Ada kajian menarik tentang Menjauhi Prasangka, semoga kita bisa mendapatkan manfaatnya. Selamat mengikuti. Kajian kali ini terasa spesial karena Tafsir Tematik.
Tafsir Tematik Al Quran surat ke 49 Al Hujurat (Kamar-kamar)
Allah ta’ala berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٞ ۖ وَلَا تَجَسَّسُواْ وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمۡ أَن يَأۡكُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتٗا فَكَرِهۡتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٞ رَّحِيمٞ
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Ĥujurāt 49:12)
Keterangan: Kelanjutan larangan yang tersebut di ayat 11 adalah hal-hal berikut :
- Larangan berprasangka khususnya prasangka buruk (Su-uzhon), adapun Husnuzhon tetapi keliru tidak mengapa. Waspada adalah baik. Curiga perlu berhati-hati > arahnya ke su-uzhon
- Dilarang Tajassus yaitu mencari-cari kesalahan orang kecuali petugas yang profesinya sebagai aparat penegak hukum dan pengadilan. Contohnya : Polisi sebagai : intelijen, mata-mata, menyamar.
- Menggunjing (Ghibah) = Ghoib (tersembunyi) yaitu membicarakan keburukan orang dibelakangannya. Diibaratkan kebutuhannya seperti memakan daging mayor saudaranya.
Di samping itu cukup banyak hadits yang juga melarangnya, antara lain:
عَنْ أَبِي بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلْ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنْ يَتَّبِعْ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعْ اللَّهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ يَتَّبِعْ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ
Dari Abu Barzah Al Aslamy berkata; Rasulullah SAW bersabda: “Wahai orang yang imannya masih sebatas lisannya dan belum masuk ke hati, janganlah kalian mengghibah (menggunjing) orang-orang muslim, janganlah kalian mencari-cari aurat (‘aib) mereka. Karena barang siapa yang selalu mencari-cari kesalahan mereka, maka Allah akan membongkar kesalahannya, serta barang siapa yang diungkap auratnya oleh Allah, maka Dia akan memperlihatkannya (aibnya) di rumahnya.”[HR. Ahmad, No 18940]عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ أَخَذَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَخَذَ عَلَى النِّسَاءِ أَوْ النَّاسِ أَنْ لَا نُشْرِكَ بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا نَسْرِقَ وَلَا نَزْنِيَ وَلَا نَقْتُلَ أَوْلَادَنَا وَلَا نَغْتَبْ وَلَا يَعْضَهَ بَعْضُنَا بَعْضًا وَلَا نَعْصِيَهُ فِي مَعْرُوفٍ فَمَنْ أَتَى مِنْكُمْ حَدًّا مِمَّا نُهِيَ عَنْهُ فَأُقِيمَ عَلَيْهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ وَمَنْ أُخِّرَ فَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ
Dari ‘Ubadah bin Ash Shamit berkata: Rasulullah SAW membaiat kami seperti membaiat kaum wanita atau semua orang: (1) kami tidak boleh menyekutukan Allah dengan apa pun, (2) tidak mencuri, (3) tidak berzina, (4) tidak membunuh anak, (5) tidak ghibah satu sama lain, (6) tidak mendurhakai beliau dalam kebaikan. Barangsiapa diantara kalian melakukan tindakan yang dilarang kemudian hukuman ditegakkan padanya, maka itu adalah kafarat baginya dan siapa yang menunda maka urusannya berpulang kepada Allah, bila berkehendak Ia akan menyiksa dan bila berkehendak Ia akan mengampuni.”[HR. Ahmad, No 21672]
Berikut ini Akibat dari Perbuatan Ghibah
Bagi Obyek Ghibah
- Menimbulkan kesan buruk bagi obyek ghibah oleh karena pembunuhanpada karakternya. Allah menggambarkan orang yang berghibah sebagai pemakan bangkai saudaranya. Akibat perbuatannya saudaranya menjadi “bangkai”.
- Pencitraan buruk membuat hati menjadi tidak enak dan semangat menjadi lemah.
- Orang yang tidak punya semangat tidak mampu berbuat apa-apa.
- Orang yang tidak bisa berbuat apa apa seperti mayat atau bangkai.
Bagi yang berghibah:
- Mengundang orang lain melakukan hal yang serupa terhadapnya.
- Sudah menjadi naluri manusia melakukan pembalasan kepada orang-orang yang melakukan kejahatan terhadap dirinya.
- Orang yang suka berghibah menjadi sasaran ghibah orang lain.
- Mendatangkan siksa kubur;
- Mendatangkan siksa neraka;
USAHA MENINGGALKAN GHIBAH
- Menghindari orang-orang yang senang berghibah dan menjauhkan mereka dari lingkungan pergaulan kita. Kita pilih orang-orang saleh menjadi sahabat-sahabat dekat kita.
- Bila terdengar atau terlihat oleh kita acara-acara yang berisi ghibah di radio atau televisi, segera matikan atau pindah channel yang acaranya baik.
- Bila pada tabloid, koran, majalah, atau bacaan lainnya berisi ghibah, tinggalkan.
- Bila ada orang datang kepada kita dan berbicara ghibah, ingatkan dan minta berhenti atau tinggalkan bila tetap saja bicara.
- Bila dalam majlis pembicara berghibah, ingatkan atau tinggalkan majlis. Insya Allah kita akan selamat.
- Bagi orang-orang yang bisa meninggalkan ghibah diberikan kabar gembira, berupa kebebasan dari api neraka sebagaimana hadits dari Asma’ binti Yazid dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Barangsiapa menahan diri dari memakan daging saudaranya dalam Ghibah, maka menjadi kewajiban Allah untuk membebaskannya dari api neraka.” (HR. Ahmad Hadits No 26327)
Juga hadits dari Abu Darda’ dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Barangsiapa yang menahan ghibah terhadap saudaranya, maka Allah akan menyelamatkan wajahnya dari api neraka kelak pada hari kiamat.”. (HR. Tirmidzi Hadits No 1854)
Marilah kita jaga mulut, mata, dan semua anggota tubuh kita dari ghibah.
PENGAJIAN SABTU SIANG
🗓 Hari, tgl : Sabtu, 10 Dzulqaidah 1445 H./ 18 Mei 2024 M
🕌 Tempat : Masjid Al Ikhwan, Gg. Jragem, Nandan, Sariharjo, Ngaglik, Sleman
🎤 Penceramah : Fathul Hilal
✍️ Pencatat : Sugani
