Lewat riset tanpa lelah, seorang perajin dari Patuk, Gunungkidul, berhasil membuktikan bahwa semua bagian dari kakao—komoditas unggulan daerahnya—memiliki nilai seni yang tinggi.
PATUK (kupass.com) – Ketika menyebut kakao dari Nglanggeran, pikiran banyak orang mungkin langsung tertuju pada minuman atau batangan cokelat yang lezat. Namun di tangan Dian, perajin sekaligus pemilik jenama Dhara Djati ecoprint, daun dan kulit buah kakao yang kerap dianggap limbah justru bertransformasi menjadi produk fesyen yang memukau.
Ini adalah kisah tentang bagaimana keindahan alam Gunungkidul tidak hanya dinikmati dari pemandangan gunung purbanya, tetapi juga bisa dikenakan di tubuh sebagai karya seni.
Dari Limbah Menjadi Karya Lolos Kurasi Nasional
Sejak awal, Dian fokus untuk menciptakan produk ramah lingkungan dengan memaksimalkan potensi bahan-bahan lokal. Dalam setahun terakhir, perhatiannya tertumpah pada limbah daun dan kulit kakao yang melimpah di lingkungannya.
Kerja kerasnya terbayar lunas. Produk ecoprint berbahan kakao buatannya berhasil menembus berbagai pameran skala nasional yang prestisius, seperti Pekan Raya Jakarta (PRJ), Inacraft, dan Kriya Nusa.
“Untuk menembus pameran-pameran itu tidak mudah. Produk harus melewati proses kurasi yang sangat ketat dan bersaing dengan ratusan perajin lain dari seluruh DIY,” ungkap Dian dengan bangga. Pencapaian ini menjadi bukti kualitas dan keunikan dari karyanya.
Keunikan Daun Kakao dalam Goresan Ecoprint
Apa yang membuat karyanya begitu istimewa? Jawabannya terletak pada proses dan pemahaman mendalam terhadap bahan. Melalui percobaan yang tak kenal lelah, belajar dari para senior, dan berdiskusi dengan berbagai pihak, Dian menemukan karakter unik dari kakao.
“Semua komponennya bisa dimanfaatkan. Prosesnya memang butuh ketelitian dan ketelatenan, tapi hasilnya sangat memuaskan,” jelasnya. Dari tangannya, lahirlah berbagai produk busana cantik seperti vest, outer, topi, dan kain lembaran yang elegan.
Berbagi Ilmu, Menginspirasi Generasi Baru
Kini, keahlian Dian tidak hanya ia simpan sendiri. Ia aktif membuka kelas belajar ecoprint bagi mahasiswa, pelajar, dan masyarakat umum yang tertarik. Bahkan, ia telah beberapa kali diundang menjadi dosen tamu di berbagai kampus dan sekolah untuk berbagi ilmunya.
Baginya, ini adalah cara untuk menularkan semangat kreativitas dan kecintaan pada produk lokal kepada generasi yang lebih muda.
Saat Festival Coklat Nglanggeran digelar kembali sebagai agenda tahunan, Dian berharap masyarakat akan semakin mengenal potensi luar biasa dari kakao. Karyanya adalah asa dan bukti nyata bahwa di balik kemegahan sebuah festival, ada inovasi-inovasi lokal yang layak mendapatkan apresiasi tertinggi.
