IMG 20201006 WA0050

Profesor Sutrisna Wibawa Bakal Bangun Peternakan Terintegrasi Di Kabupaten Gunungkidul

Patuk, (kupass.com)–Calon Bupati Gunungkidul nomor urut 1 Profesor Sutrisna Wibawa berencana membangun peternakan terintegrasi di seluruh wilayah Kabupaten Gunungkidul. Rencana tersebut disampaikan Sutrisna saat melakukan kunjungan kepada kelompok ternak Kambing Purbaya yang berlokasi di Padukuhan Nglanggeran Wetan, Kalurahan Nglanggeran, Keoanewon Patuk, Selasa (06/10/2020).

Profesor Sutrisna Wibawa bersama kelompok ternak Purbaya

Profesor Sutrisna Wibawa bersama kelompok ternak Purbaya

Saat melakukan kunjungan, Sutrisna mengatakan Kelompok Ternak Purbaya telah mampu membuat produk turunan berupa yoghurt, susu pasteurisasi, karamel, hingga coklat dan dodol yang harganya jauh lebih tinggi dibanding menjual susu mentah. Penjualannya pun melalui melalui online dan eduwisata bidang peternakan yang mereka bangun sendiri.

“Didampingi inkubator bisnis berbasis “Kampus Desa”, sejak tahun 2012 puluhan peternak disini telah berkelompok agar memiliki kambing jenis unggul yaitu kambing etawa. Ini merupakan contoh konkrit dari pendampingan Kampus Desa untuk dunia peternakan, dan pembangunan peternakan terintegrasi.

Baca Juga:  Diusung Partai Nasdem Sebagai Wakil Bupati, Martanty Belum Mundur Dari Golkar

Pria yang lahir di Sokoliman, Kelurahan Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo itu menambahkan, harapan baru Gunungkidul maju dapat dimulai salah satunya dengan pengelolaan peternakan yang cerdas seperti yang dijalani kelompok ternak Purbaya.

“Kita bakal kembangkan ternak seperti ini di penjuru Gunungkidul,”terangnya.

Menurut Sutrisna, peternakan terintegrasi bukan berarti ternaknya dimiliki segelintir orang saja. Namun seperti kelompok ternak Purbaya, seluruh anggota memiliki kambingnya masing-masing, mereka juga tidak perlu memiliki kandang sendiri-sendiri. Pelaksanaan perawatan ternak pun dilakukan dengan cara berkolaborasi dalam hal perawatan dan pengolahan. Peternak bergantian menjaga kambing dengan sistem piket. Mereka juga bergiliran membantu dalam pembuatan produk turunan.

“Kandangnya bergabung menjadi satu, tapi kambingnya milik sendiri-sendiri. Ini efisien,” ujar Sutrisna.

86 views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *