Banting Stir Jadi Badut, Mantan Kondektur Bus Raup Jutaan Rupiah Setiap Bulan

  • Bagikan
Sabari Kaos Hitam
Sabari Kaos Hitam

Wonosari, (kupass.com)–Pandemi Covid-19 yang terjadi selama satu tahun lebih telah melumpuhkan berbagai sektor ekonomi. Tak sedikit warga masyarakat yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan bangkrut bagi yang mempunyai usaha.

Hal ini membuat sejumlah warga masyarakat dari berbagai profesi memilih untuk banting stir mencari pekerjaan lain. Seperti yang dilakukan oleh Sabari (47) seorang mantan kondektur Bus jurusan Wonosari – Jogja.

Dia memilih banting stir menjadi badut untuk menyambung hidupnya. Bahkan profesi sebagai penghibur di lampu merah sudut – sudut Kota Wonosari ini dinilai sangat menjanjikan. Dalam sebulan, Sabari dapat meraup penghasilan jutaan rupiah dari aksi menghibur pengguna jalan itu.

Sabari merupakan warga Bangunharjo, Kapanewon Sewon, Kabupaten Bantul. Dia adalah pendiri ketua komunitas Badut di Kapanewon Wonosari. Bersama teman – temannya, mereka kerap dijumpai di sejumlah lampu traffict light (Bangjo) seputaran Kota Wonosari menggunakan kostum berbagai jenis.

“Kami menghibur di Bangjo Pancuran. Badut jalan itu bukan profesi melainkan batu loncatan karena kami adalah korban PHK saat pandemi,”terangnya, Sabtu (16/10/2021).

Sejak pandemi Covid-19 melanda anggota komunitas badut Wonosari itu harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup mereka. Menjadi badut dikatakan Sabari merupakan pekerjaan seniman jalanan yang memiliki ppenghasilan tak menentu.

Baca Juga:  Kalurahan Ponjong Bentuk Tim Pemulasaran Jenazah Covid-19

” Kalau pandemi ini berakhir saya yakin badut jalanan tidak ada lagi. Komunitas badut jalanan mencari solusi sendiri terdampak pandemi dan ini yang membuat dan para badut kehilangan penghasilan,” Ujar Sabari.

Menjadi badut jalanan disebutkannya tidak mudah. Menurut Sabari dia harus memakai kostum berjam – jam dan berpanas-panasan dari pagi sampai sore.

“Orang – orang mengira badur pengemis bertopeng, padahal badut ada seninya, ada geraknya, ada musiknya dan juga anak kecil dan orang dewasa juga terhibur. Mereka memberikan uang tanpa ada paksaan. Menurut saya jika ada yang memberikan uang lebih tentunya saya sangat bersyukur,”terangnya.

Diakuinya dalam sehari, setiap lampu trafict light yang diisi oleh dua Badut dapat menghasilkan kurang lebih Rp 80 ribu. Sehingga penghasilan mereka dalam satu bulan dapat mencapai Rp 2 juta lebih.

“Dampak Covid-19 ini bukan hanya yang merasakan hanya badut jalannan, tapi juga dirasakan tukang becak dan lainnya. Harapan jami pandemi ini segera berakhir dan aktivitas kembali seperti sedia kala (normal),”tandansya.

Penulis : Alifia Desty Cahya Ramadani dan Nabila Alifia

STAI YOGYAKARTA PRODI PAI 5

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *