Nglipar (kupass.com) – Pakde Nyoto, begitulah beliau biasa dipanggil oleh rekan-rekan seperjuangannya. Kiprahnya dalam dunia relawan telah dibuktikan dengan kerja nyata, sebagaimana namanya "Nyoto".
Kronologi dan Kondisi Terkini
Banjir bandang yang melanda Gunungkidul pada 2017 menjadi salah satu bencana yang dimana Pakde Nyoto secara totalitas membantu masyarakat terdampak, meskipun rumah dan keluarganya sendiri juga kebanjiran saat itu.

Pria yang tinggal di Jeruk Legi, Katongan, Nglipar ini mulai bergabung dengan relawan Muhammadiyah pada tahun 2018.
Dengan jiwa sosial yang tinggi dan berpegang pada pedoman Muhammadiyah, "Khairunnass, anfa’uhum linnass" yakni sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain, menjadi pegangan bagi Nyoto untuk mengabdi pada kemanusiaan melalui Muhammadiyah.
"Jiwa saya ini jiwa sosial, dan pada prinsipnya saya senang membantu orang lain" terang Nyoto.
Saat ini Pakde Nyoto tergabung dalam satuan tugas kekeringan atau Satgas Penanggulangan Kekeringan Gunungkidul untuk area Nglipar dan sekitarnya.
Ratusan tangki air telah disalurkan ke tandon-tandon milik warga, memenuhi kebutuhan air bersih akibat kemarau yang panjang tahun ini.
Lebih dari 7 bulan hujan tidak turun, sedangkan warga terdampak sebagian besar memanfaatkan air hujan yang ditampung dalam bak besar untuk digunakan selama musim kemarau.
Kiprah Pakde Nyoto menjadi salah satu kisah inspiratif dari Gunungkidul, meski usia tidak lagi muda, Pakde Nyoto totalitas dalam mengabdikan diri untuk kemanusiaan.
Mulai Dari Banjir Hingga: Mengapa Ini Penting
Perkembangan ini penting diperhatikan pembaca karena berkaitan langsung dengan mulai dari banjir hingga dan dampaknya bagi masyarakat.

