Gunungkidul (kupass.com) – Masjid Al Mubarok di Logandeng menjadi tuan rumah kegiatan Gunungkidul Mengaji pada hari Sabtu, 13 Juni 2026.

Rangkuman Informasi Utama
Gunungkidul Mengaji kali ini membersamai pengajian sabtu pagi milik Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Logandeng dengan menghadirkan empat ustadz muda Gunungkidul dalam satu panggung.

Dihadiri oleh Lurah Logandeng dan jajarannya, event yang mengambil tema "Muhasabah Menjelang Pergantian Tahun Hijriyah" ini menjadi momen menarik dengan kehadiran ustadz-ustadz kebanggaan Gunungkidul dalam satu frame yang memberikan angin segar bagi perkembangan dakwah.
Ustadz Adik Ariyanta membuka kajian sabtu pagi dengan mengajak jamaah melakukan introspeksi diri atas perjalanan satu tahun yang telah berlalu, disusul dengan ustadz Sugiyarto yang menelisik pergantian tahun dari sisi sejarah Islam di tanah jawa.
Ustadz asal Wonosari inu menerjemahkan keberadaan kalender jawa di nusantara yang tidak terlepas dari peran Sultan Agung Hanyokrokusuma, penguasa tanah jawa sekaligus seorang pendakwah yang menjadi bagian dari Kasultanan Turki Ustmani.
Dalam perjalanan dakwahnya, Sultan Agung yang menggunakan metode kebudayaan dalam penyebaran agama Islam khususnya di tanah jawa, telah menancap sedemikian kuatnya dalam kehidupan masayarakat jawa, penggunaan metode dakwah Sultan Agung terus dilestarikan hingga hari ini.
Selain itu, hadir pula ustadz Junedra Rahmad, da’i muda yang pembawaannya khas dan dengan gaya humor cerdasnya sukses menyegarkan suasana pagi itu.
Keempat ustadz muda ini selanjutnya akan terus berkolaborasi dengan gerakan Gunungkidul mengaji yang nantinya diselenggarakan diseluruh kapanewon, bersama-sama dengan kegiatan pengajian sabtu pagi atau ahad pagi.
Kajian istimewa ini ditutup dengan do’a dan tausiyah dari ustadz Muhammad Arif Darmawan, mudir Pondok Pesantren Darul Khoir Nglipar yang juga ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PWPM) Daerah Istimewa Yogyakarta.
Mengapa Ini Penting
Perkembangan ini penting diperhatikan pembaca karena berkaitan langsung dengan gunungkidul mengaji bersama empat dan dampaknya bagi masyarakat.

