Populasi Terbesar di DIY, Gunungkidul Dipilih Menjadi Pengembangan Swasembada Sapi

  • Bagikan
IMG 20210825 WA0015
IMG 20210825 WA0015

Wonosari, (kupass.com)– Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementrian Pertanian Republik Indonesia melaksanakan kunjungan kerja di kelompok ternak Kabupaten Gunungkidul, Selasa (24/08/2021). Gunungkidul dipilih menjadi swasembada sapi lantaran dianggap menjadi populasi terbesar di DIY.

Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementrian Pertanian Agus Sunanto, mengatakan bahwa, kedatangannya ke Kabupaten Gunungkidul bertujuan untuk kunjungan kerja menyampaikan program pertanian terkait swasembada sapi dan memonitoring kegiatan yang sudah diberikan.

Program yang dimaksudnya yakni penanaman hijauan ternak di wilayah Kapanewon Wonosari untuk selanjutnya bakal dikembangkan di Indonesia.

“Saya ke Gunungkidul dapat tugas dari pimpinan untuk menyampaikan program pertanian, terkait swasembada sapi. Yang kedua adalah memonitoring kegiatan yang sudah terdahulu pertama yakni penanaman pakan hijauan ternak,”bebernya, Rabu (25/08/2021).

Didampingi Wakil Bupati Gunungkidul Heri Susanto, Agus melakukan peninjauan langsung di hamparan tanah seluas 10 hektar yang ditanami pakan ternak jenis jagung. Rombongan juga meninjau 2 lokasi kelompok ternak yakni Ngudi Sari di Kalurahan Karangrejek dan Ngudi Rejeki di Kalurahan Nglipar.

Baca Juga:  Jalankan Fungsi Legeslasi, Dewan Ramai - ramai Sosialisasikan Perda

Kelompok ternak Ngudi Sari yang berdiri tahun 2013 lalu itu disebut Agus mendapat bantuan sejumlah 70 ekor Sapi jenis PO. Dari bantuan ini, kelompok ternak yang beranggotakan 37 orang itu mampu mengembangbiakkan sebanyak 251 ekor.

“Tentunya kita ketahui bahwa kebutuhan sapi impor dari Australia masih sangat tinggi sekali. Saat ini sekarang harga sapi impor selalu naik sehingga kita masyarakat Indonesia bagaimana mengurangi impor sapi ini,”bebernya.

Agus juga menambahkan harapan kedepan peternakan bisa berkembang dan bisa mencukupi kebutuhan daging sendiri tanpa harus impor.

“Sampai saat ini kita tadi diskusi peternak hanya mampu 2 ekor per peternak, harapan kami bisa lebih karena akan lebih bagus jika jumlah penduduk lebih kecil daripada sapinya. Harapan kita peternakan berkembang penduduk juga berkembang jadi bisa mencukupi kebutuhan daging sendiri tanpa harus impor,”tandasnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *