Kisah Pertengkaran Sahabat Abu Bakar Dengan Rabi’ah Aslami

  • Bagikan
Foto Istimewa
Foto Istimewa

kupass.com
Telah menjadi kesepakatan bahwa sahabat Abu Bakar r.a adalah orang yang paling utama di kalangan ahli Sunnah dari seluruh manusia manapun di dunia ini selain Anbiya alaihimus salam. Begitu tingginya keimanan beliau, sehingga Rasulullah SAW sendiri telah memberitakan kepadanya kabar gembira bahwa ia akan menjadi pemimpin jama’ah di surga nanti. Semua pintu surga akan memanggil – manggil namanya dan diberikan kabar gembira kepadanya.

Rasulullah SAW pernah bersabda, dari kalangan umatku, yang paling dahulu masuk surga adalah Abu Bakar r.a. “Meskipun demikian Abu Bakar justru mengatakan, “Alangkah baiknya jika aku menjadi Sebatang Pohon yang akhirnya ditebang dan dijadikan kayu bakar.

Pada saat lainnya ia pernah berkata, Alangkah baiknya jika aku menjadi rumput saja yang akan dimakan oleh binatang binatang ternak. Terkadang ia berkata, “Alangkah baiknya jika aku hanya menjadi rambut seorang mukmin.

Suatu saat ia pernah berada di dalam sebuah taman tidak jauh darinya ada seekor burung yang bertengger. Abu Bakar berkata, “Wahai burung alangkah nikmatnya kamu. Kamu makan minum dan berterbangan di antara pepohonan, tetapi di akhirat, tidak akan ada kitab hisab bagimu. Seandainya Abu Bakar menjadi sepertimu.

Rabi’ah Aslami r.a pernah bercerita pada suatu saat aku pernah bertengkar dengan Abu Bakar. Ia telah mengucapkan perkataan kasar kepadaku. Tetapi saya diamkan saja.

Tidak lama kemudian, ia menyadari kesalahannya. Maka ia pun berkata kepadaku, ucapkanlah kepadaku perkataan yang kasar sehingga akan menjadi balasan bagiku.

Tetapi Aku menolaknya. Ia berkata, “Kamu harus mengucapkannya, kalau tidak, aku akan menemui Rasulullah SAW untuk mengadukan hal ini. Aku tetap tidak menjawab sepatah kata pun atas perkataannya itu.

Baca Juga:  Akhlak Dan Ukuwah Islamiyah Yang Kuat, Sinergikan Kepemimpinan Dan Ekonomi

Kemudian ia bangun dan pergi meninggalkanku. Ketika itu ada beberapa orang dari Banu Aslam yang menyaksikan kejadian di atas.
Mereka berkata, orang ini aneh sekali. Dia sendiri memulainya, dan ia sendiri yang mengadukannya kepada Rasulullah SAW.

Aku berkata, Tahukah kamu siapakah dia? Dialah Abu Bakar, Jika kamu menyakitinya, berarti kamu menyakiti Rasulullah SAW. Barangsiapa yang menyakiti Rasulullah SAW berarti ia telah menyakiti Allah SWT.

Jika perbuatanku telah menyakiti Allah Subhanahu Wa Ta’ala maka Siapakah yang bisa menyelamatkan kehancuran Rabi’ah ra?

Kemudian saya menemui Rasulullah SAW dan menceritakan kejadian tersebut. Beliau bersabda, kamu tidak mau membalas dan tidak mau menjawab itu sudah baik. Tetapi untuk menggembirakan hatinya, sebaiknya kamu mmengucapkanya. Semoga Allah memaafkan engkau, wahai Abu Bakar!.

Inilah contoh rasa takut kepada Allah. Hanya karena sepenggal kalimat yang sepele saja, Abu Bakar begitu takutnya akan pembalasan nanti di akhirat.

Ia sangat memikirkan dan sangat mengkhawatirkannya. Padahal beliau sendiri yang memulai dan beliau sendiri yang mengadukan halnya kepada Rasulullah SAW dengan harapan agar melalui Rasulullah SAW Rabiah r.a mau membalas perbuatannya.

Hari ini, kita saling mencaci dan dengan mudahnya. Tidak ada rasa khawatir sedikitpun pada diri kita. Bagaimanakah kita nanti di akhirat akan mendapatkan balasannya atau akan menghadapi penghisapan atas perbuatan kita tersebut. Bandingkan dengan perilaku Abu Bakar.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.