Bahaya Perundungan “Bullying” pada Anak dalam Lingkungan Keluarga

Foto Istimewa
Foto Istimewa

Yogyakarta, (kupass.com)–
Membicarakan tentang keluarga, keluarga merupakan wadah pendidikan pertama dan utama dalam sejarah hidup seorang anak, yang mana keluarga amat berperan dalam pembentukan karakter anak. Suasana keluarga yang baik, adem ayem, dan harmonis merupakan modal terciptanya karakter anak yang kuat disertai jiwa yang baik.

Apalagi jika koordinasi dan komunikasi dua arah antara orang tua dengan anak terjalin apik. Dr. Ir. Fransina S Latumahina, S.Hut., MP.IPU dalam bukunya yang berjudul “Jejak-Jejak Pengabdian Anak Negeri di Bumi Tengah-Tengah” mengungkapkan 6 peran penting keluarga pada pendidikan anak yaitu:

1) pembentukan karakter anak.
2) perkembangan kognitif anak.
3) perkembangan sosial anak.
4) perkembangan moral anak.
5) perkembangan mendidik anak.
6) perkembangan kreativitas anak.
Peran penting keluarga akan berjalan dengan paripurna apabila jauh dari adanya kekerasan. Darosy Endah Hyoscyamina dalam jurnal fakultas psikologi UNDIP menuturkan keluarga tanpa kekerasan merupakan salah satu solusi efektif untuk membuat seorang anak merasa nyaman, damai, dan tentram di rumah. Namun apabila dalam lingkungan keluarga mendidik anak dengan tindak kekerasan salah satunya lewat “Bullying” hal tersebut hanyalah sia-sia belaka.

“Bullying” atau perundungan didefinisikan sebagai suatu perbuatan agresif yang disengaja dilakukan oleh individu atau kelompok pada seseorang yang tidak berdaya membela diri (Olwelus dalam Fatoni dan Situmorang dalam buku “Remaja dan Perilaku Beresiko di Era Digital: Penguatan Peran Keluarga”). Literatur yang sama juga menyebutkan bahwa latar atau tempat perundungan bisa terjadi dimana saja salah satunya di lingkungan keluarga.

Perundungan yang terjadi dalam keluarga lebih banyak berasal dari sikap orang tua ayah atau ibu terhadap anak. Jenis perundungan yang sering dialami anak biasanya perundungan secara verbal seperti dimaki, dicemooh, dibanding-bandingkan dengan orang lain, dan dihardik. Hal tersebut sangat tidak lazim dilakukan apalagi fungsi keluarga salah satunya sebagai pengayom dan pelindung bagi anak. Apa yang akan terjadi apabila di luar rumah anak mendapatkan perundungan dari teman-temannya kemudian diperparah dengan tindakan perundungan dari kedua orang tuanya.

Costello dan Wolke dalam bukunya menyebutkan bahwa anak yang menjadi korban perundungan memiliki resiko depresi yang lebih tinggi saat remaja, jika dibandingkan dengan anak yang tidak pernah menjadi korban perundungan. Lebih parahnya lagi korban perundungan ada kecenderungan untuk melakukan bunuh diri.

Hal tersebut dapat dihindari apabila keluarga melakukan berbagai upaya preventif. Salah satunya yaitu dengan menciptakan lingkungan keluarga yang sakinah. Kelurga sakinah dalam artian keluarga yang memiliki tingkat spiritual tinggi, mampu dalam mengontrol emosi, dan mempunyai waktu quality time yang lebih antara orang tua dan anak. Sehingga ikatan antara anak dan orang tua terjalin erat seperti halnya saling bercengkerama bersama mengisi pikiran guna menunjang keberhasilan anak baik dalam pendidikan maupun sosialnya.

Penulis : Muhammad Kurnia Ghani, S.Pd

Mahasiswa PPG Prajabatan Universitas Ahmad Dahlan 2022

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.