Selama 90 menit, peserta diajak menelusuri jejak Mataram, perjuangan kemerdekaan, hingga era reformasi lewat arsip dan teknologi audiovisual yang modern.
BANTUL (kupass.com) – Ada cara unik untuk merayakan Hari Batik Nasional di Yogyakarta. Museum Diorama Arsip Jogja menggelar tur khusus pada Kamis (2/10/2025), di mana para peserta, dengan bangga mengenakan busana batik, diajak untuk menyelami perjalanan panjang sejarah yang membentuk identitas dan budaya Yogyakarta.
Museum yang berlokasi di dalam kompleks Grhatama Pustaka ini menawarkan pengalaman berbeda dengan memadukan arsip sejarah dan teknologi audiovisual yang memanjakan mata.
Perjalanan 90 Menit Melintasi Empat Abad Sejarah
Tur selama kurang lebih 90 menit ini membawa pengunjung melintasi waktu, dimulai dari abad ke-16 saat Yogyakarta masih berwujud Alas Mentaok. Setiap ruangan menyajikan tema yang berbeda, menceritakan babak demi babak perjalanan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dari Kejayaan Mataram hingga Cengkeraman Kolonial
Di awal perjalanan, pengunjung disuguhi kisah spektakuler Sultan Agung Hanyakrakusuma yang berhasil menaklukkan hampir seperempat Pulau Jawa. Perjalanan dilanjutkan dengan menelusuri jejak Kerajaan Mataram, masa kejayaannya, hingga konflik dan intrik politik yang mewarnainya.
Suasana menjadi lebih kelam saat museum menampilkan arsip tentang masa perjuangan Pangeran Diponegoro, peristiwa Geger Sepehi yang melukai hati keraton, hingga kuatnya cengkeraman kolonial Belanda yang memonopoli komoditas seperti kopi, gula, dan teh. Replika manuskrip kuno Babad Tanah Jawi juga menjadi saksi bisu dari era ini.
Yogyakarta sebagai Rahim Kemerdekaan dan Reformasi
Memasuki era modern, museum ini menunjukkan peran vital Yogyakarta sebagai tempat lahirnya berbagai organisasi pergerakan seperti Boedi Oetomo dan Muhammadiyah. Pengunjung diajak menyaksikan bagaimana Yogyakarta menjadi ibu kota perjuangan dan tempat bersatunya laskar-laskar nusantara dalam mempertahankan kemerdekaan.
Perjalanan berlanjut ke era reformasi 1998, diawali dengan krisis moneter dahsyat. Di tengah gejolak perlawanan rakyat, museum ini mengabadikan momen bersejarah saat Sri Sultan Hamengku Buwono X dan KGPAA Paku Alam IX mengeluarkan maklumat yang berhasil menenangkan massa dan mengarahkan reformasi damai di Yogyakarta.
Ruang Refleksi Bencana dan Ketangguhan Warga
Di akhir tur, terdapat ruang khusus yang didedikasikan untuk mengenang dua peristiwa bencana besar. Pengunjung diajak merefleksikan kedahsyatan gempa bumi 27 Mei 2006 yang merenggut lebih dari lima ribu jiwa, serta erupsi Gunung Merapi pada tahun 2010, lengkap dengan kisah heroik sang juru kunci, Mbah Maridjan.
Menikmati perjalanan 90 menit melintasi berbagai zaman—dari era kerajaan, perang, kemerdekaan, hingga bencana—menjadikan kunjungan ini sangat berkesan. Merayakan Hari Batik dengan memahami sejarah yang melahirkan budaya luhur di baliknya adalah sebuah pengalaman yang memperkaya jiwa.
