Sleman (kupass.com) – Forum pengajian membahas Ujian Nabi Ibrahim Idul Adha sebagai ujian keimanan: bagaimana Ibrahim menjalankan perintah Allah, tanpa menjelaskan semuanya, hingga akhirnya hikmah resiliensi bisa diterapkan dalam kehidupan.
Setelah Nabi Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail, yang muncul adalah kekhawatiran atas keluarga yang ditinggalkan. Namun yang paling utama, Ibrahim tidak diam karena tidak peduli, melainkan karena ia sedang menjalankan perintah Allah SWT.

Ujian Nabi Ibrahim Idul Adha: Hajar dan Ismail ditinggalkan di Mekah
Ibrahim membawa Hajar dan Ismail ke Mekah dan ditinggalkan di sana. Di titik inilah ujian keimanan diuji: Hajar mungkin ingin jawaban, tetapi Ibrahim tetap diam karena perintah ilahi. Hajar pun memahami setelah menyadari Ibrahim hanya diam karena tuntunan Allah, bukan karena mengabaikan.
Dalam surat Ibrahim ayat 37, doa Nabi Ibrahim mengisyaratkan tujuan kebaikan bagi keturunannya di sekitar Baitullah yang dihormati—agar mereka mendirikan salat, hati manusia cenderung kepada mereka, dan rezeki diberikan agar bersyukur.
Perintah menyembelih Ismail sebagai puncak ketaatan
Tahap berikutnya adalah perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih Nabi Ismail. Ini digambarkan sebagai ujian keimanan terbesar—puncak cinta, ketaatan, dan keikhlasan mutlak seorang hamba kepada Sang Pencipta. Di akhir ujian, keduanya lulus, dan Allah mengganti Ismail dengan seekor hewan kurban.
Firman Allah dalam Q.S. As-Saffat ayat 102 menampilkan dialog yang menegaskan kesediaan dan kesabaran: Ibrahim bermimpi bahwa ia menyembelih Ismail, lalu Ismail menjawab untuk melakukan apa yang diperintahkan Allah dan menguatkan ayahnya agar termasuk orang-orang yang sabar.
Penerapan resiliensi dari Ujian Nabi Ibrahim Idul Adha
Nilai yang bisa diambil dari Ujian Nabi Ibrahim Idul Adha bukan hanya kisah, tetapi juga latihan batin untuk menghadapi hidup.
- Sabar sebagai perisai: menahan emosi dan tidak mudah frustrasi saat menghadapi musibah. Sabar menjadi bukti nyata kualitas keimanan.
- Syukur sebagai penguat: menghargai nikmat yang tersisa. Syukur membantu menurunkan dampak negatif dari trauma atau kejadian buruk.
- Doa dan ibadah: sholat dan dzikir sebagai sarana untuk mencurahkan emosi serta mendapatkan ketenangan batin.
Pengajian bakda Maghrib
- Hari, tanggal: Selasa, 16 Dzulhijjah 1447 H / 02 Juni 2026
- Tempat: Masjid Jenderal Sudirman, Kompleks Kolombo, Caturtunggal, Depok, Sleman
- Penceramah: Gathut Satrio Winahyu, ST., MCHt.
- Pencatat: Sugani
Semoga bermanfaat.
