Wisata

Memacu Adrenalin, Spot Destinasi Ini Hanya Ada di Teras Kaca

Panggang, (kupass.com)–Keindahan Pantai Selatan Gunungkidul memang tak ada habisnya. Hadirnya banyak wahana di Gunungkidul menjadi daya tarik bagi wisatawan. Satu yang patut dicoba yaitu wahana Jogja Swing yang dimiliki oleh Teras Kaca, Pantai Nguluran, Girikarto, Panggang.

Mula-mula pengunjung datang dengan Harga Tiket Masuk (HTM) senilai Rp. 15 ribu. Pihak pengelola juga menyediakan sejumlah paket dari paket 1, 2 dan 3. Untuk mencoba Jogja Swing, pengunjung bisa membeli paket 3 senilai Rp 100 ribu dengan fasilitas Tiket Masuk, Teras Kaca, Giant Chair, Glass Boat, Kuda Laut, Pink Door, The Blue Paradise, Giant Terazzz, Jogja Swing, Ngopi On The Sea dan VIP Room.

Untuk mencoba Jogja Swing, pengunjung dilengkapi sabuk keamanan yang dikaitkan pada tempat duduk yang berada di ayunan. Tali panjang ayunan terpasang di sisi tebing.

Setelah seluruh standar keamanan terpasang, pengunjung akan diayunkan dengan arah Samudra Hindia. Adapun ketinggian ayunan sendiri mencapai 30 meter.

Manager Marketing Teras Kaca, Gabilla Nasution mengatakan, pihaknya memastikan keamanan dari wahana Jogja Swing. Menurutnya, standar keamanan yang ada merupakan standar international.

“Wahana ini cukup banyak diminati karena sangat memacu adrenalin,� ujarnya.

Dikatakan Gabilla, Jogja Swing sendiri terinspirasi dari Bali Swing. Bedanya, Jogja Swing milik Teras Kaca menghadap langsung Samudra Hindia selain itu juga satu-satunya di Yogyakarta.

“Pengunjung pasti puas karena Jogja Swing selain wahana adrenalin namun juga bisa menambah koleksi foto foto para pengunjung yg tidak ada di tempat lain selain di Teras Kaca,� tandas dia.

Catatan Redaksi: Pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan tulisan dapat mengirimkan sanggahan atau koreksi (sesuai Pasal 1 ayat 11 & 12 UU Pers No. 40/1999) melalui email: [email protected]

Ditulis oleh

Fajar Risdiyanto adalah Redaktur Pelaksana sekaligus jurnalis KUPASS.com. Ia meliput beragam peristiwa, pemerintahan, dan kehidupan masyarakat di Gunungkidul.

Tulisan lain dari Fajar Risdiyanto →