Pakar IT Nurudin Jauhari tekankan pentingnya prinsip “saring sebelum sharing” untuk memerangi hoaks dan konten negatif.
GUNUNGKIDUL (kupass.com) – Di tengah derasnya arus informasi dan tantangan era digital, Pimpinan Daerah Nasyiatul ‘Aisyiyah (PDNA) Gunungkidul membekali para kadernya dengan pemahaman literasi digital. Melalui sebuah seminar pada Ahad (28/9/2025), mereka belajar tentang Digital Wisdom (Kebijaksanaan Digital) bersama pakar teknologi informasi sekaligus pegiat media sosial, Nurudin Jauhari, S.T.

Acara ini diinisiasi sebagai jawaban atas berbagai masalah sosial yang muncul akibat penggunaan gawai dan media sosial yang tidak bijak, mulai dari penipuan hingga penyebaran konten negatif.
Memahami Algoritma dan Bahaya Konten Negatif
Dalam pemaparannya, Nurudin Jauhari menjelaskan bahwa gawai dan media sosial kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Namun, pengguna harus cerdas dalam memanfaatkannya. Ia mengingatkan bahwa media sosial bekerja dengan algoritma yang akan mengikuti kesenangan penggunanya.

“Jika pengguna mencari informasi tertentu secara periodik, maka media sosialnya juga akan secara otomatis mengarahkan pada konten-konten sejenis. Inilah mengapa penting untuk mengisi linimasa kita dengan hal-hal yang positif,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa tanpa pemahaman ini, pengguna akan mudah terseret ke dalam pusaran konten negatif yang dapat merusak.
Kunci Utama: ‘Saring Sebelum Sharing’
Sebagai solusi utama, Jauhari menekankan pentingnya menerapkan prinsip “saring sebelum sharing”. Menurutnya, ini adalah salah satu pilar utama dari digital wisdom.
“Kita harus memegang prinsip dan jeli dalam memilah-milah informasi. Perlunya menyaring sebuah informasi sebelum membagikannya kembali adalah sebuah keharusan untuk membendung penyebaran hoaks dan fitnah,” tegasnya.
Inisiatif Nasyiatul ‘Aisyiyah untuk Kader Tanggap Digital
Seminar ini merupakan langkah proaktif dari Nasyiatul ‘Aisyiyah Gunungkidul untuk memastikan para kadernya tidak gagap dalam menghadapi perkembangan zaman. Di saat gawai bisa menjadi alat komunikasi, dompet digital, hingga media belajar Al-Qur’an, penting bagi kader untuk bisa memaksimalkan manfaat positifnya.
Dengan membekali kadernya dengan literasi digital, Nasyiatul ‘Aisyiyah berharap dapat melahirkan generasi yang tidak hanya aktif, tetapi juga bijak dalam menggunakan teknologi untuk kebaikan.
