Jejak ‘Java Coffee’ Dunia Ditemukan di Gunungkidul? Kisah Kebangkitan Kopi Gunung Gambar

Peneliti BRIN ungkap koneksi sejarah antara kebun kopi Ngawen dengan Mangkunegaran IV di era kolonial, membuka potensi besar bagi pasar kopi Yogyakarta.

WONOSARI (kupass.com) – Siapa sangka, jejak kopi legendaris “Java Coffee” yang pernah merajai pasar dunia di era kolonial Belanda kemungkinan besar ditemukan di perbukitan kering Gunungkidul. Fakta mengejutkan ini terungkap dalam sebuah talkshow tentang sejarah kopi di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispussip) Gunungkidul pada Jumat (19/9/2025) lalu.

Acara ini menghadirkan peneliti dan pekebun kopi yang mengupas tuntas sejarah dan potensi besar komoditas ini di tanah Gunungkidul.

Penemuan Mengejutkan dari Peneliti BRIN

Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Aldicky F. Amri, memaparkan temuan yang sangat menarik. Menurut risetnya, pada abad ke-19, terdapat sebuah modul dari Keraton Mangkunegaran yang membahas tentang standardisasi pengolahan dan pengelolaan kebun kopi.

“Saat itu, Mangkunegaran IV bekerja sama dengan pemerintah Hindia Belanda untuk mengelola kebun kopi dari Wonogiri, yang jejaknya kemungkinan besar sampai ke wilayah Ngawen di Gunungkidul,” jelas Dicky.

Pada masa itu, kopi dari Jawa dengan jenama “Java Coffee” merupakan salah satu pionir kopi kelas dunia setelah Brazil, dan menjadi komoditas primadona yang mendongkrak perekonomian pemerintah kolonial.

Kisah Purno Jayusman: Merawat Warisan yang Terlupakan

Jejak sejarah ini seolah terhubung kembali oleh Purno Jayusman, M.Pd., seorang pekebun kopi di Gunung Gambar, Ngawen. Pria yang akrab disapa Jayus ini menceritakan kisahnya saat pertama kali menemukan pohon-pohon kopi tua di wilayahnya pada tahun 2016.

“Saat itu, pemilik pohon mengatakan bahwa daunnya hanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Dari situlah saya mulai melihat potensi yang terlupakan,” kenang Jayus.

Kini, kebun kopi robusta yang ia kelola telah berkembang pesat dan menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari dukungan Korea Selatan pada 2018 hingga menjadi desa mitra Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 2021.

Tantangan dan Potensi Pasar yang Terbuka Lebar

Meskipun terus berkembang, Jayus mengakui banyak kendala yang dihadapi, seperti kekurangan air, hama, dan penyakit tanaman. Namun, ia terus berjuang sambil meningkatkan pengetahuan warga sekitar mengenai nilai ekonomi kopi.

Perjuangan ini sangat relevan dengan kondisi pasar saat ini. Menurut Edi Dwi Atmaja, pemilik Katamata Coffee, potensi pasar kopi masih sangat besar. “Yogyakarta saat ini hanya mampu memenuhi 20 persen kebutuhan kopinya sendiri, sisanya masih impor dari luar daerah. Ini berarti pasar kopi masih sangat terbuka lebar bagi petani lokal,” ungkapnya.

Kisah dari Gunung Gambar ini menjadi bukti bahwa di balik tantangan alam, Gunungkidul menyimpan warisan sejarah dan potensi ekonomi yang luar biasa, menunggu untuk dibangkitkan kembali.