Wonosari, (kupass.com)—Pemerintah Kabupaten Gunungkidul secara resmi meluncurkan gerakan “MasGun Maos,” yang merupakan akronim dari Masyarakat Gunungkidul Mandiri Olah Sampah. Peluncuran gerakan ini, yang juga disertai sosialisasi pengolahan sampah organik dengan metode ember tumpuk, dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Ibu tahun 2025.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Antonius Hary Sukmono, menyampaikan bahwa pengelolaan sampah rumah tangga saat ini masih menjadi tantangan yang membutuhkan perhatian serius.
“Setiap hari, masyarakat Gunungkidul secara kolektif memproduksi sekitar 380 ton sampah, angka ini didapatkan dari perhitungan bahwa setiap orang di Gunungkidul menghasilkan rata-rata 0,49 kg sampah per hari.” papar Hary.
Dari komposisi sampah harian sebanyak 380 ton tersebut, 47% di antaranya adalah sampah organik, khususnya sisa olahan dapur dan sisa makanan.
“Metode pengolahannya adalah metode sederhana dan aplikatif, yaitu menggunakan ember tumpuk dan jugangan. Metode jugangan memanfaatkan kearifan lokal di wilayah pedesaan yang memiliki lahan untuk membuat lubang sampah, yang sampahnya dapat dimanfaatkan sebagai rabuk (pupuk) saat musim tanam,”paparnya di Bangsal Sewokoprojo, Selasa, (16/12/2025).
Sebelumnya, DLH telah meluncurkan tagline “Hompimpah,” singkatan dari Hobi Memilah dan Punguti Sampah dari Rumah, dan MasGun maos merupakan transformasi lanjutan dalam upaya mengolah sampah secara mandiri.
Sampah organik yang diolah menjadi kompos dapat berfungsi sebagai media pendukung kegiatan budidaya pangan keluarga (family farming), selain itu, sisa makanan dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak rumah tangga, seperti ayam atau bebek. Persoalan sampah menjadi perhatian utama di Daerah Istimewa Yogyakarta, bahkan berita-berita akhir-akhir ini menyebutkan adanya status darurat sampah di Yogyakarta.
“MasGun Maos diinisiasi sebagai semangat untuk mengolah sampah organik di rumah masing-masing dengan tujuan menjaga rahim Ibu Pertiwi agar tidak longsor atau banjir, Gerakan ini mendorong masyarakat untuk mengelola sampah secara mandiri, dimulai dari pemilahan sampah organik dan non-organik,”kata Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntarinigsih.
Bupati menekankan peran vital Tim Penggerak PKK di semua tingkatan (Kabupaten, Kapanewon, Kelurahan) dalam upaya pengurangan sampah sejak dari sumbernya, dan hasil dari pengolahan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pupuk.
