Di balik limpahan rezeki, kesehatan, dan kemudahan hidup yang dinikmati setiap hari, ancaman kufur nikmat kerap mengintai tanpa disadari. Sikap menisbatkan keberhasilan hidup semata-mata kepada kepintaran diri sendiri atau kepada selain Allah merupakan salah satu watak dasar kaum jahiliyah yang dapat mengikis kemurnian tauhid seorang mukmin.

Peringatan tajam mengenai bahaya mengingkari karunia Ilahi tersebut diulas secara mendalam dalam Pengajian Bakda Shubuh di Masjid BMI Yudonegaran, Prawirodirjan, Gondomanan, Yogyakarta, pada Rabu (14/10/2026). Mengupas poin ke-47 Kitab Syarah Masail Jahiliyah karya Syaikh Shalih Al-Fauzan, penceramah Rosyid Abu Rosyidah, M.Ag dengan notula kajian dari Sugani mengingatkan jamaah akan bahaya tergelincir pada dosa kufur nikmat sebagaimana petaka yang menimpa Qarun.
Menisbatkan Nikmat kepada Selain Allah: Watak Kaum Jahiliyah
Rosyid Abu Rosyidah mengawali pemaparannya dengan menyitir firman Allah SWT dalam Surah An-Nahl ayat 83:
يَعْرِفُوْنَ نِعْمَتَ اللّٰهِ ثُمَّ يُنْكِرُوْنَهَا وَاَكْثَرُهُمُ الْكٰفِرُوْنَ
“Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang ingkar kepada Allah.”
(QS. An-Nahl: 83)
Dalam syarahnya, Syaikh Shalih Al-Fauzan menegaskan bahwa menyandarkan nikmat kepada makhluk atau kekuatan di luar kekuasaan Allah merupakan benih kesyirikan. Hati kaum jahiliyah sejatinya mengetahui kebenaran risalah dan limpahan rezeki dari Sang Pencipta, namun kesombongan membuat lisan mereka mendustakannya.
Padahal, penegasan tegas tertuang dalam Surah An-Nahl ayat 53:
وَمَا بِكُمْ مِّنْ نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ثُمَّ اِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَاِلَيْهِ تَجْـَٔرُوْنَ
“Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.”
(QS. An-Nahl: 53)
Tiga Pilar Syukur: Kapan Seseorang Terjatuh dalam Kufur Nikmat?
Menurut Rosyid, predikat hamba yang bersyukur tidak cukup disematkan lewat ucapan formalitas semata. Seorang muslim baru sah dikatakan bersyukur apabila memadukan tiga rukun yang tak terpisahkan:
- Keyakinan Hati (I’tiqad): Mengakui dengan seyakin-yakinnya bahwa segenap nikmat yang diterima, dari helaan napas hingga harta benda, murni berasal dari kemurahan Allah semata.
- Pengakuan Lisan: Senantiasa memuji dan mengagungkan asma Allah serta menjauhi keluh kesah yang mencela takdir.
- Ketaatan Anggota Badan: Menggunakan seluruh fasilitas nikmat dan energi tubuh untuk beribadah dan menebar kebaikan di jalan yang diridhai Allah.
Apabila salah satu dari ketiga rukun ini diabaikan, maka seseorang telah terperosok ke dalam kubangan kufur nikmat yang mengundang ancaman siksa pedih sebagaimana firman-Nya dalam Surah Ibrahim ayat 7: “Dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
Hukum Menyandarkan Nikmat kepada Perantara: Rincian Syariat
Di hadapan para jamaah, penceramah merinci hukum pengaitan nikmat kepada sebab atau perantara menjadi beberapa kaidah hukum penting:
- Penyandaran Sekadar Berita Faktual: Diperbolehkan secara syariat. Misalnya seseorang ditanya asal rumah yang ditinggalinya, lalu menjawab secara jujur: “Rumah ini warisan dari orang tua saya.”
- Penyandaran pada Sebab Ghaib yang Tak Terbukti: Termasuk syirik akbar. Contohnya meyakini kesuksesan semata-mata berkat campur tangan arwah tokoh keramat yang telah wafat atau mitos kekuatan gaib di luar takdir Allah.
- Penyandaran pada Sebab Nyata (Medis/Ilmiah): Diperbolehkan dengan syarat mutlak hati tetap bergantung kepada Allah. Contohnya pernyataan: “Setelah meminum obat ini, penyakit saya sembuh atas izin dan kehendak Allah.”
- Penyandaran pada Benda Jimat/Azimat: Termasuk syirik kecil. Memakai rajah atau jimat dengan dalih sekadar perantara tolak bala, padahal benda tersebut bukan sebab yang dibenarkan oleh syariat maupun ilmu pengetahuan.
Belajar dari Tragedi Qarun: Harta Berlimpah Berujung Petaka
Al-Qur’an mengabadikan potret paling telanjang dari perilaku kufur nikmat melalui kisah tragis Qarun dalam Surah Al-Qashash ayat 76 hingga 83. Dikaruniai perbendaharaan emas yang anak kuncinya saja harus dipikul oleh sekelompok orang berotot kekar, Qarun justru congkak dan menepuk dada:
قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي
“Qarun berkata: ‘Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu dan kepintaran yang ada padaku.'”
