kupass.com; Di sudut jalan kota, seringkali sekelompok anak muda membagikan puluhan bungkus nasi. Tidak ada bendera organisasi, seragam resmi, atau acara yang terlalu formal. Hanya ada satu ponsel yang menangkap aksi itu selama beberapa detik, lalu diunggah ke media sosial. Dalam hitungan jam, video pendek itu sudah ditonton ribuan kali. Kolom komentar diisi banyak remaja yang ingin ikut serta, berkontribusi, atau langsung terlibat dalam aksi pekan depan.

Gerakan ini berjalan cepat, fleksibel, dan bebas dari prosedur birokrasi yang rumit. Di sini terlihat fenomena sosial yang signifikan, yaitu Generasi Z kini tidak lagi melakukan aksi kemanusiaan melalui organisasi yang konvensional, melainkan dengan menggunakan teknologi yang praktis dan dorongan rasa empati langsung. Mereka tidak menunggu perintah tertulis untuk melakukan hal yang baik; mereka bertindak karena melihat kenyataan di depan mata yang terhubung melalui layar gawai.
Bagi Muhammadiyah, kondisi ini adalah sinyal zaman yang tidak boleh diabaikan. Setelah lebih dari satu abad membangun peradaban yang besar—mulai dari ribuan sekolah, perguruan tinggi, hingga jaringan rumah sakit—Muhammadiyah kini menjumpai generasi yang memiliki cara beragama, berorganisasi, dan memahami kepedulian sosial yang sangat berbeda dari sebelumnya.
Tantangan Ideologis di Ruang Kelas
Sebagai pendidik yang setiap hari berinteraksi dengan murid di lingkungan SMP, SMA, dan SMK Muhammadiyah, saya melihat langsung pergeseran pola pikir mereka. Di ruang-ruang kelas, ketika nilai-nilai Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK) diajarkan secara normatif dan tekstual, para remaja sering merasa asing. Doktrin keorganisasian riskan dipahami sekadar sebagai materi hafalan untuk mengejar nilai ujian, bukan sebagai jalan hidup (way of life) yang menggetarkan dada.
Namun, situasi berbeda terjadi ketika mereka menghadapi isu-isu sosial yang nyata. Saat melihat teman sebaya mengalami kesulitan atau ada warga yang membutuhkan bantuan, rasa empati mereka meledak. Ada perbedaan yang semakin lebar antara struktur ideologi resmi organisasi dan kondisi psikologis para murid.
Padahal, jika kita melihat dasar pokok dari organisasi ini, seperti Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCH) serta Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM), Islam tidak didesain hanya sebagai ajaran yang hanya berlangsung di dalam tempat ibadah. Islam adalah ajaran yang menyatu dengan kehidupan nyata, sebuah paham keagamaan yang menggerakkan amal saleh dan mendorong pembangunan peradaban di tengah masyarakat.
Reaktualisasi Manhaj Tarjih dan Risalah Islam Berkemajuan
Ketika KH Ahmad Dahlan pada mulanya menggerakkan Teologi Al-Ma’un, beliau membuka jalan dengan mendirikan panti asuhan dan sekolah rakyat untuk menjawab kepedulian atas kemiskinan abad ke-20. Tantangan abad ke-21 adalah tentang bagaimana mengembalikan ruang empati tersebut di tengah era digital.
Di sinilah pentingnya membaca kembali Risalah Islam Berkemajuan (RIB) serta semangat Manhaj Tarjih secara aktif dan terus-menerus. Manhaj Tarjih tidak boleh direduksi sekadar sebagai instrumen untuk menetapkan hukum fiqih ritual atau perbedaan tata cara salat. Lebih dari itu, Manhaj Tarjih adalah cara berpikir yang melibatkan teks keagamaan atau wahyu (bayani), akal yang jernih (burhani), dan intuisi (irfani) untuk menghasilkan pemahaman yang progresif (tajdid).
Risalah Islam Berkemajuan meminta warga Muhammadiyah untuk terus hadir dan memberikan jawaban terhadap berbagai masalah kemanusiaan yang terjadi di masa kini. Karena Generasi Z lebih akrab dengan algoritma media sosial daripada ruang rapat formal, maka nilai-nilai Kemuhammadiyahan perlu diungkapkan melalui bahasa visual, narasi yang menyentuh, dan tindakan nyata yang relevan dengan mereka.
Rekonstruksi Perkaderan Masa Depan
Perkaderan Muhammadiyah masa depan tidak boleh terjebak dalam formalisme administratif yang kaku. Menyiapkan sepiring nasi bagi orang yang membutuhkan di jalanan, melakukan aksi peduli lingkungan, sampai meracik konten positif yang memperluas wawasan melalui media sosial adalah cara baru bagi pembentukan karakter para kader.
Kader yang berkemajuan di era digital bukan hanya mereka yang hafal struktur dan bagan organisasi, tapi juga mereka yang bisa mewujudkan nilai tauhid dan kemanusiaan dalam tindakan nyata yang adaptif terhadap zaman.
Jika Muhammadiyah ingin tetap relevan di abad keduanya, organisasi ini harus berani melewati batasan-batasan formal yang menghambat energi kebaikan generasi muda. Muhammadiyah di masa depan tidak ditentukan oleh seberapa megah bangunan yang ada, tetapi oleh seberapa dalam nilai-nilainya hidup di dalam dada dan jemari anak-anak muda yang bergerak di jalanan.
*Didit Nurcahya, S.Fil.I. Mahasiswa Sekolah Ideologi Muhammadiyah (SIM) Angkatan 2 PWM DIY
