“Engkau Akan Bersama Orang yang Kau Cintai”: Kekuatan Cinta dan Pentingnya Berteman dengan Orang Saleh

Sebuah hadits penuh harapan menjadi pengingat tegas bahwa lingkungan dan teman pergaulan adalah salah satu penentu nasib kita di akhirat.

YOGYAKARTA (kupass.com) – Salah satu hadits yang paling memberikan harapan dalam Islam bukanlah tentang banyaknya amalan, melainkan tentang kekuatan cinta. Hadits ini menjadi pengingat tegas tentang betapa krusialnya memilih teman bergaul. Dalam kajian Kitab Riyadush Shalihin (Bab 45) karya Imam An-Nawawi, dijelaskan bahwa cinta kepada orang saleh bisa menjadi salah satu jalan keselamatan kita.

Bergaul Dengan Orang Sholeh

Harapan dari Sebuah Kecintaan (Hadits Al-A’rab)

Kekuatan cinta ini tergambar dalam sebuah kisah masyhur yang diriwayatkan dari Anas RA.

Suatu hari, seorang Arab Badui (A’rab) datang bertanya kepada Rasulullah SAW, “Kapankah datangnya hari kiamat?”

Rasulullah SAW balik bertanya, “Apakah yang telah engkau persiapkan untuk menemuinya?”

Orang Badui itu menjawab, “Kecintaanku kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Maka Rasulullah SAW bersabda, “Engkau akan menyertai orang yang engkau cintai.” (Muttafaq ‘alaih).

Hadits ini memberikan dampak yang luar biasa. Anas RA, sang perawi hadits, kemudian berkata, “Aku mencintai Nabi SAW, Abu Bakar, dan Umar, dan aku berharap akan bersama mereka disebabkan kecintaanku pada mereka, walaupun amalku tidak seperti amalan mereka.”

Temanmu Adalah Cerminan Agamamu

Penjelasan dari hadits di atas sangat erat kaitannya dengan lingkungan. Disebutkan bahwa watak manusia bisa 75% tergantung pada lingkungannya. Jika kita mencintai orang saleh, secara alami kita akan berusaha bergaul dengan mereka dan meniru kebiasaan mereka.

Inilah mengapa Rasulullah SAW bersabda:

“Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Teman memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap agama, pandangan hidup, kebiasaan, dan sifat-sifat kita. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk memiliki teman akrab yang saleh, yang mau mengajak kita pada kebaikan seperti salat berjamaah dan hadir di majelis ilmu.

Siapa Sebaik-baik Teman?

Allah SWT sendiri telah menjelaskan siapa sebaik-baiknya teman yang harus kita cintai dan ikuti jejaknya. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

“Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (Q.S. An-Nisa’ ayat 69)

Panduan Praktis Memilih Sahabat

Berdasarkan dalil-dalil tersebut, ada beberapa langkah praktis yang harus kita lakukan:

  • Pandai Memilih: Kita harus pandai-pandai memilih teman bergaul. Kenali kualitas beragama dan akhlak calon teman kita.
  • Jauhi Lingkungan Buruk: Jauhilah teman bergaul yang jelek akhlaknya dan kerap melanggar ajaran agama, terutama jika kita tidak mampu mengubah mereka. Jangan sampai kita terhanyut dalam pergaulan yang penuh kemalasan dan kejelekan.
  • Lihat Efeknya: Lingkungan yang baik terbukti dapat mengubah seseorang. Banyak orang yang sebelumnya malas salat, akhirnya menjadi rajin karena pengaruh teman-temannya. Sebaliknya, banyak yang menjadi rusak pula karena salah memilih lingkungan pergaulan.

Catatan: Tulisan ini disarikan dari Pengajian Bakda Subuh di Masjid At Tahkim, Yogyakarta, yang diampu oleh Ustadz Fakhrurozi Abu Syamil pada Selasa (28/10/2025).