Yogyakarta (kupass.com) – Banyak dari warga kita yang mengetahui bahwa Kotagede merupakan sebuah kawasan yang menjadi pusat berkembangnya peradaban dan tata nilai kehidupan manusia dalam bermasyarakat, tetapi ada fakta lain yakni Kotagede menjadi salah satu kawasan cagar budaya yang telah dibangun sejak berabad-abad yang lalu pada periode pemerintahan Sultan Agung.
Dampak dan Perkembangan
Di Yogyakarta sendiri terdapat 3 kawasan cagar budaya yang memiliki arti penting dalam perjalanan Kerajaan Mataram Islam. Ketiga tempat tersebut dirangkai menjadi satu poros Mataram Islam yakni kawasan Kotagede, kawasan cagar budaya Kerta-Plered dan kawasan cagar budaya Imogiri.

Dapat dikatakan bahwa awal perkembangan Kerajaan Mataram Islam adalah Kotagede, sedangkan puncak kejayaannya adalah di kawasan cagar budaya Kerta-Plered, dan kawasan cagar budaya Imogiri menjadi tempat peristirahatan terakhir para raja.
Kotagede merupakan kawasan pemukiman yang dibangun melalui pembukaan hutan Mentaok pada abad ke-16, sebagai hadiah dari Sultan Hadiwijaya, Raja Pajang kepada Ki Ageng Pemanahan. Lokasi ini menjadi cikal bakal ibu kota Kerajaan Mataram Islam dibawah komando Panembahan Senopati.
Sebagai ibukota kerajaan, kawasan Kotagede memiliki pola ruang yang khas dengan komponen yang menunjukkan fungsi sebagai ibukota.
Terdapat gerbang utama, benteng, parit, jaringan jalan, masjid, pasar, alun-alun, keragon dan kawasan pemukiman penduduk serta lumbung dan pemakaman.
Namun saat ini yang tersisa dari peninggalan arkeologis diantaranya adalah sisa struktur benteng, parit atau saluran air, masjid agung, pasar dan pemakaman kerajaan.
Saat ini pengembangan kawasan cagar budaya Kotagede menggunakan konsep Living Museum, yakni penguatan tradisi yang masih hidup. Kisah perjalanan kerajaan Mataram Islam dengan berbagai tradisi yang masih berlangsung dalam kehidupan sosial masyarakat.
Mengapa Ini Penting
Perkembangan ini penting diperhatikan pembaca karena berkaitan langsung dengan tiga kawasan cagar budaya dan dampaknya bagi masyarakat.
