WONOSARI (kupass.com) – Korps Mubaligh Muhammadiyah (KMM) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Gunungkidul terus menunjukkan komitmennya dalam syiar Islam. Salah satu upaya utamanya adalah dengan konsisten meningkatkan kualitas dan kapasitas para kader pendakwah.
Saat ini, puluhan kader pendakwah telah diterjunkan ke berbagai masjid untuk mendampingi proses belajar keagamaan masyarakat. Mereka dituntut memiliki kompetensi khusus agar benar-benar mumpuni saat menjadi tempat bertanya dan rujukan bagi jamaah.

Peningkatan kualitas dan kemampuan dalam bidang keagamaan ini terus digenjot sebagai bagian dari ikhtiar PDM Gunungkidul untuk memaksimalkan pelayanan persyarikatan kepada masyarakat luas.
Kiprah Mubaligh Meluas Hingga ke Australia
Menariknya, saat ini anggota KMM PDM Gunungkidul tidak hanya memberikan pelayanan dakwah di area Gunungkidul saja. Beberapa di antaranya kerap mendapat undangan tausiyah hingga ke luar wilayah Gunungkidul. Bahkan, salah satu anggota KMM saat ini tengah mengemban amanah istimewa sebagai imam dan khatib selama Ramadan 1447 Hijriah di Benua Australia.
Merespons semakin berkembangnya media dakwah dan meluasnya lahan syiar yang ada, KMM PDM terus berbenah. Salah satu langkah konkretnya adalah dengan mengadakan pembinaan dan pemberian motivasi rutin bagi anggota KMM setiap bulannya.
Pentingnya Bahasa Ibu dalam Komunikasi Dakwah
Ketua PDM Gunungkidul, Drs. Sadmonodadi, M.A., dalam acara evaluasi KMM yang digelar pada hari Senin (05/05/2026), menyampaikan bahwa keberadaan KMM sangat dirasakan manfaatnya oleh jamaah di tingkat grassroot. Oleh karena itu, tim KMM harus terus berinovasi meningkatkan kompetensinya.

“Sangat penting bagi para asatidz untuk terus meningkatkan kemampuan diri, terutama belajar menguasai bahasa ibu atau bahasa lokal yang ada, seperti bahasa Jawa Kromo Inggil. Hal ini penting agar komunikasi dengan jamaah, terutama saat berhadapan dengan kelompok sesepuh, dapat berjalan sopan dan pesan dakwahnya tersampaikan sesuai yang diharapkan,” ungkap Sadmonodadi.
Selain kecakapan komunikasi kultural, Sadmonodadi juga mendorong para mubaligh untuk terus memperkaya pembelajaran, seperti menambah hafalan hadis serta mendalami pengetahuan keagamaan spesifik. Bekal ini diyakini akan meningkatkan rasa percaya diri asatidz saat memaparkan materi kepada jamaah.
Sejalan dengan hal tersebut, Ketua KMM PDM Gunungkidul, H. Budhi Harjo, S.H., M.H., menaruh harapan besar pada jajarannya. Ia berharap kawan-kawan asatidz mampu hadir menjadi solusi dan jawaban atas berbagai problematika umat di tengah masyarakat.
“Semoga KMM bisa terus memberikan dampak positif yang nyata bagi keberlangsungan dakwah Islam, khususnya di Bumi Handayani Gunungkidul,” pungkasnya.