(QS. Al-Qashash: 78)
Qarun menolak memuji Allah dan menolak membelanjakan kekayaannya untuk kaum dhuafa. Akibat dari kesombongan dan dosa kufur nikmat tersebut, Allah menenggelamkan Qarun hidup-hidup beserta istana dan seluruh hartanya amblas ke dalam perut bumi tanpa ada satupun bala tentara yang sanggup menolongnya.
Meneladani Para Nabi yang Berjiwa Syukur
Bertolak belakang dengan sifat sombong Qarun, para nabi utusan Allah adalah teladan sejati dalam menggapai derajat syakirin (orang-orang yang bersyukur):
- Nabi Nuh AS: Digelari sebagai ‘Abdan Syakuura (hamba yang senantiasa banyak bersyukur) sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Isra’ ayat 3 karena lisan beliau tidak pernah luput memuji Allah di setiap kondisi.
- Nabi Ibrahim AS: Dikenal dengan julukan Syakiran li An’umih (pribadi yang pandai mensyukuri nikmat), yang doanya diabadikan dalam Surah Ibrahim ayat 37 saat menempatkan keturunannya di lembah Makkah yang gersang.
- Nabi Muhammad ﷺ: Mencontohkan puncak rasa syukur melalui amal nyata. Kendati dosanya yang telah lalu dan akan datang telah diampuni oleh Allah, beliau tetap menjalankan shalat malam hingga kedua telapak kakinya bengkak dan pecah-pecah. Ketika ditanya oleh Ibunda Aisyah RA, beliau menjawab lembut: “Tidakkah patut aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?” (HR. Bukhari no. 4837 dan Muslim no. 2820).
Tujuh Tanda Jiwa yang Terpapar Penyakit Kufur Nikmat
Rosyid Abu Rosyidah mengajak para jamaah mengevaluasi diri melalui tujuh indikator batin yang menandakan seseorang mulai berat untuk bersyukur:
- Kerap mengeluh dan mencela keadaan untuk perkara-perkara kecil.
- Pikiran selalu terpaku pada apa yang belum dimiliki, mengabaikan ribuan nikmat yang sudah ada dalam genggaman.
- Gemar membanding-bandingkan garis nasib dengan kekayaan orang lain di media sosial.
- Cepat melupakan kebaikan masa lalu yang telah dicurahkan Allah dan sesama manusia.
- Buta dari melihat hikmah positif tatkala diuji dengan kesulitan.
- Merasa paling berhak atas segalanya (*entitlement mental*) seolah rezeki datang murni karena kehebatannya.
- Bakhil dan berat lidah untuk mengucapkan terima kasih kepada sesama.
Empat Langkah Praktis Menjaga Diri dari Kufur Nikmat
Kajian subuh tersebut ditutup dengan panduan aplikatif agar seorang muslim terhindar dari siksa akibat mengingkari karunia Allah:
- Menjaga Kesadaran Batin: Mengingatkan diri setiap detik bahwa tubuh yang sehat dan rezeki hari ini adalah pinjaman dari Allah SWT semata.
- Membasahi Lisan dengan Kalimat Thayyibah: Membiasakan ucapan Alhamdulillah dalam senang maupun susah, serta melazimkan doa Jazakumullahu khairan dan Barakallahu fiik kepada sesama manusia.
- Menyalurkan Harta untuk Ketaatan: Menjadikan sebagian rezeki sebagai sedekah, nafkah halal, dan fasilitas ibadah.
- Menanamkan Sikap Qana’ah: Merasa cukup dan ridha dengan apa yang telah Allah takdirkan, sehingga dada selalu lapang dan terlindung dari sifat kufur nikmat.
Apa yang dimaksud dengan kufur nikmat dalam ajaran Islam?
Kufur nikmat adalah sikap mengingkari karunia Allah, menisbatkan nikmat kepada selain-Nya atau kepada kepintaran diri sendiri, serta menggunakan fasilitas rezeki yang diberikan untuk bermaksiat dan melupakan ibadah.
Mengapa kisah Qarun dijadikan contoh nyata bahaya kufur nikmat?
Karena Qarun menolak mengakui bahwa kekayaannya yang melimpah ruah adalah karunia Allah SWT. Ia menyombongkan diri bahwa hartanya didapat berkat ilmunya sendiri, menolak berbagi kepada kaum fakir, hingga akhirnya diazab dengan dibenamkan ke dalam perut bumi beserta seluruh istananya.
Catatan Redaksi Pengajian Bakda Shubuh:
Hari, Tanggal: Rabu, 03 Jumadil Awal 1448 H / 14 Oktober 2026
Tempat: Masjid BMI Yudonegaran, Prawirodirjan, Gondomanan, Yogyakarta
Penceramah: Rosyid Abu Rosyidah, M.Ag
Notula Kajian: Sugani.
