WONOSARI (kupass.com) – Ada yang istimewa dari penyelenggaraan Musim Haji 1447 Hijriah atau tahun 2026 kali ini. Pemerintah secara resmi menetapkan tema khusus, yakni “Wujudkan Haji Ramah Lansia, Disabilitas, dan Perempuan“.
Tema yang diusung ini semakin menegaskan komitmen pemerintah untuk menghadirkan fasilitas yang lebih aksesibel dan menjaga kenyamanan seluruh jamaah. Hal ini sekaligus menjadi bukti nyata bahwa standar pelayanan jamaah haji terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Komitmen serupa juga dipegang teguh oleh Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Kabupaten Gunungkidul. Pihak panitia terus berupaya maksimal memberikan layanan terbaik agar seluruh jamaah senantiasa merasa aman, nyaman, dan kelak kembali ke tanah air sebagai haji yang mabrur.
Penantian 14 Tahun yang Berbuah Manis
Pada momentum keberangkatan jamaah haji tahun ini, Kabupaten Gunungkidul memiliki satu sosok jamaah yang sangat istimewa. Ia adalah Ibu Nur Hayati Su’ali, seorang calon haji penyandang disabilitas netra yang berasal dari Desa Logandeng, Kapanewon Playen, Gunungkidul.
Perjalanan spiritual Nur Hayati untuk bisa menginjakkan kaki di Tanah Suci tidaklah mudah. Pada awalnya, ia sempat merasa takut dan ragu untuk mendaftar haji. Kondisi fisik yang dimilikinya sering kali membuatnya merasa minder untuk melangkah lebih jauh.
Namun, berkat kesabaran dan dukungan penuh dari sang suami yang terus membimbingnya sejak tahun 2009, hati Nur Hayati akhirnya luluh. Ia memantapkan niat dan resmi mendaftar haji pada tahun 2012 silam. Setelah penantian panjang selama 14 tahun, panggilan ke Baitullah itu akhirnya tiba.
Nur Hayati mengaku sangat terharu dan bersyukur karena impian terbesarnya untuk bersujud di Tanah Suci akhirnya dikabulkan oleh Allah SWT.
“Saya merasa sangat bangga, bahagia, haru, dan bersyukur atas karunia Allah ini. Diberikan kesempatan umur dan kesehatan untuk beribadah menunaikan rukun Islam ke-5,” ungkap Nur Hayati dengan nada haru.
Pesan Inspiratif untuk Teman Difabel
Di sela-sela rasa syukurnya, Nur Hayati juga menitipkan pesan yang sangat mendalam bagi rekan-rekan sesama penyandang disabilitas di manapun berada. Ia berharap kisahnya dapat menjadi pemantik semangat bagi mereka yang memiliki keterbatasan fisik namun memendam rindu yang sama.
“Dengan berangkatnya kami ke Tanah Suci, saya berpesan kepada kawan-kawan difabel, jangan pernah minder dan jangan ragu. Jika Allah mengizinkan dan ada rezeki, segerakanlah mendaftar untuk berangkat ke Tanah Suci,” pungkasnya memberikan motivasi.
