dzulqaidah 1445 H./ 02 Juni 2024 M
🕌 Tempat : Serambi Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta
🎤 Penceramah : Asrul Jamaluddin
✍️ Pencatat : Sugani.
🌍 Catatan Terdahulu Bisa Baca di Rubrik OASE kupass.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *