Hadir di PDM Cup #4, Pendekar Besar DIY H. Fakhrudin Puji Militansi Tapak Suci Gunungkidul

Putranya kini melatih di Irak, Fakhrudin tegaskan Tapak Suci bukan sekadar bela diri, tapi jalan dakwah dan warisan budaya yang harus dipupuk sejak usia dini.

WONOSARI (kupass.com) – Gelaran Kejuaraan Tapak Suci PDM Cup #4 di Gedung Kesenian Wonosari kedatangan tamu istimewa. H. Fakhrudin, S.Pd.I., seorang Pendekar Besar sekaligus anggota Dewan Majelis Guru Pimpinan Wilayah Tapak Suci DIY, hadir langsung memberikan dukungan moril kepada ratusan atlet muda yang bertanding.

Dalam kunjungan tersebut, sosok senior di dunia persilatan Muhammadiyah ini mengaku takjub melihat antusiasme warga dan peserta di Gunungkidul yang selalu membludak di setiap kejuaraan.

Lebih dari Olahraga: Dakwah dan Olah Rasa

Bagi Fakhrudin yang telah menggeluti bela diri ini sejak belia, Tapak Suci adalah paket lengkap. “Tapak Suci itu olahraga yang luar biasa. Selain fisik, ini adalah seni bela diri asli Indonesia yang mengajarkan amar makruf nahi mungkar. Niat utamanya harus untuk dakwah,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa Tapak Suci memadukan keindahan gerak dengan kemampuan mengolah rasa. Inklusivitasnya pun teruji, bahkan kini telah dikembangkan kurikulum Tapak Suci khusus lansia untuk menjaga kebugaran di usia senja.

Filosofi Jurus dan Jenjang Pendekar

Dalam sesi wawancara, Fakhrudin sedikit membedah kekayaan teknik Tapak Suci. Siswa diajarkan berbagai jurus sesuai tingkatan, mulai dari Jurus Bunga Mawar Mekar, Katak, Lembu, hingga Harimau.

“Kebanyakan jurus ini berakar dari Yogyakarta, namun ada juga yang dikembangkan daerah lain, seperti Jurus Rajawali dari Jakarta atau Jurus Lembu dari Jember,” jelasnya. Untuk mencapai level Pendekar, seorang siswa harus melewati proses panjang dan berbagai ujian fisik maupun mental.

Tapak Suci Mendunia: Sang Putra Melatih di Irak

Kecintaan Fakhrudin pada Tapak Suci menular kepada keluarganya. Fakta menarik terungkap bahwa salah satu putranya kini menjadi pelatih Tapak Suci di Irak, membuktikan bahwa bela diri otonom Muhammadiyah ini telah diterima di kancah global.

Pesan Regenerasi: Mulai Sejak TK

Menutup perbincangan, Fakhrudin menitipkan pesan penting bagi warga Muhammadiyah Gunungkidul. Ia menekankan pentingnya regenerasi yang tidak boleh terputus.

“Perkaderan sebaiknya dimulai sejak usia Taman Kanak-kanak (TK), di mana anak-anak diajarkan kedisiplinan dengan cara yang gembira. Saya berterima kasih atas dukungan masyarakat Gunungkidul, jangan sampai terlambat dalam perkaderan, terus kembangkan Tapak Suci di sini,” pungkasnya.