Komunitas

Program Membatik Libatkan 100 Penyandang Disabilitas dari Lima Wilayah DIY

Yogyakarta (kupass.com) — Sebanyak 100 penyandang disabilitas dari lima wilayah DIY mengikuti program “Membatik Bersama 100 Difabel” yang digelar Mandiri Utama Finance (MUF) bersama Yayasan Difabelzone.

Kegiatan berlangsung di Pendopo Wiyata Praja, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, pada 16 September 2026. Peserta berasal dari Bantul, Sleman, Kulon Progo, Gunungkidul, dan Kota Yogyakarta.

Program ini menarik bukan karena jumlah pesertanya saja. MUF menyalurkan bantuan melalui Difabelzone untuk mendukung pelatihan dan pembinaan membatik selama satu bulan. Peserta juga mendapat dukungan peralatan.

Keterampilan dan akses ekonomi

Menurut laporan ANTARA, peserta memiliki ragam disabilitas, antara lain daksa, cerebral palsy, polio, rungu wicara, tunagrahita, tunalaras, low vision, dan autisme.

Keragaman ini penting dicatat karena kebutuhan belajar dan dukungan tiap orang tidak otomatis sama. Program pelatihan yang inklusif perlu memberi ruang bagi perbedaan kemampuan, ritme, serta cara bekerja.

Pihak MUF menyebut pembinaan itu ditujukan untuk mengembangkan keterampilan dan kreativitas membatik agar peserta dapat menghasilkan karya bernilai ekonomi.

Kalimat tersebut adalah harapan program, bukan hasil yang sudah terbukti. Pelatihan belum sama dengan penghasilan tetap. Keberhasilannya nanti lebih masuk akal diukur dari kemampuan peserta memproduksi karya, menjaga mutu, menemukan pembeli, dan memperoleh pendampingan setelah pelatihan usai.

Pameran karya menjadi tahap berikutnya

Hasil karya peserta direncanakan dipamerkan pada 3 Desember 2026, bertepatan dengan Hari Disabilitas. Pameran bisa menjadi pintu awal untuk mengenalkan karya kepada publik.

Namun, pemasaran jangka panjang membutuhkan lebih dari satu acara. Peserta juga akan berhadapan dengan urusan harga, kemasan, promosi, pesanan, dan pengiriman. Poin ini merupakan konteks editorial, bukan rincian teknis yang disebut dalam laporan sumber.

Batik sebagai ruang pemberdayaan

Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X berharap kegiatan tersebut mendorong lahirnya identitas batik difabel Yogyakarta. Harapan itu memperluas cara kita memandang batik: bukan hanya produk budaya dan komoditas, tetapi juga ruang kerja yang seharusnya dapat diakses lebih banyak orang.

Kepala Dinas Sosial DIY Suyarno menegaskan bahwa pemberdayaan tidak cukup melalui pemberian bantuan. Penyandang disabilitas perlu memperoleh akses dan kesempatan agar dapat berkarya secara berkelanjutan.

Bagi Gunungkidul dan wilayah DIY lain, keterlibatan peserta dari lima daerah membuat program ini relevan dibaca sebagai kabar komunitas. Ukuran akhirnya bukan hanya berapa kain yang selesai, melainkan apakah peserta mendapat ruang untuk terus berkarya dan apakah pasar mau menghargai kerja mereka.

Sumber: ANTARA News.