Adab Bertetangga Dalam Agama Islam

  • Bagikan
Inilah Adab Bertetangga Dalam Islam KUPASS
Inilah Adab Bertetangga Dalam Islam KUPASS

Gunungkidul (kupass.com) – Inilah Adab Bertetangga dalam Islam; Islam mengatur sedemikian rupa kehidupan manusia dari hal yang sederhana hingga hal yang rumit sekalipun. Juga mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT, hubungan manusia dengan sesama manusia, serta hubungan manusia dengan mahkluk Allah yang lain.

Pada kesempatan kali ini kita akan membahas mengenai hubungan manusia dengan manusia. Sebagai makhluk sosial tentu kita akan selalu saling membutuhkan terhadap orang lain terutama tetangga. Sebab tetangga adalah orang yang secara fisik paling dekat dengan kita.

Memiliki tetangga yang baik adalah sebuah anugerah yang patut disyukuri. Dari Nafi ‘ibnu’ Abdil Harits berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di antara kesenangan bagi seorang muslim adalah tempat tinggal yang luas, tetangga yang shalih dan kendaraan yang tenang.” 

Rasulullah sebagai sebaik-baik teladan telah mencontohkan kepada ummatnya bagaimana cara bertetangga yang baik.

Telah mengabarkan kepada kami dari Qutaibah bin Sa’id dari Abu alAhwas dari Abi Khasin dari Abi Shaleh dari Abu Hurairah r.a., katanya: Rasulullah saw. bersabda: “Siapa yang percaya kepada Tuhan dan hari akhirat janganlah menyakiti tetangganya,..” (HR. al-Bukhari)

Dari hadist di atas jelas sudah bahwa berbuat baik kepada tetangga merupakan salah satu indikator keimanan seseorang. Menurut Imam Al-Ghazali ada 12 adab bertetangga yang harus diperhatikan;

  1. Mendahului mengucapkan salam. Menyapa dan memberi salam terlebih dahulu adalah salah satu akhlak mulia yang harus kita biasakan. Sebab kehidupan masa kini terkadang banyak orang yang mersa gengsi jika harus mengucap salam terlebih dahulu.
  2. Tidak terlalu lama berbicara. Berbicara dengan tetangga merupakan salah satu bentuk mengakrabkan diri. Namun ketika dilakukan lama tentu itu bukan hal yang baik, sebab kita tidak tahu barangkali tetangga memiliki urusan lain namun karena tidak enak hati menyebabkan ia tetap berbicara dengan kita.
  3. Tidak banyak bertanya. Orang jaman sekarang menyebutnya dengan istilah kepo. Banyak orang yang merasa tidak nyaman dengan pertanyaan yang terlalu mendetail, sehingga sebisa mungkin kita hindari.
  4. Menjenguk yang sakit. Sebagai bentuk perhatian dan kepedulian terhadap tetangga, maka ketika ada yang sakit hendaknya menjenguk.
  5. Berbela sungkawa atas musibah yang menimpa tetangga.
  6. Berbahagia atas kebahagiaan tetangga, bukan malah memegang prinsip bahagia atas penderitaan orang lain serta menderita atas kebahagiaan orang lain.
  7. Berbicara dengan lembut
  8. Sebab menyadari bahwa manusia tidak terlepas dari kesalahan maka sudah selayaknya yang bersalah meminta maaf dan yang benar memberikan maaf
  9. Menegus tetangga yang berbuat salah dengan cara yang baik
  10. Menundukkan pandangan dari istri tetangga
  11. Memberikan pertolongan
  12. Tidak terus menerus memandang pembantunya
Baca Juga:  Keutamaan Memuliakan Tamu

Selain adab bertetangga, Rasulullah juga telah memberitahukan kepada kita hak tetangga yang harus perhatikan;

أَتَدْرُونَ مَا حَقُّ الْجَارِ؟ إِنِ اسْتَعَانَكَ أَعَنْتَهُ، وَإِنِ اسْتَقْرَضَكَ أَقْرَضْتَهُ، وَإِنِ افْتَقَرَ عُدْتَ عَلَيْهِ، وَإِنْ مَرِضَ عُدْتَهُ، وَإِنْ مَاتَ شَهِدْتَ جَنَازَتَهُ، وَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ هَنَّأْتَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ مُصِيبَةٌ عَزَّيْتَهُ، وَلَا تَسْتَطِيلَ عَلَيْهِ بِالْبِنَاءِ، فَتَحْجُبَ عَنْهُ الرِّيحَ إِلَّا بِإِذْنِهِ، وَإِذَا شَرَيْتَ فَاكِهَةً فَاهْدِ لَهُ، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَأَدْخِلْهَا سِرًّا، وَلَا يَخْرُجْ بِهَا وَلَدُكَ لِيَغِيظَ بِهَا وَلَدَهُ، وَلَا تُؤْذِهِ بِقِيثَارِ قَدْرِكَ إِلَّا أَنْ تَغْرِفَ لَهُ مِنْهَا  أَتَدْرُونَ مَا حَقُّ الْجَارِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا يَبْلُغُ حَقُّ الْجَارِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّنْ رَحِمَ اللهُ

“Apakah kalian tahu hak tetangga? Jika tetanggamu meminta bantuan kepadamu, engkau harus menolongnya. Jika dia meminta pinjaman, engkau meminjaminya. Jika dia fakir, engkau memberinya. Jika dia sakit, engkau menjenguknya. Jika dia meninggal, engkau mengantar jenazahnya. Jika dia mendapat kebaikan, engkau menyampaikan selamat untuknya. Jika dia ditimpa kesulitan, engkau menghiburnya. Janganlah engkau meninggikan bangunanmu di atas bangunannya, hingga engkau menghalangi angin yang menghembus untuknya, kecuali atas izinnya. Jika engkau membeli buah, hadiahkanlah sebagian untuknya. Jika tidak melakukannya, maka simpanlah buah itu secara sembunyi-sembunyi. Janganlah anakmu membawa buah itu agar anaknya menjadi marah. Janganlah engkau menyakitinya dengan suara wajanmu kecuali engkau menciduk sebagian isi wajan itu untuknya. Apakah kalian tahu hak tetangga? Demi Dzat yang menggenggam jiwaku, tidaklah hak tetangga sampai kecuali sedikit dari orang yang dirahmati Allah,” (HR At-Thabarani).

Demikianlah adab serta hak tetangga yang harus kita perhatikan. Lantas siapakan orang disebut sebagai tetangga? Pada sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Az-zuhri Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW dan mengadukan tetangganya. Kemudian Nabi SAW memerintah laki-laki tersebut untuk berteriak di depan pintu masjid. “Ingatlah, empat puluh rumah itu masih tetangga.” Dijelaskan oleh Az-Zuhri, “Maksudnya empat puluh rumah ke arah sana, empat puluh rumah ke arah sana, empat puluh rumah ke arah sana, empat puluh rumah ke arah sana,” kata Rasulullah sambil menunjuk ke empat arah.

Sumber Gambar Photo by Austin Distel on Unsplash

  • Bagikan

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *