Sekolah Lapang Iklim Petani Gunungkidul

Antisipasi Dampak Fenomena Perubahan Iklim Ekstrim, Para Petani Menjalani Sekolah Lapang Iklim

Rongkop, (kupass.com)– Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Iklim Sleman Yogyakarta melaksanakan Sekolah Lapang Iklim (SLI) Operasional di Kabupaten Gunungkidul. Sekolah Iklim tersebut bekerja sama dengan Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul. SLI Operasional dilaksanakan dengan tujuan untuk antisipasi dampak fenomena perubahan iklim ekstrim yang terjadi.

Panitia Penyelenggara SLI Operasional dari Staklim Yogyakarta Etik Setyaningrum mengatakan bahwa, dalam pelaksanaannya, SLI menggunakan metode belajar secara interaktif dan praktek. Dua materi pokok yang diberikan mengenai pengenalan unsur cuaca dan iklim beserta alat ukurnya. Sementara materi kedua yakni pemahaman informasi iklim. Pada Selasa 11/08/2020 SLI dilaksanakan di Padukuhan Tirisan, Kalurahan Karangwuni, Kepanewon Rongkop.

“Peserta berjumlah 30 orang terdiri dari berbagai unsur seperti petani dan instansi lain. Kegiatan ini dilaksanakan di tiga Kepanewon yakni Rongkop, Ponjong dan Gedangsari,”katanya, Rabu 12/08/2020.

Sementara itu Kepala Staklim Sleman Yogyakarta Reni Kraningtyas dalam sambutannya menyatakan bahwa, SLI Operasional merupakan program Nawacita ke-7 BMKG mendukung kemandirian ekonomi. Peran tersebut dimaksimalkan dengan pemberian materi sosialisasi dan pembelajaran tentang cuaca dan iklim dalam usaha tani.

Sekolah Lapang Iklim Petani

Sekolah Lapang Iklim Petani

“Harapannya kami ini dikembangkan dengang konsep pembelajaran orang dewasa, dengan banyak materi dan peserta bisa berinteraktif dengan narasumber. Selain pembelajaran di kelas juga ada pendampingan di lapangan kepada petani baik secara on line maupun offline,”imbuhnya.

Dia menambahkan, kedepan diharapkan terdapat partisipasi aktif dari petani terkait informasi iklim yang akan disampaikan salah satunya yakni akses informasi cuaca dan iklim dari android di situs BMKG. Sehingga para petani akan melihat update informasi cuaca secara riil dan kontinyu.

“Kami yakin informasi cuaca dan iklim BMKG sangat valid. Pranoto mongso yang ada dapat digunakan sebagai pendamping karena dalam anomali iklim pranoto mongso kurang sesuai. Selain itu salah satu tanaman pokok di Rongkop adalah ubi kayu yang belum tergarap pasca panennya,”jelas Reni.

Lanjutnya dengan pendampingan olahan ubi kayu akan memberi nilai tambah secara ekonomi, sehingga apabila diterapkan petani dapat berperan dalam mendukung ketahanan ekonomi masyarakat

“Petani yang sudah bisa membaca ramalan cuaca dan iklim yang terkini atau up date dapat disebar luaskan ke petani lainnya,”terangnya.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian Dan Pangan Kabupaten Gunungkidul Bambang Wisnu Broto mengungkapkan bahwa mempelajari cuaca dan iklim bagi petani sangat penting. SLI Operasional akan menambah wawasan pengetahuan bagi petani dalam mencari rujukan tentang cuaca dan iklim dalam usaha taninya selain faktor produksi seperti pupuk dan benih.

“SLI Operasional diharapkan meningkat pengetahuan iklim dan menerapkan dalam antisipasi fenomena anomali iklim dalam usaha taninya. Salah satu alat ukur iklim adalah prediksi jumlah curah hujan untuk menentukan komoditas dan waktu tanam,”kata Bambang.

170 views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *