Ekonomi

Butuh Penguatan, Sandiaga Uno Soroti Potensi Kesenian di Gunungkidul

Gunungkidul, (kupass.com)–Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) RI, Sandiaga Uno menyoroti tingginya potensi seni pertunjukan di Kabupaten Gunungkidul. Hal tersebut diungkapkan saat melakukan kunjungan kerja di Bumi Handayani, Minggu (4/5/2023).

“Seni pertunjukan di Gunungkidul memiliki potensi yang istimewa,� kata Sandiaga di hadapan peserta Workshop KaTa Kreatif Indonesia 2023 yang digelar di Taman Budaya Gunungkidul (TBG).

Sandi mengatakan, butuh upaya penguatan untuk menjadikan seni pertunjukan Gunungkidul dikenal luas. Salah satunya dengan memperbanyak creative hub dan event, hingga pelatihan intensif untuk para seniman.

“Bisa melibatkan seniman Intenasional, seniman berpengalaman, dengan ini harapnya seni pertunjukan di Gunungkidul bisa lebih terbentuk,� paparnya.

Dalam kesempatan itu, Sandiaga juga memberikan feedback positif atas digelarnya event Batik Fashion Beach yang digelar di Pantai Sepanjang 3-4 Juni 2023. Terlebih event ini menampilkan ratusan busana karya perancang lokal.

“Event ini layak masuk dalam event nasional nanti bisa kita sandingkan dengan daerah lain,� paparnya.

“Batik Fashion Beach juga dinilai mampu menciptakan lapangan kerja di Gunungkidul,� tambahnya.

Sementara Bupati Gunungkidul Sunaryanta mengatakan, ekonomi kreatif menjadi penyumbang pertumbuhan ekonomi di bumi Handayani. Sehingga para pelaku kreatif diharapkan konsisten menekuni sektor masing-masing.

“Sektor pertanian, sektor peternakan, dan salah satunya ekonomi kreatif ini menjadi salah satu penyumbang pertumbuhan ekonomi kita [Gunungkidul],� ungkap Bupati.

Catatan Redaksi: Pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan tulisan dapat mengirimkan sanggahan atau koreksi (sesuai Pasal 1 ayat 11 & 12 UU Pers No. 40/1999) melalui email: [email protected]

Ditulis oleh

Fajar Risdiyanto adalah Redaktur Pelaksana sekaligus jurnalis KUPASS.com. Ia meliput beragam peristiwa, pemerintahan, dan kehidupan masyarakat di Gunungkidul.

Tulisan lain dari Fajar Risdiyanto →