Wonosari, (kupass.com)–Ratusan lahan pertanian di dua Kapanewon terancam gagal panen. Kondisi ini dipengaruhi lantaran minimnya sumber mata air dan musim kemarau yang melanda Kabupaten Gunungkidul.
Disampaikan oleh Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul Raharjo Yuwono. Lokasi lahan yang terancam gagal panen lantaran dampak kekeringan ini berada di Kapanewon Semin dan Ngawen.
“Ada sekitar 420 hektare tanaman padi mengalami kekeringan dan terancam gagal panen. Dua wilayah ini (Semin dan Ngawen) paling terdampak. Kondisi ini dipengaruhi pada kebutuhan air irigasi pertanian,”kata Raharjo.
Dia menambahkan penyebab lain ancaman gagal panen ini karena minimnya sumber mata air. Selain itu jarak sumber mata air juga cukup jauh dan debit air irigasi juga ikut mengecil karena musim kemarau.
“Kondisi ini juga membuat suplai gabah juga terancam menurun,”imbuhnya.
Raharjo berujar bahwa penyebab lainnya adalah musim tanam pertama karena terdampak kekeringan fenomena El Nino. Hal ini membuat masa tanam pertama di Gunungkidul mengalami kemunduran akibat hujan baru turun pada Januari akhir.
“Alhamdulillah, masih berhasil panen padi 45.530 hektare dengan jumlah produksi mencapai 213.431 ton gabah kering giling (GKG). Serta luas panen jagung mencapai 42.453 hektare dengan produksi 244.745 ton pipil kering,”ujarnya.
Dia melanjutkan, pada musim tanam kedua kali ini ternyata dampak kekeringan akibat kemarau datang lebih cepat pada Mei awal. Akhirnya, hujan tidak pernah lagi turun yang berakibat kekeringan pada tanaman padi.
“Sehingga, dengan produksi yang belum maksimal ini, untuk cadangan pangan masyarakat sebenarnya masih aman untuk konsumsi satu tahun ke depan. Namun, dengan catatan hasil padi harus disimpan di rumah petani jangan dijual, kalaupun ingin menjual bisa menjual jagung dulu,”tandasnya.
