WONOSARI (kupass.com) – Bulan Dzulhijjah senantiasa menjadi waktu yang paling dinantikan oleh umat muslim di seluruh penjuru dunia. Bukan tanpa alasan, bulan pamungkas dalam kalender hijriah ini menyimpan segudang peristiwa penting serta memiliki makna spiritual yang sangat mendalam bagi perjalanan hidup seorang mukmin.
Sebagai bulan haji, Dzulhijjah merupakan pemenuh impian bagi setiap muslim. Pelaksanaan rukun Islam kelima ini adalah bentuk totalitas kepasrahan, pengorbanan, dan penghambaan manusia secara utuh kepada Allah SWT.
Lebih dari itu, Bulan Dzulhijjah juga termasuk ke dalam salah satu Asyhurul Hurum atau bulan-bulan suci yang sangat dimuliakan oleh Allah SWT. Terutama pada 10 hari pertamanya, waktu tersebut menjadi ladang pahala yang sangat istimewa di mana setiap amal ibadah yang kita lakukan akan diganjar pahala berlipat ganda.
Keistimewaan 10 Hari Pertama dan Ibadah Haji
Kemuliaan utama dari bulan ini terletak pada sepuluh hari pertamanya yang dinobatkan sebagai hari-hari terbaik sepanjang tahun. Berdasarkan petunjuk hadis Nabi SAW, setiap amal saleh yang dikerjakan pada awal Dzulhijjah pahalanya dilipatgandakan dan jauh lebih dicintai oleh Allah SWT dibandingkan amalan di hari-hari biasa, bahkan kemuliaannya mampu melampaui pahala jihad di jalan Allah.
Keistimewaan berikutnya adalah kedudukannya sebagai bulan haji. Dzulhijjah menjadi satu-satunya waktu pelaksanaan ibadah haji, di mana jutaan umat Islam dari berbagai belahan dunia berkumpul di Tanah Suci Makkah dengan mengesampingkan segala perbedaan status sosial demi mengagungkan nama-Mu.
Momentum Hari Arafah dan Idul Adha
Di dalam bulan ini pula terdapat Hari Arafah yang jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah. Hari ini merupakan puncak sakral pelaksanaan ibadah haji, di mana seluruh jamaah berkumpul melakukan wukuf di Padang Arafah. Bagi umat Islam yang sedang tidak menunaikan ibadah haji di tanah suci, disunahkan kuat (sunnah muakkadah) untuk melaksanakan Puasa Arafah. Keutamaannya pun luar biasa, yakni dapat menghapus dosa-dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.
Sehari berselang, umat Islam merayakan Hari Raya Idul Adha pada 10 Dzulhijjah. Hari besar ini menjadi momentum bersejarah untuk memperingati potret ketaatan mutlak Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS kepada perintah penciptanya.
Di hari raya ini, yang kemudian disusul dengan tiga Hari Tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah), umat Islam diperintahkan untuk menyembelih hewan kurban sebagai wujud rasa syukur atas kelimpahan rezeki sekaligus sarana mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT.
Kurban Sebagai Simbol Ketakwaan
Syariat ibadah kurban ini ditegaskan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Al-Hajj ayat 34:
“Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka berupa hewan ternak. Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserahdirilah kamu kepada-Nya. Dan sampaikanlah (Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).”
Perlu diingat pula bahwa substansi utama dari kurban bukanlah sekadar memotong hewan dan membagikan dagingnya. Allah SWT menegaskan esensi ibadah ini dalam Surah Al-Hajj ayat 37:
“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”
Melalui momentum Asyhurul Hurum ini, umat Islam diajak untuk memperbanyak amal kebaikan, mempertebal ketakwaan, serta membersihkan jiwa dari sifat egois melalui indahnya berbagi hewan kurban.
