Isra’ Mi’raj Adalah Perjalanan Pelipur Lara: Sebuah Renungan dari Ustadz Sriyanta

Di tengah Tahun Kesedihan, Allah menghibur Rasulullah dengan perjalanan malam nan agung. Mukjizat yang melampaui logika, membawa oleh-oleh perintah sholat.

KUPASS (Renungan) – Tanggal 27 Rajab, lebih dari 1400 tahun yang lalu, tercatat sebagai momen krusial dalam sejarah Islam. Momen ini dikenal sebagai Isra’ Mi’raj adalah perjalanan pelipur lara bagi Baginda Nabi Muhammad SAW di tengah himpitan ‘Aam Al Huzn atau Tahun Kesedihan.

Saat itu, Rasulullah merasa sebatang kara setelah ditinggal dua sosok pelindung utamanya. Istri tercinta, Ibunda Khadijah R.A., pendamping setia yang mendukung dakwah dengan jiwa dan raga selama 28 tahun, wafat. Kesedihan itu diawali oleh kepergian sang paman, Abu Thalib, sosok yang meski belum bersyahadat, selalu pasang badan membela Nabi.

Dalam kesedihan yang mendalam itulah, Allah SWT memberikan penghiburan agung kepada kekasih-Nya melalui peristiwa yang melampaui batas logika manusia pada zamannya.

Perjalanan Malam yang Mustahil bagi Logika

Bayangkan, dalam satu malam yang tenang bertabur cahaya bintang, Nabi Muhammad menempuh perjalanan darat sejauh hampir 1.500 KM dari Makkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina (Isra’). Tak berhenti di situ, perjalanan dilanjutkan menembus langit hingga ke Sidratul Muntaha (Mi’raj).

Perjalanan Malam Yang Mustahil Bagi Logika
Perjalanan Malam Yang Mustahil Bagi Logika

Bagi orang beriman, ini adalah mukjizat luar biasa. Sebuah bukti kekuasaan mutlak Allah dan wujud cinta kasih Tuhan semesta alam kepada utusan-Nya.

Oleh-oleh Berharga: Perintah Sholat

Ustadz Sriyanta dalam tausiyahnya menceritakan banyak ibrah (pelajaran) penting dari peristiwa ini, mulai dari keteguhan dakwah hingga pentingnya saling menasihati. Namun, inti dari perjalanan agung ini adalah perintah sholat.

“Pada peristiwa tersebut, Allah mewajibkan kepada Kanjeng Nabi sekaligus kepada umat Muhammad, untuk sholat lima waktu,” jelas Ustadz Sriyanta.

Proses penerimaan perintah ini pun penuh hikmah, di mana Nabi Muhammad menerima saran dari para nabi terdahulu untuk meminta keringanan jumlah rakaat bagi umatnya.

Bagi manusia modern, peristiwa ini semakin masuk akal dengan perkembangan iptek di mana perjalanan antarnegara kini bisa ditempuh dalam waktu singkat. Namun, di atas segalanya, Isra’ Mi’raj tetaplah bukti keimanan dan kasih sayang Allah yang tak terhingga.