Pimpin Apel Besar Pramuka DIY di Alun-Alun Wonosari, Sri Sultan HB X Gaungkan Pesan Kemandirian Pangan

WONOSARI (kupass.com) – Momentum peringatan Hari Pramuka ke-65 tingkat Kwartir Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (Kwarda DIY) berlangsung semarak dan penuh khidmat di Kabupaten Gunungkidul. Bertempat di Alun-Alun Wonosari pada Sabtu (22/08/2026), Gubernur DIY sekaligus Ketua Majelis Pembimbing Daerah (Mabida) Gerakan Pramuka DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, memimpin langsung jalannya upacara Apel Besar Pramuka DIY.

Sri Sultan Hamengku Buwono X, memimpin langsung jalannya upacara Apel Besar Pramuka DIY
Sri Sultan Hamengku Buwono X, memimpin langsung jalannya upacara Apel Besar Pramuka DIY

Kemeriahan apel tingkat provinsi ini semakin bermakna dengan unjuk potensi Pramuka Gunungkidul dari 18 Kwartir Ranting (Kwarran). Masing-masing kwarran menampilkan berbagai keunggulan, inovasi kriya, serta keterampilan kepanduan khas wilayahnya.

Kehadiran kontingen Pramuka Penggalang yang baru saja kembali menunaikan tugas dari ajang perkemahan akbar Jambore Nasional (Jamnas) Cibubur 2026 turut menyuntikkan energi dan semangat membara di tengah ribuan peserta upacara.

Refleksi Swasembada Pangan dan Filosofi Seragam Cokelat

Dalam amanat resminya, Sri Sultan menegaskan bahwa karakter geografis tanah Gunungkidul mengajarkan arti keteguhan yang sesungguhnya. Menurut Ngarsa Dalem, dari tanah kapur inilah manusia ditempa untuk memahami bahwa ketangguhan sejati tidak pernah lahir dari sebuah kelimpahan, melainkan dari proses perjuangan.

Memantapkan Langkah Organisasi, Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045
Memantapkan Langkah Organisasi, Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045

Mengangkat tema peringatan Hari Pramuka ke-65, “Memantapkan Langkah Organisasi, Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045”, Sultan mengajak seluruh anggota kepanduan merefleksikan kembali pesan historis Sri Sultan Hamengku Buwono IX saat berpidato di Tokyo pada tahun 1971 silam.

“Pramuka Indonesia tidak hanya dididik untuk sekadar menjadi warga negara yang baik, tetapi ditempa menjadi manusia yang andal dan solutif di tengah masyarakat,” tegas Sultan.

Ngarsa Dalem menambahkan bahwa manusia memikul tanggung jawab besar untuk menjaga bumi seisinya agar tanah tidak dikuras secara serampangan, sumber air tidak disia-siakan, serta para petani tidak dibiarkan berjuang sendirian.

Prinsip dasar “makan apa yang kita tanam, dan tanam apa yang kita makan” dinilai menjadi fondasi utama dalam menumbuhkan kemandirian hidup yang selaras dengan Tri Satya dan Dasa Darma Pramuka.

“Warna cokelat pada seragam Pramuka senantiasa mengingatkan kita pada warna tanah—tempat di mana benih disemai, dirawat, dan dihidupkan kembali. Itu adalah simbol cinta mendalam pada tanah air tempat sumber pangan kita bertumbuh,” papar Ngarsa Dalem.

Pesan Ketangguhan dari Bumi Handayani untuk Indonesia

Mengakhiri amanatnya, Raja Keraton Yogyakarta tersebut menyampaikan apresiasi mendalam atas dedikasi dan kesiapan Kabupaten Gunungkidul sebagai tuan rumah perhelatan akbar ini. Sultan berharap nilai-nilai kejuangan yang dipamerkan oleh Pramuka Gunungkidul mampu menginspirasi generasi muda di daerah lain.

“Dari Bumi Handayani Gunungkidul ini, kita bersama-sama mengirimkan pesan kuat kepada Daerah Istimewa Yogyakarta pada khususnya, dan seluruh bangsa Indonesia pada umumnya, bahwa keterbatasan alam tidak boleh sedikit pun membuat kita menyerah,” pungkas Sri Sultan disambut tepuk tangan riuh peserta upacara.