KUPASS.COM – Bagi orang beriman, Merindu Ramadan ibarat seorang yang lama berpisah dengan kekasih tercinta. Kerinduan itu bukan sekadar pemanis bibir, tetapi mewujud nyata dalam persiapan yang sungguh-sungguh. Hatinya telah bersiap sebelum bulannya tiba, sebab ia paham bahwa tamu agung tidak akan singgah pada hati yang lalai.
Disarikan dari tausiyah Ustadz Irman Muhammad Said, bentuk kerinduan yang sejati itu akan tampak dalam tiga persiapan utama: iman, ilmu, dan maliyah (harta).
1. Persiapan Iman (Spiritual)
Mereka yang rindu akan memperkuat keimanannya sebelum Ramadan datang. Hal ini krusial karena tujuan akhir puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa, sebagaimana firman Allah SWT:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Q.S. Al-Baqarah: 183).
Persiapan iman dilakukan dengan melatih diri meninggalkan maksiat, menjaga pandangan, menahan lisan, dan memperbaiki kualitas salat. Rasulullah SAW mengingatkan pentingnya berpuasa dengan dasar iman:
“Barang siapa berpuasa Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Sebaliknya, beliau juga memberi peringatan keras bagi mereka yang tidak menjaga perilakunya saat berpuasa:
“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dosa, maka Allah tidak butuh pada puasanya dari makan dan minumnya.” (H.R. Bukhari).
Kerinduan yang jujur akan melahirkan kesungguhan dalam membersihkan hati dari noda dosa.
2. Persiapan Ilmu (Pengetahuan)
Ibadah tanpa ilmu berpotensi kehilangan nilainya. Oleh karena itu, mereka mempelajari hukum-hukum puasa, memahami sunah-sunahnya, dan mengetahui hal-hal yang dapat membatalkannya. Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, Allah akan memahamkannya dalam agama.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Tanpa ilmu yang memadai, bisa jadi seseorang berpuasa namun tidak mendapatkan esensinya, sebagaimana sabda Nabi SAW:
“Betapa banyak orang yang berpuasa, tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.” (H.R. Ahmad dan Ibnu Majah).
Maka, mereka belajar agar Ramadan menjadi ladang pahala yang maksimal, bukan sekadar rutinitas menahan lapar tahunan.
3. Persiapan Maliyah (Harta)
Terakhir, mereka menyiapkan hartanya untuk berbagi. Ramadan adalah bulan kedermawanan, momentum terbaik untuk bersedekah. Ibnu Abbas R.A. berkata:
“Rasulullah SAW adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadan.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Allah SWT menjanjikan balasan yang berlipat ganda bagi mereka yang menginfakkan hartanya di jalan Allah:
“Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai ada seratus biji.” (Q.S. Al-Baqarah: 261).
Karena itulah, mereka yang benar-benar merindukan Ramadan telah menyisihkan rezekinya jauh-jauh hari sebelum bulan itu tiba, agar tidak tertinggal dari peluang pahala sedekah yang berlipat ganda.
