Gunungkidul (kupass.com) – Kupass.Tahun Baru Hijriyah selalu mengingatkan kita bahwa waktu dalam Islam bukan sekadar hitungan hari, melainkan ruang untuk memperbarui kesadaran. Kepala Kantor Kementrian Agama (Kakankemenag) Kabupaten Gunungkidul, Dr. H. Mukotip, S.Ag., M.Pd.I., mengajak warga masyarakat untuk memaknai pergantian tahun dengan nilai-nilai harmoni dengan iman yang teguh.
Rangkuman Informasi Utama
Muharram menandai awal perjalanan kalender Islam tetapi lebih dari itu, ia membawa pesan mendalam tentang hijrah. Hijrah dalam pengertian yang paling hakiki bukan hanya perpindahan tempat, melainkan perpindahan sikap, cara pandang, dan orientasi hidup. Karena itu, setiap datangnya Muharram, umat Islam sepatutnya tidak hanya mengenang Muharram sebagai peristiwa historis, tetapi juga sebagai undangan moral untuk memperbaiki diri.

Dalam tradisi Islam, hijrah Nabi Muhammad SAW. dari Makkah ke Madinah mengandung makna peradaban. Di sana tampak bahwa perubahan besar selalu dimulai dari keteguhan iman dan kejernihan hati.
Hijrah bukan semata strategi bertahan hidup, melainkan langkah membangun tatanan yang lebih adil, lebih tertib dan lebih manusiawi. Dari sini kita belajar bahwa hijrah sejati tidak berhenti pada kesalehan personal, tetapi terus bergerak menuju kesalehan sosial.
Dalam konteks kehidupan beragama hari ini, pesan hijrah terasa semakin relevan. Kita hidup pada zaman ketika banyak orang pandai berbicara tentang nilai, tetapi tidak selalu hadir dalam tindakan. Ada semangat beragama yang kuat di permukaan, tetapi belum sepenuhnya terwujud dalam kejujuran, kepedulian, dan tanggung jawab sosial.
"Sebagai masyarakat yang majemuk, kita juga memerlukan hijrah dalam cara berinteraksi. Hijrah dari sikap saling curiga menuju saling percaya, dari egoisme menuju kepedulian, dari retorika menuju kerja nyata" terang Mukotip.
Dalam ruang sosial seperti itulah nilai-nilai Islam menemukan bentuknya yang paling nyata. Islam tidak kehilangan kemuliaannya ketika hadir dalam tindakan-tindakan sederhana: menolong yang lemah, menjaga akhlak di ruang publik, memperkuat pendidikan keluarga, dan merawat harmoni di tengah perbedaan. Di sinilah hijrah menjadi kerja kebudayaan sekaligus kerja peradaban.
Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan sosial yang berlangsung begitu cepat, masyarakat juga memerlukan pegangan nilai yang kokoh. Tidak sedikit persoalan yang muncul bukan karena kurangnya pengetahuan, melainkan karena lemahnya komitmen moral. Oleh sebab itu, hijrah harus dimaknai sebagai upaya memperkuat integritas, baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan publik.
nilai agama menjadi landasan dalam bertindak, maka kepercayaan sosial akan tumbuh dan kehidupan bersama dapat berjalan dengan lebih baik. Bagi saya, Muharram juga harus dibaca sebagai momentum meneguhkan kembali peran lembaga keagamaan dalam membimbing umat.
Kementerian Agama, para ulama, tokoh agama dan seluruh elemen masyarakat memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan agama sebagai sumber keteduhan, bukan ketegangan. Pesan hijrah sangat sejalan dengan misi itu. Ia mengajarkan bahwa pembaruan harus dimulai dari kesadaran, lalu diteruskan menjadi tindakan nyata dalam pelayanan, pendidikan dan pengabdian sosial.
Dalam konteks tersebut, hijrah tidak cukup diperingati melalui seremonial pergantian tahun semata. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana semangat hijrah diterjemahkan ke dalam agenda kehidupan sehari-hari. Keluarga menjadi ruang pertama untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan, lembaga pendidikan menjadi tempat membangun karakter, dan ruang publik menjadi arena untuk menghadirkan akhlak yang mulia.
Jika setiap individu berupaya melakukan perubahan ke arah yang lebih baik, maka perubahan sosial yang lebih luas akan mengikuti dengan sendirinya. Maka oleh karena itu, menyambut Muharram 1448 H, marilah kita jadikan hijrah bukan sekadar tema tahunan yang hadir dalam berbagai spanduk dan pengajian, melainkan orientasi hidup yang terus diperjuangkan.
Mengapa Ini Penting
Perkembangan ini penting diperhatikan pembaca karena berkaitan langsung dengan refleksi akhir tahun hijriyah dan dampaknya bagi masyarakat.
