Di tengah dinamika hidup dan derasnya arus interaksi sosial masa kini, kemampuan menahan amarah kerap dipandang sebelah mata sebagai bentuk kepasrahan atau kelemahan. Padahal, dalam timbangan syariat Islam, keberhasilan mengendalikan gejolak emosi saat dada bergemuruh merupakan bukti nyata kekuatan jiwa dan kematangan spiritual seorang hamba.

Kajian mendalam tentang rahasia dan keutamaan mengendalikan emosi ini diuraikan dalam Pengajian Bakda Maghrib yang mengupas Hadits ke-16 Kitab Arbain An-Nawawi di Masjid Jendral Sudirman, Kompleks Kolombo, Caturtunggal, Depok, Sleman, pada Selasa (13/10/2026). Menghadirkan narasumber Sholeh Ilham, S.Th.I dengan catatan notula dari Sugani, majelis ilmu ini membedah tuntas wasiat agung Rasulullah ﷺ tentang bahaya amarah serta tuntunan syariat dalam meredamnya.
Teks Hadits ke-16 Arbain Nawawi: Wasiat Singkat Sarat Makna
Penceramah mengawali kajian dengan membacakan riwayat sahih dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِي، قَالَ : لاَ تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَاراً، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ
“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Nasihatilah aku.’ Beliau bersabda: ‘Jangan engkau marah.’ Orang itu mengulangi permintaannya berulang kali, dan beliau tetap bersabda: ‘Jangan engkau marah.'”
(HR. Bukhari no. 6116)
Sholeh Ilham menjelaskan, pengulangan kalimat “La Taghdhab” (Jangan engkau marah) oleh Baginda Nabi sebanyak beberapa kali mengisyaratkan bahwa amarah yang lepas kendali merupakan induk dari segala kezaliman, perpecahan, dan tindakan destruktif. Rasulullah ﷺ mengarahkan umatnya untuk senantiasa menghiasi diri dengan akhlak mulia seperti rendah hati (tawadhu), lemah lembut, dan kasih sayang.
Tiga Dimensi Makna Wasiat Jangan Marah
Para ulama pensyarah Kitab Arbain merumuskan bahwa wasiat larangan marah mencakup tiga dimensi praktis dalam keseharian:
- Jangan Menjadi Pribadi Pemarah: Menghindari sikap mudah tersulut emosi untuk urusan sepele yang tidak mendasar. Orang yang sedikit-sedikit marah mencerminkan jiwa yang belum matang.
- Kendalikan Diri Saat Amarah Datang: Ketika dorongan emosi bergolak di dalam dada, wajib bagi seorang mukmin untuk menahan amarah agar tidak melahirkan kata-kata kotor atau tindakan fisik yang merugikan diri sendiri dan orang lain.
- Hanya Marah Karena Hak Allah: Tidak menumpahkan kemarahan untuk membela gengsi atau ego pribadi, melainkan hanya marah ketika hukum-hukum syariat dilanggar terang-terangan.
Lima Pemicu Utama Meledaknya Amarah
Di hadapan para jamaah, Sholeh Ilham merinci faktor-faktor yang sering kali menjadi pemantik hilangnya kendali emosi manusia:
- Tiupan dan Bisikan Setan: Amarah yang meluap bersumber dari godaan setan yang sengaja memperkeruh suasana batin agar manusia terjerumus dalam kemaksiatan.
- Tinggi Hati dan Kesombongan: Merasa diri paling benar, tidak sudi menerima masukan atau kritik, serta menganggap remeh orang lain.
- Prasangka Buruk (Su’udzan): Cepat tersinggung dan mudah mencurigai niat sesama tanpa tabayyun atau verifikasi fakta terlebih dahulu.
- Ketidakpuasan dan Hilangnya Kesabaran: Keengganan hati menerima kenyataan dan takdir yang tidak sejalan dengan harapan pribadi.
- Terlena Debat Kusir dan Gurauan Berlebihan: Kebiasaan berdebat untuk menjatuhkan lawan bicara sering kali menjadi celah masuknya api kemarahan.
