Tata Cara Salat Bagian Pertama

Tata Cara Salat Bagian Pertama Berdasarkan Buku Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah Jilid 3 halaman 528 – 555.

Tulisan ini akan terbagi menjagi beberapa bagian. Selamat mengikuti Bagian Pertama dari Tata Cara Salat menurut HPT.

Seri Tulisan Tata Cara Salat

Tata Cara Salat

01. Berdiri Tegak Menghadap Kiblat dan Berniat Ikhlas karena Allah

Menghadap kiblat

Salat dilakukan menghadap ke kiblat, yaitu Kakbah di Masjidil Haram di Mekah

Berdiri apabila tidak ada halangan untuk berdiri

Salat pada asasnya dilakukan dengan berdiri (posisi kaki sejajar dengan bahu) kecuali apabila ada halangan sehingga tidak bisa berdiri, misalnya karena sakit, dalam perjalanan atau dalam keadaan takut yang tidak memungkinkan melakukannya berdiri.

Niat

Setiap orang yang mengerjakan salat harus dengan niat yang ikhlas di dalam hati bahwa ia hendak mengerjakan salat.

Niat adalah kehendak, maka tempatnya adalah di dalam hati dan merupakan perbuatan hati sehingga tidak dilafalkan.

02. Mengarahkan Pandangan ke Tempat Sujud Saat Berdiri.

Pandangan mata orang yang salat diarahkan ke tempat sujud, dimaksudkan agar semaksimal mungkin dapat dicapai kekhusyukan.

03. Melakukan Takbiratul-Ihram dengan Mengucapkan “Allahu Akbar”.

Setelah berdiri tegak dengan pandangan mata ke arah tempat sujud, lakukanlah takbir seraya mengangkat kedua belah tangan sejajar dengan bahu dan menyejajarkan ibu jari tangan dengan daun telinga bagian bawah dan jari-jari tangan sedikit direnggangkan serta telapak tangan menghadap ke kiblat.

04. Bersedekap dengan Meletakkan Tangan di atas Dada.

Setelah bertakbir lakukanlah sedekap dengan cara :
✅ Telapak tangan kanan menggenggam pergelangan dan hasta tangan kiri dan
✅ Diletakkan di atas dada.

05. Membaca Doa Iftitah Secara Sir (Lirih).

Setelah melakukan takbiratul-ihram bacalah doa iftitah.
Ada beberapa doa iftitah yang dapat diucapkan dalam salat.

Bacaan Pertama

‎اللَهُمَّ بَاعِدْبَيْنِى وَبَيْنَ خَطَايَاىَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ المَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ. اللَهُمَّ نَقِّنِى مِنَ الخَطَايَا كَمَا يُنَقِّى الثَّوبُ الاَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ. اللَهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَاىَ بِالمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالبَرَدِ
Allahumma ba-id baini-wa baina khatha-ya-ya kama-ba-adta bainal masyriqi wal maghrib. Alla-humma naqqini- minal khatha-ya- kama-yunaqqats tsaubul abyadlu minad danas. Alla-hummaghsil khatha-ya-ya bilma-i wats tsalji wal barad.
“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, sucikanlah kesalahanku sebagaimana pakaian yang putih disucikan dari kotoran. Ya Allah, cucilah kesalahanku dengan air, salju, dan air dingin.” (HR. Bukhari Muslim dari Abu Hurairah).

Bacaan Kedua

‎اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ
Allahumma baid bayni wa bayna khotoyaya kama ba’adta baynal masyriqi wal maghrib. Allahumma naqqini min khotoyaya kama yunaqqots-saubul abyadhu minad danas. Allahummagh-silni min khotoyaya bil ma-iwats tsalji walbarod.
Ya Allah, jauhkan aku dari kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau menjauhkan timur dari barat. Ya Allah, sucikan aku dari kesalahan-kesalahanku, sebagaimana baju putih dibersihkan dari noda. Ya Allah, mandikan aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju, dan embun. (HR. Bukhari dan Muslim)

