Feature

Elang Jawa Nglanggeran: Momen Langka Kontributor Kupass Saat Mendaki Gunung Api Purba

Patuk, Gunungkidul, Yogyakarta — Pendakian Gunung Api Purba Nglanggeran selalu menyimpan kejutan, bahkan bagi mereka yang sudah berulang kali menapaki jalurnya. Kali ini, kontributor Kupass yang mencoba sendiri rute trekking setinggi 700 meter di atas permukaan laut itu pulang membawa cerita tak biasa: perjumpaan dengan elang jawa Nglanggeran di puncak gunung.

Meski disebut-sebut ramah untuk pemula, jalur menuju puncak Nglanggeran bukan tanpa tantangan. Di kanan dan kiri jalan setapak, bebatuan raksasa berdiri kokoh mengapit pendaki yang perlahan menapaki tanjakan. Namun jerih payah itu terbayar oleh panorama luas yang terbentang dari wilayah Klaten hingga Yogyakarta, membuat rute ini tetap digemari meski medannya tak sepenuhnya datar.

Elang Jawa Nglanggeran. Bertemu Elang Jawa Di Jalur Gunung Api Purba - foto pendukung-2
Elang Jawa Nglanggeran. Ilustrasi AI: Bertemu Elang Jawa Di Jalur Gunung Api Purba

Jalur Berpos Empat dengan Gazebo Peneduh

Sepanjang jalur pendakian, pengelola menyediakan empat pos peristirahatan lengkap dengan gazebo. Fasilitas ini memudahkan pendaki mengatur napas sebelum melanjutkan perjalanan. Rimbunnya pepohonan di sepanjang jalur juga membuat pendakian tetap nyaman dilakukan baik pagi maupun siang hari, karena sengatan matahari tertahan oleh kanopi daun.

Satu Jam Sepuluh Menit Menapaki Tanjakan

Kontributor Kupass memulai pendakian pukul 07.50 WIB. Rute yang dilalui berupa tanjakan, celah batu yang sempit, serta anak tangga yang harus dinaiki satu demi satu. Beberapa kali perjalanan dihentikan sejenak di pos-pos peristirahatan sebelum akhirnya tiba di puncak pada pukul 09.00 WIB.

Menurut pengamatan langsung di lapangan, medan Nglanggeran sebenarnya tidak terlalu berat. Kuncinya ada pada ritme: mengatur napas dan menjaga kecepatan jalan agar tubuh tidak cepat lelah saat tanjakan semakin curam.

Momen Tak Terduga: Elang Jawa Nglanggeran Melintas di Puncak

Begitu tiba di puncak, kejutan datang tanpa diduga. Tiga ekor elang jawa mendadak muncul, melayang rendah mengitari kawasan konservasi Gunung Api Purba, sembari melepas lengkingan khasnya yang menggema di udara.

Perjumpaan semacam ini tergolong langka mengingat elang jawa termasuk satwa yang dilindungi dan populasinya terus menyusut di alam liar. Kehadirannya di langit Nglanggeran sekaligus jadi penanda bahwa kawasan ini masih menyimpan ekosistem yang cukup sehat bagi predator puncak rantai makanan.

Jambu Mete, Kakao, dan Kantin Kejujuran di Jalur Turun

Dalam perjalanan turun, mata disuguhi pemandangan tanaman khas yang tumbuh liar di sekitar jalur, mulai dari jambu mete hingga pohon kakao. Tak jauh dari situ, ada hal unik yang menarik perhatian: sebuah cooler box ukuran sedang memuat berbagai pilihan minuman dingin, diletakkan begitu saja di pinggir jalur.

Pendaki bisa mengambil minuman sesuai kebutuhan, lalu membayar sejumlah uang yang tertera pada label harga. Warga setempat menyebutnya kantin kejujuran, sistem jual beli yang mengandalkan kepercayaan tanpa penjaga.

Weekday, Waktu Favorit untuk Mendaki Lebih Lengang

Secara keseluruhan, satu putaran pendakian dari aula hingga kembali ke area parkir memakan waktu sekitar dua jam. Tak sedikit pengunjung yang sengaja memilih hari kerja untuk mendaki, menghindari keramaian yang biasa terjadi saat akhir pekan, ketika jalur Gunung Api Purba Nglanggeran dipadati para pendaki dari berbagai daerah.