Gandeng Balai Penyuluhan KB, sekolah ajak para ayah terlibat aktif dalam pengasuhan dan perbaikan gizi untuk melahirkan generasi unggul.
PLAYEN (kupass.com) – Dalam rangka menyongsong visi Indonesia Emas 2045, TK Islam Intensif(TKII) Waladun Sholihun menggelar “Kelas Orang Tua” pada Rabu (1/10/2025). Menggandeng ahli dari Balai Penyuluhan Keluarga Berencana (KB) Kapanewon Playen, acara ini membekali para orang tua murid dengan wawasan penting seputar pengasuhan dan tumbuh kembang anak.
Kepala Sekolah, Ustadzah Parsi, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan program rutin untuk memastikan adanya sinergi antara sekolah dan orang tua dalam mengasuh anak-anak.

Peran Vital Ayah dan Ancaman ‘Fatherless Nation’
Narasumber acara, Drs. Edi Pranoto, menyoroti salah satu isu krusial dalam pengasuhan modern: peran ayah. Ia mengajak para ayah untuk terlibat aktif dalam pengasuhan melalui gerakan “Ayah Teladan Indonesia”.
“Peran ayah sangat penting. Sangat disayangkan, saat ini Indonesia menempati posisi juara dalam kategori negara dengan tingkat fatherless (kehilangan peran ayah) tertinggi di dunia,” ungkap Edi. Keterlibatan ayah, menurutnya, adalah pilar penting dalam mewujudkan generasi penerus yang berkualitas.
Wujudkan Generasi Unggul: Gizi, Stimulasi, dan Lingkungan

Mengutip Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 9, Edi menekankan kewajiban untuk tidak meninggalkan generasi yang lemah. Untuk itu, ia memaparkan tiga faktor kunci yang harus diusahakan orang tua:
- Makanan Bergizi: Memastikan asupan gizi seimbang untuk mendukung kecerdasan dan kesehatan fisik.
- Stimulasi yang Tepat: Memberikan rangsangan yang sesuai dengan usia anak untuk mengoptimalkan perkembangan otaknya.
- Lingkungan yang Mendukung: Menciptakan suasana yang aman, ceria, dan positif bagi tumbuh kembang anak.
“Anak yang sehat, cerdas, dan ceria adalah indikator penting bahwa ia tumbuh dalam lingkungan yang baik,” tambahnya.
Tantangan Lokal dan Komitmen Sekolah
Edi juga memaparkan tantangan lokal di Gunungkidul, di mana rata-rata penduduk hanya mengenyam pendidikan selama 9 tahun (setara kelas VII SMP). Faktor ekonomi, pernikahan dini, dan rendahnya kesadaran menjadi penyebab utama.
“Anak-anak yang menempuh pendidikan usia dini saat inilah yang akan menjadi calon pemimpin di masa depan. Mereka adalah modal dasar kita, bonus demografi yang harus dikelola dengan baik,” tegasnya.
Menjawab tantangan ini, TKII Waladun Sholihun menunjukkan komitmennya secara menyeluruh. “Selain kelas orang tua, kami juga melakukan screening kesehatan bagi peserta didik yang melibatkan petugas dari Puskesmas Playen 1. Ini adalah bagian dari pelayanan kami untuk memastikan anak-anak tumbuh optimal,” tutup Ustadzah Parsi.