Bacaan Ketiga

‎وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا، وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي، وَنُسُكِي، وَمَحْيَايَ، وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَا شَرِيكَ لَهُ، وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ، اللهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْتَ رَبِّي، وَأَنَا عَبْدُكَ، ظَلَمْتُ نَفْسِي، وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي جَمِيعًا، إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ، لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ، وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ، أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ، تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
Wajjahtu wajhiya lillażī faṭaras-samāwāti wal-arḍa ḥanīfan wa mā ana minal-musyrikīn. Inna ṣalātī wa nusukī wa maḥyāya wamāmatī lillāhi rabbil-‘ālamīn. Lā syarīka lahu wa bi żālika umirtu wa ana minal-muslimīn. Allāhumma antal-maliku lā ilāha [lī] illā anta. Anta rabbī wa ana ‘abduka ẓalamtu nafsī wa’taraftu bi żanbī faghfir lī żunūbī jamī‘an innahu lā yaghfiruż-żunūba illā anta wahdinī li aḥsani akhlāqī lā yahdī li aḥsanihā illā anta waṣrif ‘annī sayyi’ahā lā yaṣrifu ‘annī sayyi’ahā illā anta labbaika wa sa‘daika wal-khairu kulluhu fī yadika wasy-syarru laisa ilaika. Ana bika wa ilaika, tabārakta wa ta‘ālaita astaghfiruka wa atūbu ilaika (Kuhadapkan wajahku kepada Zat yang menciptakan langit dan bumi dengan taat dan saya tidak termasuk golongan orang-orang musyrik. Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya dan oleh karena itu saya diperintahkan dan saya termasuk golongan orang-orang muslim. Ya Allah Engkaulah Yang Maha Kuasa tidak ada tuhan kecuali Engkau. Engkau Tuhanku dan saya adalah hamba-Mu, saya telah berbuat aniaya terhadap dirikudan saya telah mengetahui akan dosa-dosaku, maka ampunilah semua dosaku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni segala dosa kecuali hanya Engkau, maka berikan petunjuk kepada saya kepada akhlak yang terbaik, tidak ada yang dapat memberi petunujuk kepada yang terbaik kecuali hanya Engkau. Dan jauhkanlah saya dari segala kejelekan, tidak ada yang dapat menjauhkan diri saya dari kejelekan kecuali hanya Engkau. Aku penuhi seruan-Mu, aku penuhi perintah-Mu dan kebaikan seluruhnya di tangan-Mu dan kejelekan tidak kepada-Mu. Aku senantiasa dengan-Mu dan kepadamu [saya kembali]. Engkay yang maha memberi barakah dan maha tinggi. Dan saya mohon ampunan kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu) [HR Abū Dāwūd (edisi Āl Salmān)]

Bacaan Keempat

‎اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
Allaahu akbar kabiiraa walhamdulillahi katsiiraa wasubhaanallaahi bukrataw wa ashiilaa.
Allah Maha Besar sedemikian rupa dan segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya dan Maha Suci Allah sepanjang pagi dan petang. (HR. Tirmizi)

06. Membaca Taawuz (Istiazah) Secara Sir

Sesudah membaca iftitah kemudian bacalah taawuz (istiazah) atau ucapan menyatakan berlindung kepada Allah swt dari segala kejahatan makhluk yang terkutuk.

Beberapa bacaaan Taawuz :

Bacaan Pertama :
‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
A’UDZU BILLAHI MINASY SYAITHOONIR ROJIIM
Aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. Ini didasarkan kepada surat an-Nahl ayat 98

Bacaan Kedua :
‎أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
A’UDZU BILLAHIS SAMII’IL ‘ALIIM, MINASY SYAITHOONIR ROJIIM
Aku berlindung kepada Allah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari syaitan yang terkutuk. Ini didasarkan kepada surat Fussilat ayat 36

Bacaan Ketiga :
‎أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ
“A’UDZU BILLAHIS SAMII’IL ‘ALIIM, MINASY SYAITHOONIR ROJIIM MIN HAMZIHI WA NAFKHIHI WA NAFTSIH
Aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk, dari bisikannya, tiupannya, dan hembusannya). Ini didasarkan kepada hadis Abū Sa‘īd al-Khudrī riwayat at-Tirmiżī.

Istiazah dibaca pada setiap rakaat berdasarkan keumuman surah an-Nahl (16):98, yaitu perintah membaca taawuz baik di luar salat maupun di dalam salat. Jika di luar salat diperintahkan, maka tentunya di dalam salat seseorang harus lebih memperhatikan lagi diri dan salatnya, karena ketika itu ia sedang berdiri beribadah kepada Tuhannya, yang semestinya ditegakkan dengan khusyuk dan menjaga salatnya dari was-was setan serta tipu dayanya. Tidak cukup satu istiazah tetapi dalam setiap rakaat harus beristiazah.

