Bencana Sumatera Memanggil, Relawan Senior Gunungkidul “Wagiran” Terjun ke Lokasi Bersama MDMC

Ketua MDMC Gunungkidul desak pemerintah tetapkan status Darurat Bencana Nasional mengingat dampak kerusakan yang masif di Aceh hingga Sumut.

GUNUNGKIDUL (kupass.com) – Menjelang akhir tahun 2025, duka kembali menyelimuti Tanah Air. Pulau Sumatera, yang dikenal sebagai salah satu penghasil sawit terbesar, diguncang rentetan bencana hidrometeorologi. Banjir bandang dan tanah longsor tidak hanya menyapu kawasan hutan, tetapi juga meluluhlantakkan permukiman, memaksa ribuan warga mengungsi dengan kerugian materiil yang luar biasa.

Bencana Sumatera Memanggil, Relawan Senior Gunungkidul Wagiran Terjun Ke Lokasi Bersama MDMC
Bencana Sumatera Memanggil, Relawan Senior Gunungkidul Wagiran Terjun Ke Lokasi Bersama MDMC

Merespons kondisi darurat ini, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) bergerak cepat. Tim respon tanggap darurat diberangkatkan dari Yogyakarta pada 4 Desember 2025 untuk misi kemanusiaan selama satu bulan penuh.

Panggilan Jiwa Relawan Senior Nglipar

Dalam rombongan tim medis dan rescue tersebut, terselip satu nama yang sudah tidak asing di dunia kerelawanan Gunungkidul: Wagiran.

Warga asli Kapanewon Nglipar ini dikenal sebagai relawan senior yang memiliki jam terbang tinggi. Dedikasinya bahkan sudah teruji jauh sebelum MDMC Gunungkidul resmi terbentuk pada Mei 2013. Wagiran mengawali kiprah kemanusiaannya sebagai anggota tim SAR KOKAM (Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah), menjadikannya sosok panutan bagi relawan muda di Gunungkidul.

Keberangkatan Wagiran ke titik bencana di Sumatera menjadi bukti bahwa semangat pengabdian relawan Gunungkidul tak mengenal batas wilayah.

Desak Status Darurat Bencana Nasional

Ketua MDMC Gunungkidul, Yogandha Triasmoko, memberikan perhatian serius terhadap rentetan bencana yang terjadi di penghujung tahun ini.

“Saat ini masyarakat di berbagai daerah harus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi yang masih tinggi,” tegas sosok yang akrab disapa Yogan ini.

Ia menyoroti skala kerusakan yang terjadi di wilayah Sumatera bagian utara. “Bencana yang melanda Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara sejak akhir November lalu telah menimbulkan dampak luar biasa. Korban jiwa berjatuhan dan kerusakan infrastruktur sangat masif,” lanjutnya.

Melihat eskalasi dampak yang ditimbulkan, MDMC Gunungkidul mendorong langkah strategis dari pemerintah pusat.

“Kami berharap pemerintah segera menetapkan status menjadi Darurat Bencana Nasional. Status ini penting sebagai dasar hukum untuk melakukan respon penanganan yang lebih komprehensif dan pengerahan sumber daya yang lebih besar,” pungkas Yogan.