Resep Sunnah Nabi untuk Menahan Amarah
Agar umatnya terhindar dari racun amarah, Rasulullah ﷺ mewariskan langkah-langkah praktis dan efektif secara fisik maupun spiritual:
1. Membaca Ta’awudz Memohon Perlindungan
Segera melafalkan A’udzu billahi minasy-syaithanir-rajim. Doa ini memutus kendali setan yang tengah mengipasi dada manusia yang sedang mendidih.
2. Mengubah Posisi dan Gerak Tubuh
Apabila sedang berdiri saat emosi datang, segeralah duduk. Jika masih belum reda, rebahkan tubuh dengan berbaring. Perubahan posisi fisik ini terbukti menurunkan ketegangan saraf dan tekanan darah.
3. Membasuh Tubuh dengan Air Wudhu
Air wudhu secara fisiologis mendinginkan suhu tubuh yang melonjak akibat lonjakan hormon adrenalin. Secara batin, wudhu mengalirkan keberkahan dan mengembalikan ketenteraman jiwa.
4. Memilih Diam dan Menahan Lisan
Kunci penting dalam menahan amarah adalah mengunci ucapan rapat-rapat. Perkataan yang meluncur saat marah umumnya berupa caci maki, fitnah, dan sumpah serapah yang niscaya disesali kemudian.
Keutamaan Menahan Amarah dalam Pandangan Al-Qur’an
Allah SWT memuji hamba-hamba-Nya yang sanggup meredam gejolak emosi dan memasukkan mereka ke dalam golongan orang yang bertakwa. Dalam Surah Ali ‘Imran ayat 133–134, Allah berfirman:
۞ وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ
“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
(QS. Ali ‘Imran: 133-134)
Ayat mulia di atas menegaskan bahwa kelapangan hati untuk memaafkan serta kesanggupan menahan amarah adalah tiket emas menuju ampunan Allah dan surga yang abadi.
Bahaya Medis dan Spiritual Amarah yang Tak Terkendali
Sholeh Ilham mengingatkan bahwa memelihara amarah membawa petaka multidimensi:
- Dampak Fisik: Gejolak emosi kronis membebani kerja jantung, menaikkan tekanan darah secara ekstrem, dan memicu risiko stroke.
- Dampak Mental: Kebiasaan mengamuk memperlihatkan kerapuhan psikologis dan ketidakmampuan beradaptasi dengan benturan realitas.
- Dampak Spiritual: Orang yang gagal menahan amarah akan kian terhalang dari manisnya ketakwaan dan ketenangan iman.
Batas Pengecualian: Kapan Kemarahan Dibolehkan?
Kendati Islam menjunjung tinggi kesabaran, terdapat momentum tertentu di mana kemarahan menjadi ekspresi iman yang dibenarkan:
- Membela Kehormatan Agama: Sebagaimana kemarahan Nabi Musa AS tatkala menyaksikan kaumnya tersesat menyembah patung anak sapi saat ditinggalkan bermunajat di Bukit Tursina.
- Mendidik Keluarga dari Kelalaian Syariat: Ketegasan orang tua saat anak dengan sengaja meninggalkan kewajiban shalat fardhu, dilakukan secara bijak tanpa kekerasan fisik yang melampaui batas.
- Melihat Kemungkaran Terbuka: Menolak pelanggaran hukum Allah yang merusak tatanan moral masyarakat dan tidak bisa lagi diingatkan dengan cara halus.
Apa makna utama hadits jangan marah dalam Kitab Arbain?
Makna utamanya adalah larangan menjadi pribadi yang mudah tersulut emosi, perintah mengendalikan diri saat dorongan amarah memuncak agar tidak merugikan orang lain, serta membatasi kemarahan hanya untuk membela syariat Allah.
Bagaimana urutan cara menahan amarah sesuai tuntunan sunnah?
Tuntunan sunnah Rasulullah dalam meredam amarah dimulai dari membaca ta’awudz memohon perlindungan dari godaan setan, mengubah posisi fisik dari berdiri ke duduk atau berbaring, mengambil air wudhu, dan menahan lisan dengan berdiam diri.
Catatan Redaksi Pengajian Bakda Maghrib:
Hari, Tanggal: Selasa, 02 Jumadil Awal 1448 H / 13 Oktober 2026
Tempat: Masjid Jendral Sudirman, Kompleks Kolombo, Caturtunggal, Depok, Sleman
Penceramah: Sholeh Ilham, S.Th.I
Notula Kajian: Sugani.
