Keutamaan Bulan Ramadan: Perisai Api Neraka dan Dua Kegembiraan bagi Orang Beriman

KUPASS.COM Bulan suci yang dinanti-nanti oleh umat Muslim sedunia akan segera tiba. Terdapat banyak Keutamaan Bulan Ramadan yang membuatnya jauh lebih istimewa dibandingkan bulan-bulan lainnya, sebagaimana diriwayatkan dalam berbagai hadis sahih.

Disarikan dari tulisan H. Untung Santosa, berikut adalah ulasan mendalam mengenai dahsyatnya keberkahan di bulan Ramadan.

Keutamaan Bulan Ramadan Perisai Api Neraka
Ilustrasi umat Muslim sedang berdoa dan membaca Al-Quran menyambut Keutamaan Bulan Ramadan.

Pintu Rahmat Dibuka, Setan Dibelenggu

Salah satu keistimewaan utama Ramadan tergambar jelas dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah R.A, di mana Rasulullah SAW bersabda:

“Apabila masuk bulan Ramadan pintu rahmat dibuka, pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Imam Nawawi menjelaskan, menurut Qadhi Iyyad rahimahullah, hadis ini memiliki dua makna: Lahiriah dan Hakikat.

  1. Makna Lahiriah: Terbukanya pintu surga, tertutupnya pintu neraka, dan terbelenggunya setan adalah tanda fisik masuknya bulan Ramadan serta bentuk penghormatan besar atas bulan tersebut.
  2. Makna Hakikat: Terbelenggunya setan bermakna mereka dicegah untuk menyakiti dan memengaruhi orang-orang beriman secara leluasa seperti di bulan lain.

Lebih lanjut, Al-Qadhi menjelaskan bahwa maksud “pintu surga dibuka” adalah Allah membukakan jalan ketaatan yang luas bagi hamba-Nya—seperti puasa, salat malam (tarawih), dan amal saleh lainnya—yang menjadi sebab seseorang masuk surga. Sebaliknya, “pintu neraka ditutup” dan “setan dibelenggu” adalah ungkapan atas tercegahnya seseorang dari berbagai kemaksiatan dan pelanggaran.

Puasa Sebagai Perisai (Junnah)

Keutamaan berikutnya adalah fungsi puasa sebagai perisai dari api neraka. Dari Abu Hurairah R.A, Rasulullah SAW bersabda mengenai firman Allah SWT:

“…Puasa itu adalah perisai. Orang yang berpuasa mendapatkan dua kegembiraan: ketika ia berbuka puasa maka ia bergembira, dan ketika ia berjumpa dengan Tuhannya maka ia bergembira dengan puasanya.” (H.R. Bukhari, Muslim, An-Nasai, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Para ulama memberikan tafsir mendalam mengenai kata “Perisai” (Junnah):

  • Ibnu Abdi al-Barr: Pelindung dari api neraka.
  • Penulis Kitab An-Nihayah: Pelindung dari hal-hal yang menyakiti diri akibat syahwat.
  • Al-Qurthubi: Pelindung yang efektif jika dilakukan sesuai syariat, yakni menjaga diri dari hal yang merusak pahala.

Ibnu al-Arabi mempertegas bahwa puasa menjadi perisai api neraka karena neraka diliputi oleh syahwat. Dengan menahan diri dari syahwat di dunia saat berpuasa, maka hal itu otomatis menjadi benteng pelindung baginya dari api neraka di akhirat. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW:

“Puasa adalah perisai api neraka sebagaimana perisai kalian dalam peperangan.” (H.R. Al-Khuzaimah, sanad sahih).