WONOSARI (kupass.com) – Di era modern yang melek sains ini, Mitos Gerhana Bulan yang menyebutkan bahwa satelit bumi tersebut sedang dimakan oleh raksasa jahat (Bhatara Kala) perlahan mulai ditinggalkan. Generasi Z (Gen-Z) masa kini memiliki cara pandang yang jauh lebih rasional dan religius dalam menyikapi fenomena alam.
Momen pembuktian itu terlihat jelas pada malam pertengahan Ramadan (15 Ramadan 1447 H) atau bertepatan dengan Selasa, 3 Maret 2026. Setelah tiga hari sebelumnya langit menyuguhkan parade enam planet sejajar, panggung antariksa kembali menampilkan keindahan gerhana bulan merah (Blood Moon).
Dari Mitos Kelam Menuju Cahaya Sains
Bagi generasi Baby Boomers dan sebagian Milenial, gerhana bulan sarat akan cerita tutur yang melegenda. Pada zamannya, anak-anak akan disuruh bersembunyi di dalam bilik kamar yang gelap gulita. Mereka menunggu dengan perasaan cemas hingga sang raksasa “memuntahkan” bulan itu kembali ke langit.
Namun, masa itu telah berlalu. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi telah mengantarkan umat manusia, khususnya Gen-Z, menjadi generasi yang lebih modern dan berwawasan luas. Alih-alih bersembunyi ketakutan, mereka justru mengabadikan momen astronomi ini dan berbondong-bondong menuju masjid.
Sholat Gerhana Khusyuk di Masjid Agung Al Ikhlas
Menyikapi fenomena alam ini, Masjid Agung Al Ikhlas Wonosari menggelar ibadah Sholat Gerhana (Khusuf) berjamaah yang dilaksanakan tepat sebelum pelaksanaan Sholat Tarawih.
Bertindak selaku Imam sekaligus Khatib adalah Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Gunungkidul, Dr. KH. Asrofi, S.Ag., M.Hum. Dalam khutbahnya yang menggugah, beliau menegaskan bahwa gerhana adalah cara Allah SWT memberikan pelajaran berharga, terlebih peristiwa ini terjadi di bulan suci Ramadan.
“Terjadinya gerhana ini merupakan suatu hal yang rasional dan dapat diperhitungkan dengan akurasi ilmu pengetahuan. Bahkan, fenomena ini dapat diprediksi kejadiannya hingga bertahun-tahun yang akan datang,” ungkap Asrofi.
Tanda Kebesaran Allah, Bukan Kemarahan Alam
Lebih lanjut, Asrofi membantah segala bentuk takhayul. Ia mengajak jamaah untuk memandang gerhana murni sebagai tanda kebesaran Sang Pencipta.
“Peristiwa gerhana menjadi pengingat bagi umat manusia bahwa sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda kebesaran Allah dari sekian banyak tanda-tanda lainnya, sebagaimana yang telah ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah Yunus ayat 5,” lanjutnya.
Khutbah ditutup dengan pesan mendalam agar masyarakat menjadikan sains sebagai sarana untuk lebih masif dalam mempelajari dan mengamalkan firman-firman Allah. Fenomena alam sudah sepatutnya menjadi pelecut untuk menambah dan menyempurnakan keimanan, demi meraih kejayaan di dunia maupun akhirat.
