IMG 20210221 WA0014

Sempat Gagal Dalam Pengolahan, Mocaf Asal Playen Ini Jadi Produk Andalan Gunungkidul

Playen, (kupass.com)–Sempat gagal lantaran belum memahami sepenuhnya cara pengolahan dengan benar, Kelompok Wanita Tani (KWT) Puji 21 dari Padukuhan Sumberjo, Kalurahan Ngawu, Kepanewon Playen berhasil memasarkan berbagai jenis makanan yang berbahan dasar tepung ketela atau Mocaf (modified cassava flour).

KWT Puji 21 yang dimotori oleh
Suti Rahayu ini mengatakan bahwa, ide pengolahan mocaf sendiri berawal dari tahun 2012 lalu. Namun demikian pengolahan secara masif dan berjalan stabil dimulai pada tahun 2015. Mocaf yang berbahan dasar ketela (singkong) ini menjadi salah satu bahan makanan khas dari Kabupaten Gunungkidul.

“Sempat beberapa kali gagal, baik dari pengolahan bahan sampai pembuatan produknya,” tutur Suti kepada wartawan, Minggu (21/02/2021).

Menurut Suti, kegagalan itu terjadi lantaran pada awalnya semua dikerjakan secara manual. Selain itu anggota KWT yang merupakan ibu – ibu saat itu belum memahami sepenuhnya cara mengolah mocaf yang benar. Hal tersebut tidak mebuat mereka putus asa, KWT kemudian mengikuti berbagai pelatihan hingga meminta bantuan kesejumlah instansi terkait.

“Dari yang awalnya mengolah hanya dengan tangan, kini pengolahan banyak dengan mesin. Selain proses jadi lebih cepat, seluruh bahan pun bisa terpakai.

Baca Juga:  Varietas Bawang Asli Gunungkidul Dapat Pengakuan Dari Kementan RI

Menurut Suti, semula banyak produk yang dibuatnya tterbuang dan basi. Namun pada akhirnya dicoba dengan cara mencari yang efisien serta lebih bertahan lama.

“Ada beberapa produk unggulan dari KWT Puji 21 yakni beras dan mie berbahan mocaf,”terangnya.

Ratusan kilo singkong yang dibeli dari petani difermentasi, dicuci, dan digiling hingga jadi tepung. Barulah dari tepung tersebut diolah menjadi berbagai bentuk makanan. Kemudian bahan itu diolah, dikukus, dan dijemut hingga kering. Produk mi menghabiskan waktu 2 hari hingga kering, sedangkan beras mocaf cukup dikeringkan selama seharian.

“Berasnya kami buat 7 varian, kalau mi sampai 12 varian rasa dengan pewarna alami,”terangnya Suti.

Beras tersebut dijual dengan harga Rp 14 ribu per setengah kilo dan Rp 20 ribu per kilogram. Sedangkan mi mulai dari Rp 3.200,00 hingga Rp 4.000,00 per bungkusnya. Selain kerjasama, penjualan juga dilakukan secara online. Penjualan produknya kini sudah mencapai luar Pulau Jawa. Kendati begitu, dia mengaku masih ada kendala dalam hal pemasaran, mengingat ongkos kirim yang lebih tinggi ketimbang harga jualnya.

“Beruntungnya kami banyak dibantu juga untuk pemasaran itu, supaya tetap lancar,” terangnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *