Merindu Ramadhan Bagian 2: 5 Tahapan Spiritual Menuju Puncak Lailatul Qadar

KUPASS.COM Melanjutkan pembahasan kita sebelumnya mengenai Tanda Nyata Mereka yang Merindu Ramadan, kini kita memasuki Merindu Ramadhan Bagian 2.

Disarikan dari tausiyah Ustadz Irman Muhammad Said, kerinduan terhadap Ramadan rupanya bukan sekadar perasaan emosional belaka, melainkan manifestasi kesiapan ruhiyah (spiritual). Setelah melewati fase persiapan iman, ilmu, dan maliyah (harta), detak jantung kerinduan itu lahir karena kesadaran bahwa bulan penuh ampunan akan segera tiba.

Rasulullah SAW bersabda: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi…” (H.R. Ahmad dan An-Nasa’i).

Ilustrasi tahapan spiritual merindu Ramadhan bagian 2, mulai dari syukur hingga iktikaf mengejar Lailatul Qadar.
Ilustrasi tahapan spiritual merindu Ramadhan bagian 2, mulai dari syukur hingga iktikaf mengejar Lailatul Qadar.

Lantas, bagaimana kerinduan sejati itu diwujudkan saat Ramadan telah tiba? Berikut adalah 5 tahapan spiritualnya berdasarkan tuntunan Al-Qur’an dan Hadis.

1. Melahirkan Rasa Syukur yang Mendalam

Kerinduan yang sejati melahirkan syukur, sebab tidak semua orang diberi usia dan kesempatan untuk berjumpa kembali dengan bulan suci ini. Allah SWT berfirman:

“Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (Q.S. Ibrahim: 7)

Para sahabat terdahulu bahkan berdoa selama enam bulan sebelum Ramadan agar dipertemukan dengannya, dan enam bulan setelahnya agar amal mereka diterima.

2. Menentukan Target Ibadah yang Jelas

Orang yang merindu tidak akan berjalan tanpa arah. Ia menetapkan target nyata: khatam Al-Qur’an, memperbanyak sedekah, memperbaiki shalat, dan menjaga lisan. Allah SWT menegaskan tujuan utama puasa:

“…Agar kalian bertakwa.” (Q.S. Al-Baqarah: 183)

Target ibadah di sini bukan sekadar mengejar kuantitas angka, tetapi demi peningkatan derajat takwa di hadapan Sang Pencipta.

3. Tancap Gas dalam Amal Kebaikan

Sejak hari pertama Ramadan, mereka yang rindu akan bersegera dalam kebaikan. Sesuai dengan firman Allah SWT:

“Berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (Q.S. Al-Baqarah: 148)

Rasulullah SAW adalah sosok yang paling dermawan, dan kedermawanan beliau semakin memuncak saat Ramadan tiba (H.R. Bukhari dan Muslim). Ini menunjukkan perlunya percepatan (akselerasi) amal di bulan yang suci ini.

4. Istiqomah Menjaga Ritme Ibadah

Ramadan bukanlah ajang euforia sesaat di minggu pertama saja. Kerinduan sejati menuntut konsistensi. Rasulullah SAW bersabda:

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang kontinu meskipun sedikit.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Sikap istiqomah diperlukan untuk menjaga ritme ibadah, agar semangat tidak hanya menggebu di awal, tetapi stabil dan terus menyala hingga akhir bulan.

5. Puncak Spiritual di Sepuluh Hari Terakhir

Mereka yang merindu sangat memahami bahwa sepertiga akhir Ramadan adalah klimaks spiritual. Aisyah R.A. berkata:

“Apabila masuk sepuluh hari terakhir, Rasulullah SAW mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Fokus utama beralih pada iktikaf, zakat, sedekah, qiyamullail, dan pencarian malam agung Lailatul Qadar, yang nilainya ditegaskan oleh Allah: “Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.” (Q.S. Al-Qadr: 3).

Kesimpulan: Kerinduan kepada Ramadan adalah perjalanan ruhiyah yang sistematis. Dimulai dengan syukur, diperkuat dengan target, digerakkan dengan percepatan amal, dijaga dengan istiqomah, dan dipuncaki dengan kesungguhan di akhir bulan. Mereka tidak ingin keluar dari Ramadan kecuali dalam keadaan dosa-dosanya telah diampuni.

Semoga Allah SWT mempertemukan kita dengan Ramadan dalam keadaan iman terbaik. Aamiin.