Jangan Langsung Dibuang, Popok Bayi Dapat Didaur Ulang Menjadi Barang Dengan Nilai Ekonomis

  • Bagikan
Pelatihan Pengelolaan Sampah Popok Bayi
Pelatihan Pengelolaan Sampah Popok Bayi

Bantul, (kupass.com)–Popok bayi biasanya dipergunakan sekali pakai dan akan berakhir menjadi sampah. Sampah yang menjadi limbah ini akan sulit terurai lantaran bahan utamanya terbuat dari plastik. Tidak heran jika popok bayi ini seringkali dibakar sehingga menimbulkan dampak lingkungan seperti dioksin maupun furan, sehingga mencemari lingkungan baik aliran sungai maupun laut.

Berbeda halnya dengan Kelompok Swadaya Masyarakat Pilah Berkah berada di Tegal Paduresan, Kalurahan Imogiri, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul ini. Bekerjasama dengan praktisi Popoku Berkah Banyuwangi berkomiten menjadi Duta Popok Jogja. Mereka melakukan sosialisasi dan bimbingan teknis, tata cara pengelolaan sampah berskala rumah tangga, tak terkecuali sampah jenis popok bayi.

Direktur PT Timdis Arif Solikhin
Direktur PT Timdis Arif Solikhin

Direktur PT Timdis Arif Solikhin yang menjadi narasumber sekaligus praktisi sampah mengatakan, Bimtek sekaligus edukasi kepada warga masyarakat ini bertujuan untuk mendukung program Pemerintah Kabupaten Bantul Bersih dari Sampah. Khususnya sampah popok bayi, menurut Arif dapat didaur ulang menjadi barang yang mempunyai nilai ekonomis.

“Perlu adanya penanganan khusus sehingga tidak mencemari sungai dan TPA.
Popok pada prinsipnya bisa dilakukan daur ulang sekaligus dapat pemberdayaan masyarakat. Popok bayi ini dapat dijadikan bahan peredam suara, kerajinan pernak pernik hingga bahan baku batako,” kata Arif, Minggu (16/01/2022).

Baca Juga:  Warga Karangsari Ditemukan Anaknya Gantung Diri di Teras Rumah

Kegiatan Bimtek ini disebutnya merupakan upaya mengawal konsep pemberdayaan masyarakat bidang pengelolaah sampah skala mandiri “Tuntas Pengelolaan Sampah Dari Rumah” Pihaknya berharap, dengan adanya Bimtek dan sosialisasi ini warga masyarakat nantinya dapat memahami tata kelola sampah dengan benar dengan dua program Edulink dan Weslink

“Sehingga sampah tidak bermuara di Tempat Pengolahan Akhir (TPA).
Di Indonesia hampir 99 persen TPA itu overload, salah satunya di TPA Piyungan, Bantul. Kedepan harapan kami, kawasan industri, Hotel hingga skala rumah tangga bisa mengelola sampah secara mandiri sehingga tidak berdampak pada pengelolaan sampah di TPA,” yg sering buka tutup pungkasnya.

Acara ini juga dihadiri oleh Ketua JPSM Agus Subagio, ketua KSM Pilah Berkah Yekti Murwani, Yayasan Rumah Kreatif Indonesia (YARKINDO), Mahasiswa Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta dan Ketua Eko Enzim Bantul serta salah satu perwakilan dari TPS 3R yaitu Sunyi.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.