Ada kisah menarik yang menggambarkan betapa bahaya dengan prasangka dan karenanya mata kita seringkali menipu. Ini adalah kisah tentang Seorang Penjahit dan Penjual Ikan. Disuatu Masa ada seorang Penjahit Tua yang sangat Pelit bin medit
Hasil Jahitanya sangat bagus sehingga banyak pelanggan datang kepadanya. Tapi dia tampak kikir bin pelit. Dia tak mau bersedekah seperti si Penjual Ikan tetangganya. Dia selalu membagikan ikan-ikannya hampir separo dari jualannya.
Warga sekitar sangat menyanjung, dan menghormatinya. Seorang Penjual ikan yang baik dan murah hati serta dermawan.
Hingga suatu saat datanglah seorang Keluarga Dhuafa yang kelaparan datang ke Penjahit Tua itu
“Tuan, kami orang miskin. Kami belum makan 2 hari. Mohon tuan berikan makanan atau uang untuk kami”
Si Penjahit menjawab
“Pulanglah saudaraku. Maaf aku tak bisa memberimu makanan atau uang”
Sambil menggerutu keluarga Dhuafa itu pulang
“Dasar Orang tua pelit. Kau tak seprti si Pedagang Ikan itu. Yang selalu memberi tanpa aku pinta”
“kau tak pantas bersama-sama kami masyarakat disini. Apalagi bertetangga dengan si Penjual ikan yang Dermawan”
Dan benar. Barusaja keluarga dhuafa itu sampai pintu Rumahnya. Datanglah si Penjual ikan ikan sambil membawa ikan-ikan segar yang gemuk-gemuk beserta beberapa kilogram beras
Keesokan harinya. Keluarga Dhuafa itu berkeliling kampung sambil berteriak
“saudara-saudara. Ketahuilah bahwa si Abah Penjahit itu makin lama makin pelit. Kami yang kelaparan tak di beri apapun saat kami minta kerumahnya. Berbeda dengan tetangga kita si Penjual ikan. Beliau tiap hari membagi-bagikan ikan segar kepada kita. Bahkan kemarin juga memberikan kami Beras”
“Maka dari itu saudara-saudara. Tak pantas Si Penjahit Tua itu bertetangga dengan kita. Apalagi bertetangga dengan si Penjual ikan”
Kata-kata si Dhuafa tadi membuat banyak orang terpengaruh. Mereka membenci si Penjahit Tua dan menyanjung si Penjual ikan
Lalu setelah beberapa waktu, penjahit tua itu jatuh sakit, dan tidak ada pun penduduk desa yang peduli kepadanya, lalu dia meninggal sendirian…Sehingga suatu saat sampailah takdirnya si Penjahit tua wafat.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Ada yang aneh di kampung itu. Tak ada lagi orang yang sedekah ikan atau beras. Hingga suatu saat sekelompok Masyarakat datang kepada si Penjual ikan
“Wahai Bapak penjual ikan. Ijinkan kami bertanya. Kenapa bapak akhir-akhir ini tak lagi membagikan ikan-ikan kepada kami”
Dengan meneteskan air mata si Penjual ikan berkata
“Ketahuilah saudaraku semua. Bahwa yang selama ini membagikan Uang, ikan dan beras itu bukan saya. Melainkan tetangga kita si Penjahit tua. Beliau setiap hari membeli ikan-ikan saya dan memintaku untuk membagikan kepada kalian. Termasuk uang dan Beras”
“Dan sekarang beliau telah Wafat di panggil Allah Ta”ala. Maka sejak itu tak ada lagi yang membeli ikan-ikanku dengan jumlah banyak dan di bagikan kepada kalian”
Saudaraku…
Janganlah memandang Orang yang tampak tak Baik. Bisa jadi dia jauh lebih baik daripada kita. Bahkan kepada Ahli maksiat sekalipun. Bisa jadi ketika kita menganggapnya hina. Pada saat itu dia sedang bersujud di atas sajadah dan berdoa mohon ampun kepadaNya
Allah itu Maha Tinggi. Tinggi sekali. Dan cara kita dekat denganNya adalah merendahkan diri dariNya, bukan meninggikan diri terhadapNya
Bisa jadi Orang bersedekah tapi tak mau terbakar amalnya. Maka ia pura-pura pelit. Dan satu nikmat yang kadang tak kita sadari adalah Ketika Allah menutupi Aib-aib kita
