Warnai Syawalan Muhammadiyah Gunungkidul, Aksi Donor Darah Sukses Himpun 54 Kantong untuk Kemanusiaan

WONOSARI (kupass.com) – Suasana kebersamaan dan kepedulian mewarnai kemeriahan acara Syawalan Muhammadiyah Gunungkidul sekaligus pamitan calon jamaah haji pada Ahad pagi (05/04/2026). Bertempat di Bangsal Sewoko Projo Kabupaten Gunungkidul, ribuan warga persyarikatan tampak antusias memadati area pengajian hingga meluber ke taman parkir.

Donor Darah Syawalan Muhammadiyah Gunungkidul
Suasana warga Muhammadiyah Gunungkidul antre mengikuti kegiatan donor darah bersama PMI di sela-sela acara Syawalan dan pamitan haji di Bangsal Sewoko Projo.

Dalam momentum penuh keberkahan ini, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gunungkidul turut melepas 259 calon jamaah haji yang berada di bawah bimbingan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umroh (KBIHU) ‘Aisyiyah.

Wujud Nyata Ta’awun Melalui Donor Darah

Tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi, acara syawalan ini juga menjadi wadah khidmat persyarikatan kepada masyarakat luas. Bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Gunungkidul, panitia menyediakan area khusus untuk aksi donor darah.

Semangat warga Muhammadiyah patut diacungi jempol. Mereka yang hendak mendonorkan darahnya bahkan sudah tampak antre rapi sejak sebelum pengajian syawalan resmi dimulai. Hasilnya, sebanyak 54 kantong darah berhasil dihimpun oleh tim medis PMI yang bertugas di lokasi.

Sebagai organisasi masyarakat yang berkemajuan, Muhammadiyah senantiasa memegang teguh nilai-nilai luhur ajaran Islam. Salah satunya adalah konsep Ta’awun, yang dapat diterjemahkan sebagai semangat gotong-royong dan tolong-menolong dalam kebaikan. Donor darah yang diselenggarakan di sela-sela syawalan ini adalah implementasi nyata dari konsep tersebut.

Edukasi Gaya Hidup Sehat dan Bahagia Berbagi

Kegiatan sosial semacam ini secara tidak langsung juga mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan. Seperti diketahui, seorang pendonor darah harus memenuhi kriteria kualifikasi medis tertentu. Hal ini mendorong warga untuk menerapkan gaya hidup yang lebih sehat agar senantiasa fit dan bisa terus membantu sesama.

Salah satu peserta donor darah, Dyah Destiana, membagikan pengalaman inspiratifnya. Ia mengaku telah rutin menjadi pendonor selama kurang lebih dua tahun terakhir.

“Menjadi pendonor itu membahagiakan. Selain menjadi sebuah bukti valid bahwa tubuh kita sehat, donor darah akan memberikan kesempatan kepada kita untuk menolong kelangsungan hidup sesama dengan cara yang sangat istimewa,” ungkap Dyah penuh syukur.

Melalui sinergi kegiatan dakwah, silaturahmi, dan kemanusiaan ini, diharapkan kehadiran persyarikatan Muhammadiyah dapat terus membawa manfaat nyata bagi seluruh lapisan masyarakat Gunungkidul.