Wonosari, (kupass.com)—Peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) ke-66 Tahun 2026 menjadi momen penting bagi insan gizi di Indonesia, khususnya dengan dimulainya Program Makan Bergizi Gratis bagi Anak Sekolah. Program ini dinilai sebagai langkah nyata negara dalam mempercepat penurunan angka stunting.
Di Kabupaten Gunungkidul, edukasi gizi dilaksanakan di lima sekolah, yakni SMA Negeri 1 Wonosari, SMA Negeri 2 Wonosari, SMK Negeri 2 Wonosari, SMP Negeri 1 Ponjong, dan SMP Negeri 1 Karangmojo. Kegiatan tersebut melibatkan 125 edukator gizi.
Ketua DPD Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Gunungkidul, Arinto Hadi, M.Gizi, mengatakan bahwa permasalahan gizi di Indonesia terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu.
“Dulu kita mengenal empat masalah gizi utama, yaitu Kurang Energi Kronis (KEK), Kurang Vitamin A, Anemia Gizi Besi, dan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium. Saat ini, masalah gizi yang paling mendesak dan harus segera ditangani adalah stunting,”kata Arinto.
Stunting disebut tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik anak, namun juga berpengaruh besar terhadap kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan. Ia mengutip pernyataan mantan Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati, yang menyebut stunting dapat menimbulkan loss generation atau hilangnya potensi satu generasi.
“Jika stunting tidak ditangani dengan serius, maka bangsa ini berisiko mengalami kemunduran, baik dari sisi kualitas SDM maupun pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.
Arinto mencontohkan Jepang sebagai negara yang berhasil menurunkan angka stunting melalui intervensi jangka panjang. Salah satu kunci keberhasilan Jepang, kata dia, adalah pemberian makan bergizi di sekolah secara berkelanjutan.
“Jepang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk menurunkan stunting hingga 14 persen. Dulu dikenal dengan postur tubuh kecil, kini generasi mudanya lebih sehat dan produktif. Indonesia ingin mencontoh keberhasilan tersebut,”tambahnya.
Dalam rangka memperingati HGN ke-66 Tahun 2026, Persagi menggelar kegiatan Pemecahan Rekor MURI Edukasi Gizi Serentak secara nasional dengan tema Gizi Seimbang bagi Anak Sekolah. Edukasi ini bertujuan membentuk kebiasaan makan sehat dan mendorong perubahan gaya hidup siswa sejak dini.
“Secara nasional, kegiatan ini akan dilaksanakan di 1.836 titik dengan jumlah edukator antara 5.508 hingga 9.180 orang. Ini menunjukkan komitmen besar Persagi dalam mendukung perbaikan gizi anak sekolah,” ungkap Arinto.
Dia berharap kegiatan ini dapat memberikan dampak positif bagi siswa serta memperkuat peran sekolah dan guru dalam membentuk generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.
“Selamat memperingati Hari Gizi Nasional ke-66 Tahun 2026. Semoga upaya bersama ini membawa manfaat nyata bagi masa depan anak-anak Indonesia,”pungkasnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul Ismono dalam sambutannya mengatakan bahwa, para ahli gizi ini sangat berperan dalam menciptakan generasi berkualitas. Apalagi saat ini di semua SPPG diwajibkan memiliki ahli gizi yang mengatur kandungan serta pengelolaan makan bergizi gratis.
“Sehingga bisa menurunkan angka stunting menyambut generasi emas tahun 2045z Para ahli gizi ini siap mengatur menu sehat di semua SPG khususnya di Kabupaten Gunungkidul,”pungkasnya.
