Inilah 5 Kepribadian Haji dan Kurban

Topik yang cukup hangat menjelang Ibadah Haji dan Kurban, kami akan sampaikan dalam tulisan pendek kali ini, selamat membaca tentang 5 Kepribadian Haji dan Kurban dibawah ini.

1. Kepribadian Tauhid

  1. Sama-sama memenuhi panggilan Allah, tercermin dalam kalimat Talbiyah di atas
  2. Ibadah kurban merujuk kepada keluarga Nabi Ibrahim yang mematuhi perintah Allah
    Firman Allah

    ‎فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعۡىَ قَالَ يٰبُنَىَّ اِنِّىۡۤ اَرٰى فِى الۡمَنَامِ اَنِّىۡۤ اَذۡبَحُكَ فَانْظُرۡ مَاذَا تَرٰى‌ؕ قَالَ يٰۤاَبَتِ افۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُ‌ سَتَجِدُنِىۡۤ اِنۡ شَآءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيۡنَ
    Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS. As Saffat : 102)

2. Kepribadian Pejuang/Mujahid

  1. Memerlukan biaya dan tenaga serta waktu
    ✅ Menunggu waktu untuk antri karena banyaknya yang berhaji.
    ✅ Memilih hewan yang gemuk, sehat dan cukup umurnya serta tanpa cacad
  2. Tidak berlaku curang dalam beribadah > jalan pintu pintas haji yang akhirnya tertipu dan ditangkap serta diportasi selama 10 tahun dilarang Umrah atau Haji

3. Kepribadian Syakirin (bersyukur)

  1. Tidak paksaan dalam beribadah, seperti : Shalat dalam keadaan berdiri > duduk > berbaring > isyarat > dishalatkan
  2. Mematuhi perintah Allah
    Firman Allah
    ‎وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
    “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari kewajiban haji, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali Imran : 97)
  3. Berkurbanlah sebagai wujud tanda syukur kepada Allah.
    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:
    ‎مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ, فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا
    “Barangsiapa yang mempunyai kelapangan rezeki (harta) tetapi tidak mau berkurban maka jangan sekali-kali mendekati tempat sholat kami.” (HR Ahmad (2/321), Ibnu Majah 3123, Al-Hakim (4/349), Ad-Daruquthni, Al-Baihaqi)

4. Kepribadian Sosial Kemasyarakatan

  1. Ibadah Haji dan Kurban dilaksanakan oleh seluruh umat Islam baik haji di Mekkah maupun di kampung masing-masing
  2. Terciptanya kerjasama antara yang berhaji, yang berkurban dengan pemerintah dan masyarakat setempat
    Daging kurban diberikan kepada yang berhak menerimanya, yaitu :
    a) Shohibul Qurban
    Orang yang berkurban atau disebut shohibul qurban berhak mendapatkan 1/3 daging kurban. Dalam Hadis Riwayat Ahmad, Nabi Muhammad SAW bersabda “Jika di antara kalian berqurban, maka makanlah sebagian qurbannya” (HR Ahmad).
    Namun ada yang perlu diingat, bahwa orang yang berkurban tidak boleh menjual kurban bagiannya, baik dalam bentuk daging, bulu, maupun kulit.
    b)Tetangga sekitar, teman, dan kerabat
    Daging kurban boleh dibagikan kepada kerabat, teman, dan tetangga sekitar meski mereka berkecukupan. Besarnya daging kurban yang diberikan adalah sepertiga bagian.
    c) Fakir miskin
    Fakir miskin berhak mendapatkan daging hewan kurban. Salah satu tujuan dari berkurban adalah saling berbagi kepada mereka yang membutuhkan. Fakir miskin mendapatkan jatah 1/3, dan shohibul kurban juga dapat menambahkan jatah hewan kurban untuk fakir miskin dari bagian kurbannya. Seperti firman Allah dalam QS. Al-Hajj ayat 28:
    “Makanlah sebagian dari daging kurban dan berikanlah kepada orang fakir.”

5. Saling menolong dalam kebaikan dan taqwa.
Firman Allah

‎إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Hujurat : 10)

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya [QS. al-Mâidah : 2).

Dengan jelas, ayat di atas memuat kewajiban saling membantu di antara kaum Mukminin untuk menegakkan agama dan larangan bagi mereka untuk bekerjasama dalam menodainya.

Bukan sebaliknya yaitu malahan melemahkan semangat beramal orang, mengejek orang yang berusaha konsisten dengan syariat maupun menjadi dalang tersebarnya perbuatan maksiat di tengah masyarakat.

Wallâhu a’lam.

PENGAJIAN AHAD PAGI
🗓 Hari, tgl : Ahad Pahing, 02 Dzulhijjah 1445 H./ 09 Juni 2024 M
🕌 Tempat : Masjid Al Mubarok, Tukangan, Danurejan, Yogyakarta
🎤 Penceramah : Marzuki
✍️ Pencatat : Sugani
🌍 Catatan Terdahulu Bisa Baca di Rubrik OASE kupass.com