Momen ini sekaligus meneguhkan status EMT Muhammadiyah yang baru saja terverifikasi WHO, dengan fokus utama pada penanganan psikososial bencana.
SLEMAN (kupass.com) – Tepat untuk mengenang 15 tahun erupsi besar Gunung Merapi pada 26 Oktober 2010, Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) Muhammadiyah (dulu MDMC) menggelar Latihan Gabungan (Latgab) bagi relawan se-Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini berlangsung selama empat hari, 23-26 Oktober 2025, di kawasan lereng Merapi.

Latgab ini menjadi istimewa karena digelar hanya beberapa hari setelah Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah resmi diakui dan terverifikasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai tim medis kebencanaan berstandar internasional.
Fokus Baru: Pertolongan Psikologis Pertama (PFA) 🧠
Latgab kali ini mencakup semua lini pertolongan kebencanaan, mulai dari tim media centre, SAR, Dapur Umum, hingga tim psikososial. Kontingen dari Gunungkidul bahkan memberangkatkan relawan lengkap dengan mobil operasional dan ambulans siaga.

Salah satu yang menjadi sorotan utama dalam latihan gabungan ini adalah penanganan korban bencana yang rentan terhadap masalah psikologis, seperti anak-anak, perempuan, dan lansia. Pelatihan tidak hanya berfokus pada penyelamatan fisik, tetapi juga pemulihan mental.
Metode yang dilatihkan meliputi:
- PFA (Psychological First Aid): Yakni pertolongan pertama pada kondisi psikologis penyintas segera setelah kejadian.
- Trauma Healing: Proses lanjutan untuk memulihkan trauma.
- Pendampingan Lanjutan: Termasuk mengelompokkan level depresi dan membantu penyintas agar bisa mandiri serta kembali ke kehidupan sosial normal.
Sinergi Tim Medis dan Psikososial di Lapangan
Relawan Psikososial Gunungkidul, Linda Feristiana, S.Psi., menjelaskan bahwa teknis di lapangan menuntut sinergi kuat antara timnya dengan tim medis (EMT) yang baru saja terverifikasi WHO.
“Di lokasi bencana, kami biasanya bisa langsung mendampingi korban setelah penanganan medis fisik selesai. Atau bisa juga langsung menangani penyintas yang tidak mengalami cedera serius,” terang Linda.
Ia memaparkan alur kerjanya, “Kami akan mengumpulkan dan mengelompokkan penyintas berdasarkan usia untuk pendampingan klasikal. Di sanalah bisa didiagnosis, apakah ada penyintas yang harus ditangani lebih lanjut secara individual, atau sudah bisa mandiri.”