07. Membaca Basmalah Secara Jahar Atau Sir Pada Salat dengan Bacaan Jahar dan Secara Sir Pada Salat . Dengan Bacaan Sir.

✅ Setelah membaca doa iftitah dan taawuz, seseorang yang mengerjakan salat membaca basmalah, yaitu bismillāhir- raḥmānir-raḥīm.
✅ Basmalah dibaca sesudah taawuz dan sebelum membaca al-Fatihah.
✅ Basmalah dibaca dalam semua rakaat sebelum membaca al-Fatihah.

‎.بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang

Jahar dan sir dalam salat jahar
Dalam salat sir, yaitu salat di mana bacaan surat dibaca pelan (seperti orang berbisik), misalnya dalam salat Zuhur atau salat Asar, basmalah dibaca sir pula.

Untuk salat jahar, yaitu salat di mana bacaan surat dibaca dengan suara keras (terdengar oleh makmum), maka basmalah dapat dibaca jahar atau dapat dibaca sir.

08. Membaca Surat Al-Fatihah dan Membaca “Amin”

Setelah membaca taawuz dan basmalah dilanjutkan dengan membaca al-Fatihah karena dalam salat al-Fatihah merupakan bacaan pokok pada tiap-tiap rakaat.

‎. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ
Alḥamdu lillāhi rabbil’ālamīn
Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam
‎. الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ
Ar raḥmānir raḥīm
Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang
‎. مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ
Māliki yaumid dīn
Pemilik hari pembalasan
‎. اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ
Iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn
Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan
‎. اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ
Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm
Tunjukilah kami jalan yang lurus
‎.صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ
Sirāṭallażīna an’amta ‘alaihim gairil-magḍụbi ‘alaihim wa laḍ ḍāllīn
(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Dalam membaca al-Fatihah hendaknya membacanya ayat demi ayat dan tidak disambung. Begitu pula dengan memperhatikan tanda-tanda bacaan, seperti tanda waqaf pada akhir ayat yang menunjukkan berhenti tidak disambung.

Secara umum membaca al-Fatihah dalam salat itu adalah wajib karena merupakan salah satu rukun salat, sehingga tidak sah salat tanpa membacanya.

Setelah membaca al-Fatihah (selesai membaca wa lāḍḍāllīn) dilanjutkan dengan membaca doa āmīn. Imam dan makmum membaca āmīn dengan keras dalam salat jahar dan dengan bacaan pelan dalam salat sir.

09. Membaca Surat Atau Ayat Al-Quran

Setelah membaca al-Fatihah dilanjutkan membaca surat/ayat al-Quran.

Bacaan ayat atau surat pada rakaat pertama lebih panjang daripada rakaat kedua.

Hikmahnya adalah makmum masih energik dan bagi yang terlambat bisa mendapatkan rakaat imam.

Afdal dan disunahkan bagi imam membaca surah secara sempurna pada rakaat pertama dan kedua.

Namun tidak mengapa apabila membaca surah-surah panjang, dengan membaca awal surah, pertengahan ataupun akhir surah, Rakaat pertama membaca surat yang lebih awal urutannya.

Rasulullah saw biasa membaca surat-surat tertentu pada salat tertentu. Misalnya pada salat jumat atau salat ied, pada rakaat pertama Rasul sering membaca surat al-A’la dan pada rakaat kedua membaca surat al-Ghasyiyah. Namun ada pula riwayat yang menyebutkan bahwa Rasul saw juga pernah membaca surat selain itu pada salat Id.

Demikian pula dengan bacaan surat pada salat lima waktu. Rasulullah saw sering membaca surat tertentu namun bukan sebagai sebuah keharusan. Ia hanyalah pilihan yang jika dicontoh akan menjadi sebuah kebaikan dan jika tidak, tak mendatangkan dosa.

Bersambung …….. di Tata Cara Salat Bagian Kedua

PENGAJIAN BAKDA MAGHRIB
🗓 Hari, tgl : Ahad, 19 Syawal 1445 H./ 28 April 2024 M
🕌 Tempat : Serambi Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta
🎤 Penceramah : Asrul Jamaluddin
✍️ Pencatat : Sugani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *