Tak hanya andalkan donatur, pesantren di ujung utara Gunungkidul ini ajarkan santri mandiri lewat program ‘Santripreneur’ peternakan ayam.
GEDANGSARI (kupass.com) – Di tengah gempuran harga kebutuhan pokok yang terus merangkak naik, pemenuhan gizi seimbang bagi santri menjadi tantangan tersendiri bagi pengelola pesantren. Hal ini disiasati dengan cerdas oleh Pondok Pesantren Modern Al Muttaqiin, Gedangsari.

Pondok yang terletak di ujung utara Kabupaten Gunungkidul ini menampung hampir 200 santri dari berbagai daerah di Indonesia. Demi menjaga asupan protein para santri tanpa membebani biaya operasional berlebih, pengurus pondok meluncurkan inovasi kemandirian pangan.
Kembangkan Semangat Santripreneur
Pihak pondok terus melakukan inovasi sebagai dukungan pembelajaran holistik. Tidak hanya mengaji, para santri juga dibekali ilmu kewirausahaan melalui program Santripreneur.

Setelah sukses dengan pengembangan kandang kambing, kini Ponpes Al Muttaqiin merambah ke sektor peternakan ayam petelur. Program ini dipilih karena memiliki fungsi ganda: sebagai media edukasi wirausaha dan solusi pemenuhan gizi internal.
Berawal dari Mahalnya Harga Telur
Wening, selaku pengurus Ponpes Al Muttaqiin, menuturkan bahwa inisiasi program ini bermula dari keresahan pengurus terhadap harga telur di pasaran yang tak kunjung turun.
“Kami melihat harga telur ini sepertinya akan susah turun. Akhirnya kami bersepakat untuk memelihara sendiri ayam petelur untuk memenuhi kebutuhan dapur pondok kami,” terang Wening.
Sebagai langkah awal, pondok memulai dengan memelihara 20 ekor ayam. Menurut Wening, perawatannya ternyata cukup mudah dan tidak mengganggu aktivitas belajar santri.
“Alhamdulillah perawatannya tidak memerlukan keahlian khusus. Hanya setiap pagi kita beri makan, nanti siang ayam sudah bertelur dan siap dipanen,” lanjutnya.
Perawatan Mudah, Manfaat Melimpah
Ayam petelur dikenal relatif minim perawatan. Kuncinya terletak pada kedisiplinan pemberian pakan dan kebersihan kandang. Di Al Muttaqiin, jadwal pembersihan kandang dilakukan secara rutin setiap tiga hari sekali untuk menjaga kesehatan ayam dan lingkungan pondok.
Melihat keberhasilan tahap awal ini, Ponpes Al Muttaqiin berencana menambah populasi ayam petelur ke depannya.
“Selain sebagai pendukung utama kebutuhan gizi santri, jika skalanya sudah besar, hasil panen ini bisa menjadi sumber ekonomi mandiri bagi pondok. Telur adalah komoditas protein yang selalu dibutuhkan masyarakat,” pungkas Wening optimis.
